Text
Rasanya seperti baru mengedipkan mata sejenak, tiba-tiba kamu sudah berusia 29 tahun.
Itulah perjalanan usia duapuluhan. Entah mengapa, hidup berjalan begitu cepat saat kamu beranjak dewasa. Seperti menaiki rollercoaster—terlalu banyak naik dan turun, dan terasa tak ada habisnya. Tapi, saat kamu telah melalui itu semua, rasanya lebih cepat dari angin.
29. You’re already 29.
Usia 29 rasanya seperti berada di tepi masa mudamu, dan ini sangat mengerikan karena tahun depan, kamu akan menyentuh angka 30, dan kamu merasa sangat tua, dan kamu tidak mau segera menua.
Usia 29 adalah masa-masa belajar menerima hal-hal yang tidak sesuai ekspektasi. Menerima. Bukan karena menyerah. Bukan karena putus asa. Bukan karena capek. Menerima. Karena kamu lebih matang dan bijaksana berteman dengan realitas kehidupan, tanpa pendekatan yang pesimistis. You’re just learing to accept.
Usia 29 adalah masa-masa kamu menyadari bahwa hidup ini tidak sehitam-putih itu.
“Kenapa kita ada di puncak?” tanyamu, menyadarkanku dari lamunan.
So, yeah. Kita sedang berdiri di puncak gunung. Angin dingin menerpamu. Kabut tipis menyelimutimu. Sejauh mata memandang, lautan awan berserakan seperti selimut kapas. Di kejauhan, terlihat puncak-puncak lain.
“Inilah rasanya kesuksesan. Rasanya seperti berdiri di puncak, dan—”
“Apa itu berarti aku sudah sukses di usia 29?”
Aku menggeleng.
“Ingat? Semua yang ada di dalam pintu ini bukan apa yang akan terjadi di masa depan. Dan, semua perjalanan ini nggak akan selalu sama untuk setiap orang. Tapi, itu semua akan jadi kepingan pelajaran yang perlu kamu ambil. Sekarang, usiamu 29 tahun, dan pelajaranmu adalah…”
“Apa?”
“Tidak ada kesuksesan yang sempurna di dunia yang tidak sempurna.”
“Maksudnya?”
“Ini adalah paradoks dari kesuksesan. Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan. Namun, itu belum tentu membuatmu merasa sukses secara utuh. Karena menjadi sukses dan menjaga kesuksesan adalah dua hal yang berbeda…
“Ketika kamu sudah mencapai satu kesuksesan, kamu akan berpikir: bagaimana agar aku bisa tetap sukses? Bagaimana agar tetap relevan? Bagaimana supaya tidak redup? Bagaimana agar kesuksesan ini meningkat? Rasanya seperti berusaha memecahkan rahasia algoritma media sosial untuk selalu menembus jutaan views. Dan, pertanyaan-pertanyaan ini akan mengganggu pikiranmu, membuatmu tetap berada dalam mode berjuang, and that could be good, and that could be bad…
“… Tapi, di benakmu yang sekarang, kesuksesan adalah duduk santai menikmati seluruh hasil jerih payahmu bertahun-tahun, well, it’s not. Kesuksesan terletak pada perjuangan, jerih payah, airmata itu sendiri. Once you reach the top, you want to climb higher. It’s just never enough. Tidak ada kesuksesan yang sempurna di dunia yang tak sempurna. Dan, puncaknya bukan yang paling penting, it’s always the climb. Karena puncak—kita akan selalu meninggalkan puncak, tapi pendakianlah yang akan selalu kita lalui.”
Tatapanmu mengarah jauh ke puncak di barat sana. Seakan sedang mencerna apa yang kukatakan.
“Mau dengar sesuatu lagi?” tanyaku, lalu kamu memandangku dan mengangguk.
“Tidak pernah ada uang yang cukup di dunia yang tidak cukup ini.”
“Maksudnya?”
“Ini adalah paradoks tentang uang. Kamu bisa saja mendambakan seratus juta di tabunganmu, mengira jika uangmu telah sebanyak itu, hidupmu bisa lebih santai. Namun, ketika nominalnya menyentuh angka itu, kamu menginginkan lebih, bukan karena kamu merasa kurang, tapi karena kamu menyadari ini memang masih kurang. Lalu, kamu memperjuangkannya, berharap ada angka satu milyar dalam tabunganmu, mengira angka itulah kunci santai. Lalu, saat uangmu telah mencapai satu milyar, kebutuhan hidupmu ikut meningkat—that’s just the way it is. Kamu terbiasa melihat angka satu milyar di ATM, sehingga kamu mengusahakan bagaimana caranya agar nominal itu tidak berkurang, sehingga kamu harus berjuang lebih keras lagi. Mendambakan angka yang lebih besar. Mungkin lima miliar. Mungkin lebih. Tapi, pada akhirnya, tidak ada uang yang cukup di dunia yang tak pernah cukup ini.”
“Jadi, aku harus bagaimana?”
Aku diam sejenak. Memejamkan mata. Mencari kata-kata yang tepat. Lalu, berkata pelan,
“Belajar merasa cukup. Kalau kamu tidak tahu caranya merasa cukup di masa yang sekarang, kemungkinan kamu tidak akan merasa cukup di kehidupan yang lebih baik. Belajar merasa cukup meski rasanya seperti belum cukup. Semoga Allah mencukupkan kamu.”
“Tapi, gimana caranya merasa cukup?”
“Belajar mengapresiasi hal-hal kecil dalam hidup. Bahkan sesederhana air segar yang mengguyurmu saat kamu mandi, Alhamdulillah. Air minum yang kamu teguk, Alhamdulillah. Sekarang, mungkin, rasanya seperti hal yang biasa saja. Tapi, bayangkan kalau kamu tinggal di pedalaman Afrika yang kering, maka air yang kamu gunakan setiap hari sangatlah berharga. Bahkan sesederhana terik matahari tropis, Alhamdulillah. Mungkin rasanya seperti hal yang biasa. Tapi, kalau kamu tinggal di negara dengan cuaca yang ekstrem, ini akan sangat berharga. Belajar apresiasi hal-hal kecil dalam hidupmu. Semoga itu mengundang hal-hal besar datang ke hidupmu.”
Kamu tertegun. Lama sekali. “Apa lagi yang aku butuh tahu sebelum masuk ke usia 30 tahun?”
Karena, di puncak ini, Pintu Usia 30 telah berdiri tegap. Tapi, kali ini, aku tak ingin kita buru-buru memasukinya. Masih ada satu hal yang ingin kusampaikan.
“Tidak ada hubungan yang sempurna di dunia yang tak sempurna ini.”
Alismu mengerut seakan bertanya, apa maksudnya.
“Kamu bisa melakukan yang terbaik untuk seseorang, mengira dengan semakin lebih banyak usaha yang kamu keluarkan untuknya, semakin berharga dia di sisimu, semakin besar cintanya kepadamu, it’s not. Berhenti mencari kecukupan diri dari perlakuan orang lain terhadapmu. Berhenti berjuang terlalu keras demi mendapat perhatian lebih. Tetaplah jadi orang baik, tapi nilai dirimu tidak terletak pada feedback mereka. Belajarlah merasa cukup dengan dirimu sendiri.”
“Ya, tapi gimana?”
“Kalau kamu selalu merasa butuh menceritakan segalanya ke seseorang, tuliskanlah isi hatimu di jurnal, dan curahkanlah perasaanmu dalam doa kepada Allah.
Kalau kamu merasa selalu butuh menyenangkan dia demi mendapatkan kasih sayang atau perhatian dia, maka kamu butuh mencari apa yang menyenangkan dirimu. Berjalanlah dan nikmati langit sore. Bacalah buku yang menggambarkan keadaanmu. Find your joy tanpa harus bawa-bawa dia.
“Kalau kamu butuh validasi dari dia, tuliskanlah apa saja yang kamu harap kamu bisa dengar dari dia, lalu sampaikanlah itu langsung kepada dirimu sendiri.
“Kalau kamu nggak bisa menghilangkan rasa ini, maka mulailah menjaga jarak dan batas. Kurangi komunikasi. Jangan selalu memulai perbincangan hanya karena kamu ingin berbicara dengannya. Kurangi bertemu kecuali sangat, sangat perlu untuk bertemu.”
Kamu mengangguk paham dan berbisik sangat pelan aku nyaris tidak mendengarnya, “Terima kasih.“
Seperti ada udara segar yang menelusup ke dadaku. Ini adalah ucapan terima kasih pertamamu kepadaku.
Terima kasih juga sudah mau bertahan. Terima kasih juga sudah mau menerima saran-saranku. Terima kasih juga sudah mau melalui berat-beratnya hidup. Aku tak sabar melihat reaksimu melihat apa balasan baik dari Allah atas ketelatenanmu mengusahakan ini semua.
Sekarang, baliklah halaman ini. Bukalah Pintu Usia 30. Tapi, aku khawatir…
… kita sudah semakin dekat dengan perpisahan.