25. Kata-Kata yang Menyakitkan? Oh, Itu Bakatnya…

Jika ada satu hal yang lebih tajam dari pisau, itu bukan duri bunga mawar, bukan pecahan kaca, bukan tepian kertas.

Mulutnya dan kata-kata menyakitkannya, itulah yang lebih tajam.

“Kamu tuh nggak pernah bikin bangga.”

“Kamu tuh nyusahin banget.”

“Nggak ada orang yang mau sama orang lemah kayak kamu.”

“Mimpimu ketinggian. Aku nggak yakin kamu bisa.”

“Nggak mungkin kamu bisa sukses kayak gitu.”

“Yang lebih pinter aja gagal, apalagi kamu?”

Sekarang, kita berada di taman yang… terlihat normal-normal saja.

Saat kamu menengadahkan wajahmu ke langit, pohon-pohon menjuntai ranting-ranting dan dedaunan lebat dan buah-buah jeruk. Sinar matahari menelusup lewat celah-celah dedaunan.

Saat kamu menundukkan kepala, rerumputan hijau segar menjadi karpetnya.

Saat kamu mengarahkan tatapan ke depan, selain langit biru, kamu juga melihat semak-semak dan bunga-bunga dengan berbagai warna. Merah, ungu, kuning, merah muda.

Kamu memetik setangkai bunga mawar. Durinya menusuk telunjukmu. Lalu, kamu teringat kata-kata menusuk yang sering diucapkannya.

“Dia kalau ngomong, bikin sakit hati banget,” katamu.

Aku benci terdengar seperti penyair atau orang bijak, tapi aku tidak bisa tidak berkata,

“Ketika sesuatu terlalu bersinar, orang-orang akan selalu berusaha memblokade cahayanya. Mungkin, sinarmu sedikit terlalu terang untuknya sampai-sampai menelanjangi segala kegagalan dan insecurity dalam dirinya. Dan, dia tidak suka itu. Jadi, dia berusaha meredam sinarmu dengan melemparkan kata-kata menyakitkan itu. Berharap itu meredam potensimu.

“Dan, ketika dia berusaha menyakitimu dengan kata-katanya, mungkin, karena dia sadar kamu berada di posisi yang sedikit lebih tinggi, dan dia tidak suka itu, jadi dia berusaha menurunkan levelmu dengan melempar kata-kata menyakitkan itu, berharap kamu mematikan potensimu sendiri.

“Dan, kalau dipikir-pikir, kisah suksesmu akan terasa lebih seru dan berwarna dan menginspirasi ketika ada orang-orang yang berusaha merendahkan kamu, tapi kamu tetap bersinar terang. This is all for the plot.

“Sebentar, sebentar—” potongmu, “Kok malah terdengar narsistik, ya?”

Aku tertawa. Lalu, tiba-tiba, aku tersedak oleh tawaku sendiri. Karena apa yang baru saja kamu katakan terdengar sangat benar. Aku tak ingin serupa seperti orang narsistik.

“Kamu tuh merasa kayak… apa pun yang kalian bilang, I’m better than you. Itu jadi agak sombong nggak, sih? Bukankah itu cara dia berpikir?” tambahmu.

“Tapi, maksudku bukan begitu—” Tapi, aku paham kenapa kamu berkata demikian.

Selama ini, setiap kali seseorang menjatuhkanku dengan kata-kata menyakitkan, aku buru-buru membantah kalimat itu di dalam hatiku. Aku tidak ingin seperti apa yang dia katakan. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa aku lebih baik dari apa yang dia katakan. Aku hanya ingin memberi harapan bahwa aku tak seburuk itu. Bahkan, seringkali, aku berkata kepada diriku: Semakin kamu menjatuhkanku, semakin aku yakin akan melambung tinggi.

Hanya untuk meredam kata-kata menyakitkan itu.

Agar aku bisa merasa lebih baik.

Namun, sekarang, aku sadar bahwa caraku meninggikan diriku sama saja dengan caranya merendahkan diriku.

Sama-sama ekstrem.

Sama-sama untuk merasa lebih tinggi.

Sama-sama untuk merasa lebih baik.

Sekadar kata-kata. Tanpa peduli the real inner work.

Tapi, mungkin itu defensifku, mungkin itu cara orang1-orang yang terluka, sebagaimana dia dengan kata-kata menyakitkannya, karena dia juga defensif pada kenyataan, dan sebenarnya dia juga orang-orang yang terluka. Namun, aku tak ingin selamanya jadi orang yang defensif dan terluka seperti itu.

So, I took my time and learned a few things…

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed