Text
Jika ada Piala Penghargaan kategori Si Paling Playing Victim, dia pasti pemenangnya.
Dia harus jadi pemenangnya.
Dan, sepertinya begitu.
Karena sesaat setelah kita memasuki Pintu Simulasi Playing Victim, yang kita dapati adalah…
Kamera, blitz, karpet merah, wartawan.
Sungguh, ini adalah Malam Penghargaan.
Dan, semua manusia yang ada di sini? Mereka adalah orang-orang playing victim. Di depan kamera, alih-alih menunjukkan senyum, mereka menunjukkan air mata. Saat diwawancara, mereka berbagi kisah sedih.
Seperti para playing victim pada umumnya.
Aku dan kamu menyelinap ke ruang acara.
Di sinilah, para playing victim itu berkumpul.
Berkumpul di satu ruangan yang lapang. Dengan kursi-kursi hitam yang memenuhi ruangan. Dekorasi merah marun. Panggung besar di hadapan penonton.
Aku dan kamu duduk di baris paling belakang, menatap layar besar di panggung yang bertuliskan:
NOMINASI SI PLAYING VICTIM.
Dan, beberapa wajah beserta nama bermunculan di layar. Pengumuman daftar nominasi.
Lalu, wajahnya muncul.
Wajah itu.
Wajah orang paling toxic dan manipulatif di hidupmu.
Memenuhi layar. Menampakkan adegan ketika dia tersedu-sedu dramatis akan sisi gelap hidupnya. Dialog-dialog ketika dia disakiti sampai babak belur mentalnya. Ketika dia menyebut namamu sebagai penghancur hidupnya, meski kenyataannya adalah sebaliknya.
Dan, bagian ketika dia menyakiti? Tentu, tidak ada adegan itu.
Sang pembawa acara yang wajahnya tak kamu kenali membuka amplop di tangannya. Suara lipatan yang terbuka bergaung di ruangan ini. Menciptakan ketegangan dan tanya: Siapa nama yang ada di dalam amplop itu?
Sang pembawa acara mendekatkan bibirnya ke mic, menyebut satu nama.
Nama itu.
Nama orang toxic dan manipulatif di hidupmu.
Dia pemenang malam ini. Lalu, dia berjalan ke panggung, mengambil pialanya, lalu berpidato singkat,
“Terima kasih banyak atas dukungannya. Dari kejadian ini, saya belajar bahwa memang lebih baik kita mengalah, lebih baik kita diam. Tidak apa-apa kalau kita dianggap buruk, yang penting kita selalu berusaha jadi orang baik. Berusaha tidak menyakiti. Pada akhirnya, doa orang dizalimi pasti didengar, kok. Hidup pasti akan lebih baik setelah ini. Dan, hati-hati: hukum tabur tuai itu nyata.”
Lalu, orang-orang bertepuk tangan.
Kamu melongo keheranan.
Lebih baik kita mengalah? Mana ada ngalahnya dia? Malah dia bikin kita babak belur, halo?
Lebih baik kita diam? Masalahnya, siapa yang paling berisik? Kok jago banget memutarbalikkan fakta gini?
Berusaha tidak menyakiti? Lalu, apa yang dia lakukan selama ini?
Doa orang dizalimi pasti didengar? Bagaimana bisa mereka yang menzalimi malah merasa dizalimi? Di mana logikanya?
Sungguh, ini mengingatkanku pada orang-orang yang pernah playing victim dalam hidupku. Kalimat-kalimat penguat yang mereka unggah di internet. Ayat-ayat penuh ancaman bagi orang-orang jahat, seakan akulah yang jahat.
Toxic people, they really built different.
Aku juga tak paham teka-teki di kepala mereka.
Tapi, mungkin, mungkin saja.
Playing victim adalah cara paling mudah untuk bebas dari perasaan bersalah. Mungkin, di lubuk hatinya yang tersembunyi, dia tahu dia telah melakukan kesalahan yang bahkan tak bisa dia terima. Jadi, daripada bertanggungjawab menerima segala konsekuensi, lebih baik ubah fokus narasinya, fokus pada bagaimana dia disakiti, dan hapus segala jejak fakta tentang bagaimana ini bermula.
Playing victim adalah cara paling ringan — sekaligus dangkal — untuk mendapatkan simpati dari orang-orang. Mungkin, di lubuk hatinya yang terkubur, dia tahu dia bersalah. Maka dari itu, dia sangat membutuhkan dukungan, validasi dan simpati dari orang. Seringkali, orang-orang terperdaya pada bualannya, merasa kasihan atas narasi yang telah dia ubah. Sehingga playing victim terasa selalu berhasil di hidupnya: mendapat dukungan moral. Semakin dia tahu ini berhasil, semakin dia sering playing victim, semakin jago pulalah dia.
Dan, mungkin, mungkin saja, seumur hidupnya, dia memang selalu menjadi korban. Korban dari kejamnya kehidupan, keadaan, dan orang-orang di sekitarnya, tanpa pernah mau belajar menjadi pahlawan untuk hidupnya sendiri, selalu mencari pertolongan lewat dukungan moral orang lain. Sehingga victim mindset ini sangat bercokol di dadanya seperti jati diri. Dia playing victim, karena itu satu-satunya yang dia tahu, karena itu takdir dia selama ini: korban, korban, korban.
Sembari aku berkelana dalam pikiranku, dia — orang toxic dan manipulatif itu —turun dari panggung, menggenggam Piala Paling Playing Victim, dan orang-orang menghampirinya, berkata,
“Sabar aja, ya, pasti ada balasannya.”
“Kamu kuat banget bisa bertahan.”
Masih bersembunyi di baris paling belakang, kamu tiba-tiba bertanya,
“Sekarang aku harus gimana?”