Text
Dari semua hobi yang ada di dunia ini, tahu apa hobi favoritnya?
Betul. Silent treatment.
Dan, kamu sudah muak.
Rasa-rasanya kamu ingin berteriak kencang di depan wajah dinginnya, “I HATE YOU AND YOUR SILENT TREATMENT! Kalau menurutmu aku ada salah, BILANG! Jangan diam begini. Komunikasi! Komunikasi kayak orang dewasa, bukan diem-dieman gini!”
Tapi, orang-orang sepertimu selalu mengalah dan membakar diri demi memberikan kehangatan pada dinginnya dia dan silent treatment-nya.
Melihatmu, sungguh, seperti melihat diriku beberapa tahun lalu.
Dan, mungkin, itulah kenapa kita — aku dan kamu — ada di sini.
Terdampar di padang salju ini.
Langit yang sangat biru, tanah yang sangat putih.
Seolah kita sedang berada di Antartika di bulan Juli dengan udaranya yang membeku atau Alaska di bulan Desember dengan anginnya yang menusuk tulang, aku tak tahu kita di mana, tapi kamu berbisik kepadaku, “Dingin banget.”
Mungkin, inilah Dunia Silent Treatment.
Dingin. Kejam. Tiada ampun.
“Gimana cara pergi dari sini?” Kamu berbalik, berusaha menarik pintu kuat-kuat, tapi terkunci.
Saat itulah, aku menemukannya. Orang paling toxic dan manipulatif di hidupmu. Berjalan melaluiku. Langkahnya tenggelam semata kaki melewati jalur bersalju ini. Jadi, kukatakan kepadamu, “Mungkin, kita harus menemukan kunci melawan silent treatment.”
Lalu, kamu melihatnya.
Napasmu tercekat.
Buru-buru mendekatinya.
Sedikit mengejar.
Dia seakan tak peduli kedatanganmu.
Tapi, aku melihatmu dari belakang. Aku melihatmu berusaha memulai percakapan. Aku melihatmu berusaha menularkan senyum di wajahnya. Aku melihatmu berjuang menyenangkan hatinya, bertanya apa yang dia sedang inginkan. Kamu berusaha menjadi hangat cahaya matahari pada sikapnya yang dingin. Tapi, aku juga tahu, suara dalam kepalamu pasti sangat berisik, “Aku salah apa, ya? Kasih tahu dong, jangan diam gini, komunikasikan, aku mau perbaiki, kok.”
Mengemis kehangatan dirinya.
Aku melihatmu mengemis.
Memalukan, tapi aku tak bisa menghakimimu. Karena aku juga dulu begitu.
Orang-orang seperti kita selalu membakar diri demi memberi kehangatan pada dinginnya silent treatment mereka.
Mengemis. Memohon. Melayani.
“Hei,” panggilku.
Kamu menoleh dan memandangku dari bahumu. Matamu; penuh kebingungan dan ketakutan dan sedikit air mata. Dan, orang toxic dan manipulatif itu? Dia tetap pergi, melangkah jauh, seakan kamu tak penting sama sekali. Yah, begitulah dia dan hobi silent treatment-nya.
Aku melangkah ke arahmu.
“Kamu mengingatkan aku pada diriku yang dulu,” ucapku.
Sungguh, kamu terlihat seperti aku yang dulu. Mungkin, itulah kenapa aku merasa ada tanggungjawab untuk menyalamatkanmu dari kekacauan ini.
Aku dan kamu duduk di atas padang salju, melihat dataran tak berujung ini. Memeluk diri sendiri, menahan gigil.
“Kamu tahu kenapa dia hobi banget silent treatment?”
Matamu mengarah ke langit biru seakan mencari jawaban di sana. “Dia lagi bad mood? Atau, mungkin, aku ada salah?”
Aku menggeleng. “Karena orang-orang seperti kita adalah target empuk untuk dimanipulasi. Maksudku, lihatlah keadaan ketika dia lagi silent treatment. Apa yang kamu lakukan?”
Alismu menekuk, berpikir keras, karena, menurutmu, selama ini, ketika dia melakukan silent treatment, kamu tidak memilih egois atau mendiamkan balik, kamu malah mengedepankan kebaikan. Apa yang salah dari itu?
“Ketika dia melakukan silent treatment, kamu malah memberi effort dan perhatian lebih. Seolah-olah diamnya dia adalah vonis bahwa kamu telah melakukan kesalahan besar, dan kamu harus memperbaiki ini entah dengan baik-baikin dia, lebih merendah, lebih hati-hati, berusaha memenangkan hatinya, menyenangkan harinya, seakan-akan dia adalah raja yang tak boleh tergores sedikit pun. Siapa yang tidak suka diperlakukan seperti itu? Siapa yang tidak suka diberi ego seperti itu? Apalagi saat sedang ngambek? Saat silent treatment?”
Kamu tertegun. Tatapanmu memandangi salju-salju yang berguguran seperti taburan garam.
“Ketika dia melakukan silent treatment, mungkin karena dia suka perasaan bahwa dia lebih punya power di hubungan ini. Buktinya, diamnya dia berhasil menaklukanmu, membuatmu panik dan beraksi — yang menunjukkan bahwa ternyata dia penting dan powerful, dan dia menikmati itu tanpa disadarinya.
“Ketika dia melakukan silent treatment, dia sedang menegaskan bahwa dia yang lebih berkuasa di sini, dan dia tidak akan mundur sampai kamu yang mengalah dan minta maaf duluan.
“Ketika dia melakukan silent treatment, dia terbiasa diayomi olehmu — sungguh, kamu terlalu mengayominya di masa-masa ngambeknya. Di saat dia harus belajar meregulasi perasaannya sendiri, kamu malah mengambil alih tanggungjawab itu. Sehingga dia tidak pernah belajar bertanggungjawab mengolah perasaannya sendiri, tidak pernah bertanggungjawab atas kesalahannya, tidak pernah belajar menerima konsekuensi, tidak pernah belajar membahagiakan dirinya sendiri — karena dia tahu kamu akan mengusahakan itu semua.”
“Dan, dia berani melakukan silent treatment lagi dan lagi, karena dia tahu kamu akan selalu menunduk, mengalah, minta maaf. Dan, kamu melakukan itu semua karena kamu tidak mau merasakan sakitnya dan pusingnya didiamkan seperti ini, tapi kamu malah semakin mempertegas bahwa: iya, kamu memegang kuasa, dan aku berada di bawah kontrolmu.”
Kamu terdiam. Lama. Sampai akhirnya,
“Jadi, aku harus gimana?”
Pertanyaan ini mengingatkanku pada masa-masa ketika aku berusaha mencegah diriku dari mengemis perhatian lagi. Tapi, orang-orang sepertiku tak mudah untuk tak peduli seperti itu. Orang-orang sepertiku hanya ingin keadaan yang aman, tenang, dan baik-baik saja.
Di situlah, aku sadar aku juga toxic dan manipulatif dengan cara yang tersembunyi.
Orang-orang toxic ingin mengontrol kita. Tapi, kita juga berusaha mengontrol mereka, keadaan hati mereka, berkehendak semua harus baik-baik saja demi kenyamanan hati kita.
Kebaikan kita, kerendahan hati kita, cara kita menyenangkan mereka di hari-hari silent treatment — mungkin, mungkin saja, itu semua bentuk manipulatif demi mendapatkan apa yang kita inginkan: perubahan sikapnya yang memberi kenyamanan hati.
Bentuk manipulatif yang semakin merugikan kita, tapi semakin menguntungkan dia.
Dia semakin toxic kepada kita. Kita semakin toxic kepada diri kita sendiri.
Bagaimana kita bisa mengalahkan perilaku toxic dengan perilaku toxic yang lain?
Sejak menyadari itu, aku berusaha keras mencegah diriku dari memperbaiki keadaan saat sedang di-silent treatment. Aku harus membiarkan dia memproses perasaannya sendiri. Aku harus membiarkan dia bertanggungjawab atas regulasi emosinya dan keadaan hatinya. Aku harus membiarkan dia belajar berkomunikasi, alih-alih silent treatment tanpa solusi. Aku harus membiarkan diriku merasa tidak nyaman juga. Tidak memaksa diriku merasa baik-baik saja ketika terasa tidak baik-baik saja.
Dan, jika aku memang salah, dan itu jelas, bukan sekadar asumsi dalam kepala, jelas aku harus langsung minta maaf. Penting untuk tetap introspeksi lagi dan lagi. Tapi, jika aku harus menebak-nebak apa yang sebenarnya salah, maka tugasnyalah untuk memulai komunikasi.
“Terus aku harus gimana lagi?” tanyamu, menyadarkanku dari lamunan panjang.