30.⁠ ⁠⁠Usia 30: Usia Udah Bodo Amat sama Omongan Orang

Ruangan putih tak berbatas.

Kita kembali ke ruangan putih ini.

“Jadi, gimana rasanya usia 30? Apa yang harus aku persiapkan?” tanyamu, bergema, memecahkan hening di ruang tanpa batas ini.

Well…” Kali ini, aku tersenyum, karena…

Usia 30 adalah masa-masa yang, surprisingly, tidak semenyeramkan dugaanmu.

Usia 30 adalah masa-masa, yang untuk kali pertama, kamu merasa lebih muda, bebas, berani. Lebih bijak, lebih dewasa. Seakan usia duapuluhan-lah yang harusnya terasa seperti ini. Tapi, usia duapuluhan memang masa-masa ditempa, digembleng, tersudut, bertahan, mencari. Usia 30 adalah masa-masa merasakan efek baik dari pertahananmu di usia duapuluhan. (Tentu, atas pertolongan Allah semata.)

Usia 30 adalah masa-masa bodo amat dari ekspektasi orang lain, even your own family. Rasa menyeramkan yang kamu rasa di ujung usia duapuluhan perlahan pergi. Karena saat kamu menginjak angka 30, somehow it’s just liberating because it’s actually not that scary.

Usia 30 adalah masa-masa kamu mulai melihat hikmah dari masalah-masalah kemarin. Usia 30 adalah masa-masa kamu menyaksikan doa-doa yang akhirnya terkabulkan. Tapi, usia 30 juga bisa jadi usia ketika banyak doa yang tidak terjawab, atau… memang, kita yang sangat sedikit dalam berdoa? Usia 30 adalah masa-masa mulai menyadari mengapa beberapa doa belum terkabulkan, mulai mengerti ternyata memang lebih baik begini daripada dikabulkan.

Tapi, usia 30 tidak selalu tentang kupu-kupu dan pelangi.

Usia 30 juga bisa jadi masa-masa ketika kamu mulai dihantui oleh penyesalan masa lalu. Keputusan terburu-buru yang kamu ambil, pilihan sembrono masa muda, keabaianmu. It’s just life, not paradise, okay?

Di usia 30, kamu sudah dianggap sebagai orang dewasa sepenuhnya. Sehingga, terkadang, kamu akan lebih terlibat dalam masalah-masalah keluarga. Even if you don’t want to.

Dan, pada akhirnya…

Hidup selalu terasa seperti duduk di bibir pantai.

Sambaran ombak adalah masalah yang datang. Tapi, ombak itu akan surut lagi, sebagaimana masalah akan berlalu. Namun, akan ada ombak lain lagi. Bahkan, kadang, satu ombak datang, tanpa menunggu surut dulu, ombak lain ikut menimpa. Kadang, ombak datang terlalu banyak, terlalu lama, butuh waktu lama untuk surut. Kadang, kamu ikut terseret. But it all passes. It all passes. Oh, it all passes. Dan, tumpuanmu jadi lebih kuat.

Kukatakan itu semua kepadamu. And, you feel everything in between.

Dan, aku ingin berkata lebih banyak, tapi aku merasa ada yang aneh pada tubuhku.

Kulihat tanganku. Memudar. Seperti bayang-bayang. Seakan aku akan terhisap oleh udara. Seakan aku akan menghilang. Aku tahu petualangan kita akan berakhir, tapi tidak secepat ini.

Kamu melihatku, kebingungan.

Kamu mencoba meraih tanganku. Tapi, aku sudah transparan seperti hantu, seperti kabut.

“Kamu kenapa?”

Perlahan, asap tebal muncul. Saat asapnya memudar, Pintu Lorong Waktu berwarna ungu itu muncul kembali.

Kamu meraih tanganku lagi. Aku sudah transparan.

“Kamu lanjut aja,” ucapku, tersenyum, seakan berkata, it’s okay, I’m okay.

“Tapi, aku ingin kamu tetap ikut,” ucapmu.

Aku mengangguk. Mengikutimu dari belakang. Lalu, kamu membuka pintunya.

Dan, sesuatu yang aneh terjadi…

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed