Text
Sekarang, kita seperti berada di suatu desa. Jauh dari perkotaan. Jauh dari polusi udara dan polusi cahaya.
Kita sedang berbaring di sebuah padang rumput, menyaksikan pertunjukkan bimasakti, konstelasi bintang, meteor jatuh di langit malam.
“Kenapa kita di sini? Apakah usia 28 tahun rasanya setenang ini?”
Well. Bukan begitu sebenarnya. Malah, kadang…
Usia 28 adalah masa-masa udah tidak mampu lagi menguatkan diri sendiri — kamu juga butuh dikuatkan. Usia 28 tahun adalah masa-masa tidak sanggup lagi bergantung pada diri sendiri. Usia 28 tahun adalah masa-masa capek dengan segala jenis drama pertemanan dan percintaan, you just want to be calm.
“Dan, sejak kapan kamu jadi religius gini? Dan, sampai kapan hidup bisa setenang di sini?” tanyamu lagi.
“Sampai kamu nggak menaruh semua beban ke dirimu sendiri.”
“Maksudnya? Bukannya selama ini kita nggak boleh bergantung sama siapa pun?”
“Iya, memang. Kita nggak bisa bergantung sama manusia. Diri kita juga manusia.”
“Oke, lalu?”
“Aku belajar melepaskan bebanku kepada Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini. Tuhan yang menciptakan aku — yang pasti memahami keadaan aku melebihi siapa pun.”
“Caranya?”
“Lebih banyak bercerita kepada-Nya daripada kepadanya. Lebih banyak berkomunikasi kepada-Nya daripada kepadanya. Lebih banyak menaruh harap kepada-Nya, dan bukan kepadanya.”
Kamu tertawa meremehkan. You’ve never been that religious, and I understand.
“Tapi, sejak kapan kamu jadi religius gini?”
“Sejak aku tahu bahwa aku selalu diterima. Aku bisa saja datang kepada-Nya dengan dosa sepenuh bumi, dan Dia bisa memberiku ampunan sepenuh bumi pula.”
Sebuah senyum kecil terbit di bibirmu.
“But that’s also the thing when you get older. Aku — dirimu di masa depan — sudah menua. Kamu lihat, kan, kerutan di wajahku? Usiaku mungkin nggak lama lagi. Ketika kamu menua, semua ambisimu terhadap dunia — well, nggak pernah benar-benar hilang, sih. Tapi, pikiranmu mulai banyak berpikir tentang kematian. Apa, ya, yang terjadi setelah hidup ini? Apa yang terjadi setelah aku mati? Apakah Tuhan benar-benar ada? Apakah aku berdoa kepada Tuhan yang benar? Jadi, kamu mulai mencari…
“Karena kamu takut kematian datang sebelum kamu mengetahui semuanya. Dan, ketika kamu berusaha mencari siapa Tuhan yang sesungguhnya, lalu kamu benar-benar merendahkan hatimu, dan, dalam diam, kamu berdoa kepada Tuhan yang menciptakan semua ini: Tunjukkan aku jalan, tunjukkan aku jalan. Ketika hatimu sudah begitu jujur dan tulus, Dia akan membimbingmu. Dan, rasanya menenangkan sekali ketika kamu telah menemukan-Nya. Karena, for the first time in your life, kamu bisa menyerahkan seluruh hidupmu dan kekhawatiranmu kepada sesuatu yang lebih besar dan powerful dan berkuasa atas semua ini.”
Lalu, diam.
Biarkan angin malam bertiup pelan. Biarkan langit memamerkan bimasaktinya dan konstelasinya dan meteor jatuhnya.
Sejenak saja.
“Apakah Dia selalu menjawab doa-doamu?” tanyamu.
“Allah selalu menjawab doa-doa kita dengan cara yang tidak selalu kita pahami — tapi, itu selalu jadi cara paling sempurna, paling bijaksana. Mungkin butuh waktu. Sampai-sampai terasa seperti doa itu tidak dikabulkan. Tapi, mungkin, mungkin saja, supaya kamu terlatih untuk lebih tangguh dan sabar dan tidak seperti manusia manja yang apa pun harus tercapai saat itu juga. Bahkan dalam doa-doamu, Allah mampu memberi lebih banyak dari yang kamu minta dengan cara paling bijaksana yang tidak selalu kita pahami. Dan, mungkin, sebagiannya — disimpan di akhirat. Sebagai pahala sabarmu menanti doa yang nggak pernah terjawab di dunia.”
Senyummu melebar.
“This is how it feels like to know the truth.”
Berbaring di padang rumput, di bawah langit malam, menyaksikan pameran bintang-bintang di langit.
Lalu, Pintu Usia 29 muncul. Dan, aku… aku takut.
Tidak lama lagi petualangan ini akan berakhir.
Tapi, kamu sudah terlanjur berdiri, melangkah, membuka pintu itu.
Dan, sekarang, usiamu 29.
Angin dingin menerpa wajahmu. Di sekelilingmu adalah lautan awan yang terhampar seperti selimut kapas.
Kamu berada di puncak gunung. Apa ini berarti aku akan sukses di usia 29?