Text
“Pertama, jangan biarkan seorang pun menggunakan kebaikannya menjadi utang yang seakan harus kamu bayar,” ungkapku.
Karena, jika kebaikan masa lalu digunakan untuk mengontrol kita, jika kebaikan masa lalu digunakan untuk menutupi masalah yang lebih besar, jika kebaikan masa lalu digunakan untuk membungkam perasaan kita, dan jika kebaikan masa lalu dianggap sebagai utang masa depan, itu manipulatif. Dan, itu yang sedang dia lakukan.
Jangan terkecoh. Kamu memiliki hati yang lembut, dan hati lembut sepertimu sangat mudah dimanipulasi — jangan biarkan dirimu terpenjara lagi dalam manipulasi ini.
Jangan terpancing. Biarkan dia dengan strategi guilt-tripping-nya. Dan, kamu dengan keteguhanmu.
Bahwa kamu tidak pernah melupakan kebaikan dia. Bahwa kamu sungguh berterima kasih. Tapi, jika kebaikan digunakan untuk mengontrol keputusanmu atau perilakumu, mohon maaf, kamu harus mengambil jarak.
Tapi, kita juga harus berhati-hati agar tidak terjebak sebagai pelaku guilt-tripping.
Karena guilt-tripping adalah strategi favorit orang-orang lemah.
Termasuk aku.
Ini sisi toxic dan manipulatifku dulu. Dan, aku malu mengungkapkan ini.
Tapi, aku butuh menyampaikan ini kepadamu supaya kamu tidak menjadi korban maupun pelaku.
Pada dasarnya, kita selalu ingin menunjukkan bahwa kita yang paling berjuang.
Mungkin, karena kita ingin dihargai.
Dan, itu sangat manusiawi.
Tapi, ketika kita menuntut penghargaan dari kebaikan yang kita lakukan, itu juga belum tulus.
Selama ini, tanpa kita sadari, ketika kita berlaku baik kepada seseorang, seakan kita sedang berinvestasi, mengharapkan keuntungan atau kebaikan darinya. Mungkin, itulah kenapa kita sering kecewa. Seakan kebaikan kita tersia-siakan. Sehingga keluarlah ucapan-ucapan guilt-tripping dari bibir-bibir kita.
Meski kita tak berniat guilt-tripping.
Kita hanya ingin dianggap ada.
Namun, jika kita terbiasa mengganggap kebaikan sebagai transaksi, kita akan selalu diliputi kecewa.
Karena kebaikan tidak bekerja seperti itu.
Maka, setiap kali kamu sedang berbuat baik kepada seseorang, penting untuk berbisik kepada dirimu sendiri,
“Aku berbuat baik kepadamu, bukan karena aku mengharapkan sesuatu darimu. Aku berbuat baik karena aku memang ingin berbaik hati, menjadi manusia yang bermoral, that’s who I want to be. Aku berbuat baik karena ada kelegaan tersendiri dalam melakukan kebaikan. Aku berbuat baik karena aku ingin memiliki kontribusi kecil di dunia yang kejam ini. Aku berbuat baik, berharap ini bisa menjadi inspirasi dan warisan sederhana untuk seseorang di luar sana, bahwa di tengah dunia yang kacau, kita tetap bisa jadi orang yang baik. Dan, aku berbuat baik kepadamu, karena aku berharap Allah — Tuhan yang menciptakan aku dan kamu — memberiku kebaikan pula.”
Dan, ketulusan bukan berarti tidak mengharapkan apa-apa. Menjadi manusia—tak mudah untuk jadi tulus. Kita selalu mengharapkan sesuatu. Maka, sebaik-baiknya mengharapkan kebaikan, ya, hanya dari Allah, Tuhan yang Maha Pemberi, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Tak sampai di situ saja.
Ketika seseorang begitu menumpahkan kebaikan kepadamu, berterimakasihlah, hargailah, tapi berhati-hatilah pula dalam menerimanya. Karena ada beberapa orang yang terlihat baik, tapi sebenarnya sedang mencari sesuatu dari dirimu.
Dan, jika tidak mendapatkannya, dia bisa menganggap kebaikannya adalah utang yang harus kamu bayar.
Tapi, bukan berarti kita menolak kebaikan mentah-mentah juga. Tidak semua manusia selicik itu. Kita hanya perlu berhati-hati agar terhindar dari orang toxic dengan segala taktik guilt-tripping darinya.
Oh, aku bicara terlalu banyak. Pintu Merah itu tiba-tiba muncul di belakangmu.
Setelah mendengar ini semua, rasanya lebih mudah terlepas dari pasir isap.
Kamu mengangkat tubuhmu, berbalik arah sambil mendengar berbagai ucapan guilt-tripping darinya, tapi kamu tak lagi terisap karena, dalam kepalamu, kamu menjawab setiap guilt–tripping itu:
“Kamu bikin aku kecewa, padahal maksud aku nggak gitu.” — Aku mohon maaf membuatmu kecewa. Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu kecewa. Aku hanya ingin komunikasi dan cari solusi, bukan menyerang kamu. Tapi, kamu selalu menganggap demikian.
“Selama ini, kamu nggak pernah nganggep usaha aku.” — Dengan bilang begitu, kamu juga nggak menganggap keberadaanku dan segala usahaku. Karena kalau aku nggak pernah menganggap usaha kamu, lantas apa makna semua ini?
“Aku, kan, cuma punya kamu.” — Tapi, kamu tidak bisa menjadikan satu orang sebagai segalanya. Aku tidak akan pernah cukup. Tentu, aku berusaha melakukan apa yang menjadi tanggungjawabku, tapi kamu tidak bisa memaksaku mengerjakan sesuatu yang di luar tanggungjawabku; tanggungjawab yang sebenarnya harus kamu kerjakan sendiri.
“Aku melakukan semua ini buat kamu.” — Terima kasih banyak, tapi apakah kamu melakukan ini hanya supaya aku berbuat sesuatu berdasarkan keinginan kamu?
“Ya, aku emang nggak penting buat kamu.” — Aku tidak pernah bilang demikian, tolong jangan memelintir ucapan hanya untuk membuatku merasa bersalah.
Tak butuh respons. Tak butuh reaksi. Tak butuh validasi.
Lalu, kamu membuka Pintu Merah bertuliskan ‘Ruang Simulasi Kata-Kata Menyakitkan’.
Sebelum kamu melangkah masuk, kamu menoleh ke belakang sekali lagi. Orang toxic itu masih berdiri di pasir isap, masih mengulang-ulang guilt-tripping-nya. Tapi, kamu sudah di tanah yang solid. Karena, sekarang, kita berada di…
… taman?