23. Guilt-Tripping? Oh, Dia Ahlinya…

Jangan adu argumen dengan orang toxic — itu sudah biasa.

Mau yang lebih menantang?

Adu siapa yang paling kasihan, paling berkorban, paling berjuang.

Kalau kamu bisa menang, aku akan memberimu standing ovation selama 24 jam penuh.

Dan, mungkin, itulah mengapa dia — orang toxic dan manipulatif — berdiri di hadapanmu. Di bawah terik matahari, di tengah… padang pasir? Ini bukan padang pasir. Tapi, kita berdiri di dataran berpasir.

Pasir isap.

Yang menenggelamkan kaki-kakimu.

Sebagaimana dia menenggelamkan kamu dengan segala guilt-tripping-nya.

Setiap guilt-tripping yang dia sebutkan, seakan mengundang pasir isap untuk semakin menenggelamkanmu.

“Kamu bikin aku kecewa, padahal maksud aku nggak gitu.”

“Selama ini, kamu nggak pernah nganggep usaha aku.”

“Aku, kan, cuma punya kamu.”

“Aku melakukan semua ini buat kamu.”

“Ya, aku emang nggak penting buat kamu.”

Sekarang, kamu sudah tenggelam seperut. 

Sebentar lagi tertelan penuh oleh segala guilt-tripping ini.

Kedua bola matamu mencariku, mencari pertolongan.

Namun, aku tak bisa menarikmu begitu saja.

Supaya bisa lepas dari pasir isap ini, kamu harus bisa lepas dari guilt-tripping ini.

Karena…

Ketika dia melakukan guilt-tripping, dia sedang berusaha memantik rasa bersalah dalam dadamu. Dan, orang-orang sepertimu sangat mudah dimanipulasi agar merasa bersalah. Jadi, dia berekspektasi kamu akan berempati kepadanya, merasa bersalah, malah kamu yang minta maaf, mengerjakan apa yang harusnya jadi tanggungjawabnya, sehingga kamu jadi lebih bisa dikontrol lagi.

“Lalu, aku harus gimana?”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed