16. TUTORIAL MENAKLUKKAN MANUSIA HOBI SILENT TREATMENT

“Pertama, kita harus pura-pura bodoh,” jawabku, sambil terus melangkah di jalanan bersalju yang menelan tumit-tumit kita.

Inilah Dunia Silent Treatment dengan dinginnya yang menggigil—you need to get used to it.

“Pura-pura bodoh? Maksudnya gimana?” tanyamu lagi.

“Orang-orang seperti kita nggak akan pernah bisa bodo amat. Jadi, kita harus belajar main cantik. Oke, misal, kamu tahu dia lagi silent treatment, simpan itu sendiri. Di depannya, kamu harus pura-pura bodoh. Pura-pura tidak tahu kalau dia lagi silent treatment. Pura-pura tidak menyadari perbedaan raut wajahnya. Pura-pura akting normal. Seakan tak terjadi apa-apa. Meski kamu tahu ada apa-apa dari tatapannya. Tapi, tetap pura-pura tidak tahu. Butuh ngobrol? Ya, ngobrol aja. Tak ada bahan obrolan? Ya, udah, jangan memaksa keadaan harus selalu ngobrol. Lemahkan senjata silent treatment ini dengan pura-pura tidak tahu kalau dia lagi silent treatment.”

“Tapi, aku nggak suka suasana saat di-silent treatment. Rasanya kayak lagi di ambang batas ketidakpastian, dan itu nggak enak banget.”

“Kayaknya, kamu tuh malah makin ngedeketin kalau dia lagi silent treatment, ya? Coba ingat-ingat.” Karena itu juga yang dulu aku lakukan. Karena aku ingin mengontrol suasana hatiku.

“Mungkin? Nggak tahu. Aku juga nggak sadar.”

“Pertama, tadi, kan, pura-pura tidak tahu, pura-pura akting normal. Kedua, jaga jarak, kasih dia ruang dan waktu untuk meregulasi pikiran dan perasaannya, kasih kamu juga ruang dan waktu untuk menjaga pikiran dan perasaanmu.”

“Jaga jarak? Tadi, katanya akting normal. Gimana, sih?”

“Iya, secara normal, tetap perlakukan dia kayak biasa aja. Tapi, biasanya kalau ngobrol sama dia pas lagi silent treatment, itu, kan, nggak enak banget, ya. Kayak ngomong sama dinding. Jadi, kalau lagi nggak butuh ngobrol, nggak usah maksain. Emang dia butuh dikasih jarak dulu. Biar dia belajar meregulasi perasaannya. Biar dia perlahan sadar bahwa tidak seorang pun bertanggungjawab atas ngambeknya. Biar dia belajar mulai berkomunikasi yang sehat.”

“Tapi, egois nggak, sih? Jadi, kayak sama-sama batu?”

“Enggak dong. Apakah kamu diemin balik? Kan, enggak. Kalau butuh ngobrol, ya kamu ngobrol. Kalau nggak butuh, ya nggak maksain juga, kan?”

“Tapi, jadi kayak ngediemin masalah nggak, sih?”

“Nah, ini yang ketiga. Kalau nggak ada komunikasi, jangan asumsi apa pun. Seringnya, tuh, kalau dia lagi silent treatment, kamu langsung mikir, “Duh, aku salah apa, ya?” Itu bagus, kok. Aku malah mengapresiasi self-awareness kamu. Aku apresiasi kamu langsung introspeksi. Itu kualitas yang indah, langka, dan baik — jangan pernah tinggalkan itu. Tapi, apakah hidupnya selalu tentang kamu? Apakah kalau dia diam, selalu karena salah kamu? Apakah kalau dia diam, itu selalu berarti lagi silent treatment? Kadang, kita juga harus sadar bahwa nggak semua diam berarti silent treatment. Ada yang diam karena nggak mau meledak marah atau mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Ada yang diam karena ada cerita gelap yang tak bisa diceritakan. Ada yang diam karena, ya, itu defensif alaminya — dia nggak bisa marah, jadi dia cuma diam. Ada yang diam karena dia butuh momen untuk memproses semuanya dulu. Tapi, ada juga orang yang dengan sadar dan sengaja menggunakan diam sebagai senjata. Untuk mengintimidasi kamu, membuat kamu tidak nyaman, mengontrol kamu. Itu toxic, manipulatif, problematik. Itu baru silent treatment.

“Terus gimana bedainnya?”

“Seringnya, kita nggak bisa benar-benar membedakannya karena, tampak luar, terlihat sama-sama diam, kan? Tapi, polanya selalu ada. Orang yang diam sebagai bentuk kehati-hatian, pada akhirnya, dia akan mulai komunikasi untuk membahas apa yang terjadi jika memang ada yang terjadi di antara kalian. Orang yang silent treatment, nggak bakal komunikasi, tapi menggunakan kepanikan kamu agar diperlakukan lebih istimewa.”

“Terus, harus gimana?”

“Ya, itu tadi yang aku bilang: Satu, pura-pura akting normal meski kamu tahu semuanya, itu strategi. Dua, jaga jarak sejenak. Tiga, jangan asumsikan apa salahmu atau apa pun deh kalau tidak ada komunikasi dari dia. Dia nggak ngomong, anggap nggak ada masalah. Biar kita juga nggak dianggap drama, kan. Lemahkan senjata silent treatment dengan tidak menganggap keberadaan silent treatment itu. Empat, jangan gampang melabeli semua diam adalah silent treatment. Kita butuh lebih dewasa juga melihat ini. Tanpa menormalisasi silent treatment juga, no matter what silent treatment is cruel. Dan, lima, jangan terlalu memaksa keadaan harus baik-baik saja demi kenyamanan hatimu.”

“Tapi, tetap nggak nyaman, sih?”

Tepat saat aku mengatakan itu, langkah kita terhenti.

“Memang harus nggak nyaman.”

Setangkai bunga yang layu sedang bertahan di tengah musim dingin ini.

Aku berjongkok memandangnya.

“Kadang, kita butuh bertemu berbagai manusia dengan berbagai jenisnya untuk jadi manusia yang lebih fleksibel, nggak lempeng, nggak mudah dibodohi lagi. Dan, kita butuh melalui berbagai musim kehidupan supaya kita mengenal siapa kita, apa sisi baik dan buruk kita, bagaimana kita ingin diperlakukan.”

Aku menyentuh daun bunga itu. Beku.

“Pada akhirnya, kita harus biarkan musim dingin jadi musim dingin, biarkan salju jadi salju. Dan, jangan mengharapkan kehangatan dari sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa hangat,” kataku, angin bersiul seakan ia ingin membisikkan sesuatu.

Kamu ikut menyentuh bunga yang sama. Bekunya perlahan mencair. Lelehan airnya meresap di permukaan jemarimu. Kamu mengangkat telapak tanganmu untuk melihat lelehannya lebih jelas. Di suatu kejauhan, di belakang telapak tanganmu, kamu melihat sesuatu.

Pintu Merah.

Pintu Merah itu ada di sana.

Bergegas, aku dan kamu mendekatinya.

Pintu Merah itu bertuliskan Ruang Playing Victim.

“Bakal ada apa lagi, ya?” tanyamu ragu, tapi tanganmu telah menyentuh kenopnya, memutarnya, membuka pintunya, dan…

… kilat.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed