Text
Pertama, akui dulu apa yang kamu rasakan. Apa yang kamu rasakan setelah mendengar cemoohan itu? Marah? Sedih? Malu? Tuangkan semua di kertas atau jurnal sampai kamu merasa lebih ringan. Karena perasaan yang tak diakui akan terus menghantuimu. Setelah itu, tanyakan kepada dirimu: Kenapa aku merasa demikian?
Kedua, kita harus bisa membedakan mana cemoohan dan mana kritikan. Jangan semua kritikan—yang seringkali terdengar pahit, tapi bisa membuat kita berkembang—kita tebas sebagai cemoohan. Pahami motif: dia yang bermasalah atau memang kita yang ada salah? Dia mengomentari beberapa perilakumu atau mengecap buruknya dirimu? Jika dia menyerang seluruh dirimu seakan semua yang ada padamu adalah salah, this person just wants to mess you up, don’t trust them. Tapi, jika dia mengomentari perilakumu atau kebiasaanmu yang ternyata salah, jadikan itu bahan perbaikan. Tersinggung wajar. Namun, jangan sampai ego kita melindungi diri ini terlalu besar sampai-sampai mencegah kita dari menjadi orang yang lebih baik.
Ketiga, tak semua kritikan harus direspons atau diikuti. Kadang, ada seseorang yang suka mengomentari segala sesuatu. Perilaku kita, kebiasaan kita, cara kita duduk, cara kita berdiri, cara kita menyapu—semua dikomentari. Orang-orang seperti ini, tak perlu selalu kita respons. Cukup iya, iya, iya saja. Karena akan sangat melelahkan berdebat dengan mereka.
Keempat, sangat penting untuk tahu apa alasanmu melakukan demikian dan demikian. Bukan sebagai justifikasi atas suatu kesalahan, tapi agar apa yang kamu lakukan punya makna yang mendalam, lalu jika ada seseorang mengkritiknya, you know your reasons.
Kelima, aku ingin kamu mengambil pena dan jurnal kosongmu, lalu tuliskan apa saja kelebihan dan kualitas dalam dirimu. Jauhkan ponselmu. Benar-benar pikirkan. Apa saja yang kamu suka dari dirimu? Tanya ke orang-orang terdekat. Jadi, ketika seseorang berkata buruk tentangmu, dan jika itu memang benar, setidaknya, kamu ingat bahwa masih ada hal-hal baik dalam dirimu. (Lebih baik kalau kamu barengi dengan menuliskan apa saja yang butuh diperbaiki dalam dirimu agar seimbang, agar kamu tak terlalu menjunjung tinggi dirimu seperti orang-orang narsistik itu.)
Keenam, kadang, kata-kata menyakitkan sangat berbekas di hati, meninggalkan luka, membuat kita memandang buruk diri sendiri. Maka, ketika dia memberi kata-kata menyakitkan, jangan telan begitu saja. Belajar bantah dari dalam hati dan beri dirimu harapan yang berkebalikan atas apa yang dia katakan.
Tapi, tak sampai di situ saja.
Ketujuh, kita harus belajar memproses kata-kata menyakitkan itu. Yang artinya, kita juga tak boleh merasa tinggi dan bersinar dan menolak berbagai kata-kata menyakitkan itu. Bagaimana kalau ada benarnya? Kadang, sesuatu yang terlalu benar bisa terasa terlalu sakit.
Alismu mengerut. Seakan tak setuju. “Kalau begitu, harusnya dia menyampaikannya dengan lembut supaya aku tidak sakit hati?”
“Benar. Harusnya begitu. Tapi, seringkali, kita tidak bisa menghendaki dunia berjalan seperti yang kita inginkan. Untuk mencari emas, kita harus menggali tanah, menyisirnya pelan-pelan, mengumpulkan titik-titik emas, alih-alih mendapatkan bongkahan emas langsung. Sama dengan kata-kata menyakitkan itu. Aku nggak membenarkannya. Itu tetap salah. Tapi, kita butuh belajar mengolahnya. Menyaringnya. Menjadikannya bahan baku untuk pengembangan diri. Jadi, tidak peduli apakah dia menyampaikan ini untuk menyakiti kamu atau tidak, kamu akan selalu mencari cara untuk berkembang dari sana.”
Seakan kamu bisa bilang kepada mereka,
“Lemparkan kata-kata menyakitkanmu, aku akan menjadikannya bahan untuk taman yang indah dalam hidupku.”
Seperti taman yang indah ini. Tak bisa indah jika tak ada hal-hal mengerikan, menjijikan, menyakitkan. Seperti bunga mawar dan durinya, kupu-kupu dan ulat-ulat di dahan, burung-burung yang berterbangan dan cacing-cacing di bawah tanah, angin yang segar dan semilir aroma pupuk.
Jadi, anggap saja kata-kata menyakitkan mereka adalah durinya, ulat-ulatnya, cacing-cacingnya, aroma pupuknya, tapi kita butuh semua ekosistem itu untuk menghasilkan taman yang indah ini.
“Terakhir, kamu juga perlu ingat bahwa kata-kata menyakitkan yang dia sampaikan tidak selalu merefleksikan dirimu. Seringkali, itu merefleksikan dirinya sendiri: keburukannya, kecemburuannya, kegagalannya.”
Seiring aku dan kamu berjalan di bawah teduhnya pepohonan jeruk ini, dalam kepalamu, kamu menjawab segala kata-kata menyakitkan itu.
“Kamu tuh nggak pernah bikin bangga.” — You watch me, and you’ll regret this. Dan, aku tak punya kewajiban untuk membuatmu bangga, you only demanded me, only critized me, never showed me how.
“Kamu tuh nyusahin banget.” —Tenang, aku sedang belajar tidak membutuhkanmu. Sebentar lagi, kamu bebas. Dan, sebentar lagi, aku lebih bebas.
“Nggak ada orang yang mau sama orang lemah kayak kamu.” — Setuju, dan aku sedang belajar menjadi lebih kuat untuk diriku sendiri. Tapi, aku juga punya kualitas yang lain, sayangnya kamu hanya mau melihat sisi lemahku, but that’s okay—no, it’s not okay, but, whatever, I don’t want to expect you anything anymore.
“Mimpimu ketinggian. Aku nggak yakin kamu bisa.” —Minim keyakinan itu masalahmu, bukan takdirku.
“Nggak mungkin kamu bisa sukses kayak gitu.” — Apa pun ucapanmu tidak akan mengubah nasib masa depanku.
“Yang lebih pintar aja gagal, apalagi kamu?” — At least, aku gagal setelah mencoba, bukan gagal karena nggak pernah mencoba.
Dan, seperti yang sudah-sudah, Pintu Merah muncul di ujung taman ini. Bertuliskan ‘Ruang Simulasi Gaslighting’.
Dari ujung bawah pintu itu, keluar semacam… asap? Gas?
Kamu buru-buru membuka pintu, dan asap tebal melahap kita.