Text
Tahu apa yang lebih pedih dari gas air mata?
Yes. Gaslighting.
Dan, mungkin itulah kenapa kita terjebak di sini: di sebuah tempat, yang tak jelas di mana, tapi yang pasti: dipenuhi asap tebal dan kedap-kedip kilat.
Mengaburkan pandanganmu.
Seperti saat dia menyerangmu dengan taktik gaslighting.
Mengaburkan realitasmu.
“Kamu terlalu sensitif! Semua dijadiin masalah! Aku nggak bakal ngomong lagi!”
“Kamu tuh selalu salah nangkep! Aku nggak pernah bilang begitu!”
“Jujur, ya, aku sakit hati kamu selalu ngeliat aku paling berdosa, paling bobrok, paling salah.”
“Kamu tuh selalu mikir jelek! Ngakunya orang baik, tapi pikirannya busuk banget.”
“Kamu udah gila, ya?”
“Aku sampai bingung mana yang benar, mana yang salah, harus gimana lagi,” ucapmu, lalu terbatuk, sembari mencari jalan keluar dari asap tebal ini.
Yah, begitulah efek dari gaslighting.
Ketika dia sedang gaslighting, dia ingin memelintir realitas seakan kamu salah menangkap ini semua. Bahwa narasinyalah yang benar, narasimu salah. Just another way to control you.
Ketika dia sedang gaslighting, dia sengaja membuatmu bingung. Supaya kamu meragukan logika dan ingatanmu. Supaya kamu percaya lagi kepadanya. Sehingga dia terbebas dari kesalahan. Dan, kemudian: memudahkan dia untuk mengontrolmu sekali lagi.
Setelah ratusan langkah, akhirnya kamu dan aku terbebas dari asap tebal ini.
Sekarang, kita berada di ruangan lengang, tanpa furnitur apa pun, kecuali keramik putih usang dan lampu putih remang.
Kita berjalan mencari di mana Pintu Merah itu.
“Tapi, gimana kalau dia benar? Gimana kalau dia nggak lagi gaslighting? Gimana kalau dia memang benar? Gimana kalau aku memang salah tangkap? Gimana kalau aku memang terlalu sensitif?” tanyamu.
Sebagai seseorang yang pernah terlalu sensitif dan mudah dimanipulasi, pertanyaanmu membuatku bingung.
Bukan bingung bagaimana harus menjawabmu.
Tapi, itulah kebingungan yang dia harapkan ketika dia gaslighting.
Tapi, aku salut padamu yang masih berusaha mencari kebenaran, alih-alih hanya mau percaya pada narasimu. Itu adalah sesuatu yang orang toxic tidak mampu lakukan.
Dan, itulah kebingungan yang juga kualami beberapa tahun lalu.
Aku pernah menjadi seseorang yang terlalu sensitif, terlalu cemas, dan aku adalah sasaran empuk untuk di-gaslight.
Tapi, orang yang terlalu sensitif dan terlalu cemas seperti kita juga tidak selihai itu untuk membedakan mana gaslighting dan mana realitas yang sesungguhnya. Karena, dulu, aku pernah menuduh seseorang gaslighting kepadaku, ketika dia sebenarnya memberi tahu kebenaran (meski dengan cara yang defensif). Egoku dan sensitivitasku tak mau menerima itu. Sapu bersih menganggapnya gaslighting. Narasiku benar, dia hanya sedang gaslighting.
Tapi, apa?
Ternyata, hal itu malah membuatku jadi orang yang semakin toxic.
Karena aku hanya mau percaya pada narasiku dan asumsiku.
Jadi, jika aku boleh memberimu saran…
“Satu, mundur sejenak, hindari perdebatan. Jangan melabeli dia sedang gaslighting. Berusaha senetral-netralnya. Untuk melawan gaslighting seseorang, kita harus bisa netral dulu. Yang artinya: jangan terlalu percaya narasi dan asumsimu sendiri. Tapi, jangan juga terlalu percaya pada narasi dan asumsinya. Mundur sejenak, untuk kita bedah bersama-sama.”
“Oke, terus?”
“Dua, berlagak seperti jurnalis profesional. Catat semua kejadian: dari versimu dan dari versinya. Dari versimu, apa yang kamu lihat, apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu maksud, jelaskan sejelas-jelasnya dan bagaimana bisa terjadi demikian dan mengapa begitu. Lalu, tuliskan juga versinya. Tuliskan di jurnal rahasiamu. Agar kita bisa melihat: Adakah cerita yang inkonsisten di sini? Apakah versimu adalah asumsi tanpa bukti? Apakah versinya adalah asumsi tanpa bukti? Kumpulkan bukti-buktinya. Dan, tetaplah netral, jangan terlalu condong kepada versimu, jika kamu memang ingin mencari kebenaran.”
“Tapi, gimana kalau aku masih bingung?”