Text
“Tapi, gimana kalau aku masih bingung?”
“Maka, langkah ketiga, cek track record dia. Apakah, sebelumnya, dia sudah sering berbohong? Apakah kebohongannya terbukti? Atau, itu cuma perasaanmu? Apakah dia sering menyangkal segala masukan? Apakah dia sering merasa tidak bersalah padahal dia jelas-jelas salah? Dan, kalau disebutkan kesalahannya dengan lembut, dia malah marah-marah seakan kamu menyerangnya? Tapi, kamu tidak bisa memukul palu pengadilan sampai di sini, karena…”
“Karena apa?”
“Empat, kamu juga harus perhatikan: Apakah dia masih mau mendengar versimu? Atau, dia benar-benar berusaha menjelaskan versinya dan tidak memberimu kesempatan berbicara sama sekali seakan ada yang dia tutupi?”
“Terus harus apa lagi?”
“Lima, kamu butuh kepala lain untuk memikirkan ini secara adil dan bijaksana. Sampaikan cerita ini kepada seseorang yang kamu percaya, sekiranya bisa bijak dan tidak condong ke salah satu pihak. Bisa satu, dua, atau beberapa kepala. Ingat, bukan untuk mencari dukungan moral — karena itu yang biasa dilakukan orang toxic saat playing victim. Kamu melakukan ini untuk mencari kebenaran. Tapi, bukan berarti kamu tidak boleh mencari support. Jika kamu memang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan bukan pembelaan, dukungan itu akan selalu ada, insyaallah.”
“Oke, ada lagi?”
“Enam, laporkan pula kronologisnya kepada Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui, meskipun Dia sudah tahu semuanya, tapi laporkanlah, tumpahkanlah rasa bingung ini, dan berharaplah semoga Allah menunjukkanmu kebenaran yang sesungguhnya. Karena, satu-dua kepala yang membantumu tetaplah manusia biasa yang bisa keliru dalam menafsirkan situasi, tapi Allah tahu segalanya, dan Dia mampu menunjukkanmu kebenaran yang sesungguhnya.”
“Oke, misal, aku udah lakukan itu semua, dan ketahuan kalau dia ternyata cuma gaslighting, selanjutnya… aku harus gimana?”
“Sudah, jangan klarifikasi lagi. Nggak akan ada habisnya.”
“Nanti dia malah merasa benar?”
“Tapi, kamu juga nggak akan bisa membuatnya setuju padamu. Dia hanya ingin percaya narasinya. Kamu juga nggak bisa memaksa dia percaya narasimu meski itu yang benar.”
“Terus gimana?”
Sebentar, kupikirkan sejenak.
Karena hal-hal seperti ‘aku harus gimana’ tak bisa selalu digeneralisir.
Mungkin, kamu harus melihat lagi apakah ini benar-benar gaslighting atau sekadar miskomunikasi?
Tapi, aku tak bisa juga menyederhanakan ini: karena bisa jadi ini memang gaslighting, dan ini kejam, dan, mungkin, ini adalah tanda paling terang untuk mundur. Kalau tidak, seumur hidupmu, kamu akan dimanipulasi.
Tapi, hal-hal seperti ini, kamu lebih tahu daripada aku. Dan, Allah selalu lebih tahu. Jadi, serahkan juga kepada Allah.
And I trust you on that.
Kita lanjut melangkah, melangkah, dan melangkah. Dalam diam.
Mungkin, dalam kepalamu, kamu sedang melawan argumen-argumen gaslighting itu.
“Kamu terlalu sensitif! Semua dijadiin masalah! Aku nggak bakal ngomong lagi!” — Oke, tentu, aku akan terus belajar mengontrol sensitivitas ini, tapi ada hal-hal yang, meskipun kamu sensitif atau tidak, tetaplah menyakitkan. Kita harus sama-sama belajar. Aku mengontrol sensitivitasku, kamu mengontrol cara-caramu yang menyakitkan.
“Kamu tuh selalu salah nangkep! Aku nggak pernah bilang begitu!” — Jika aku memang salah tangkap, aku minta maaf. Harusnya aku tidak mengira begitu. Aku hanya ingin kejelasan. Kita bicara baik-baik. Aku tidak dengan nada menuduhku, kamu tidak dengan nada menyerangmu.
“Jujur, ya, aku sakit hati kamu selalu ngeliat aku paling berdosa, paling bobrok, paling salah.” — Tolong jangan pelintir sumber permasalahan utama. Dan, aku tidak pernah bilang begitu, tidak pernah melihat seperti itu. Itu adalah asumsimu. Mari kembali ke permasalahan utama.
“Kamu tuh selalu mikir jelek! Ngakunya orang baik, tapi pikirannya busuk banget.” — Mungkin, kita butuh lebih jujur dan terbuka dan berpikiran baik terhadap satu sama lain. Termasuk juga aku. Termasuk juga kamu. Ini adalah contoh kamu berpikiran jelek tentang aku seakan-akan aku selalu berpikir buruk tentangmu, tapi bukan itu masalahnya. Kita kembali ke masalah utama.
“Kamu udah gila, ya?” — Bagaimana aku tidak gila jika kamu memutar cerita sampai aku tak tahu mana yang benar dan mana yang salah?
Setelah langkah-langkah panjang, kita melihatnya.
Pintu Merah itu.
Di sana, tertulis ‘Ruang Simulasi Passive Aggressive.’
Saat kamu membuka pintunya, petir menyambar kencang.