Text
Perahu kecil, tengah laut, air beriak.
Siang terik, udara lembap, kamu terbaring di perahu yang berayun itu.
Karena beginilah rasanya usia 27 tahun.
Usia 27 terasa seperti terdampar di tengah laut, jauh dari daratan, dipermainkan ombak, terlalu lelah untuk mendayung lagi, hampir tenggelam, seakan laut sudah menelanmu sampai ke dagu. Segalanya terasa seperti sudah di ujung, segalanya terasa seperti tak mungkin lagi.
Usia 27 adalah usia paling depresif, paling berat, paling pengin mati aja. Usia 27 adalah masa-masa yang terasa mengerikan karena kamu nyaris menyentuh usia 30, and you feel so old, and nothing has never really changed.
Little did you know kalau usia 30 tidak akan semengerikan usia 27.
“Kadang, kamu butuh hidup lebih panjang untuk melihat masa depan yang cemerlang,” ucapmu, mengulangi ucapanku. Nadamu seperti menagih janji, seperti kesal. “Aku udah hidup selama 27 tahun hanya untuk melihat nggak ada apa-apa yang terjadi?”
“Setiap orang — ”
“Stop. Aku tahu kamu bakal ngomong apa. Semua orang punya waktunya masing-masing. Blah, blah, blah. Bahkan penemu KFC menemukan secercah kesuksesan di usia 62. Blah, blah, blah. Bodo amat. Itu hidup mereka, bukan hidupku. Gimana kalau aku emang nggak pernah mencapai kesuksesan? Gimana kalau hidupku emang nggak membaik? Gimana kalau masa depanku ternyata nggak secemerlang yang kamu janjikan? Apa kamu cuma ingin aku bertahan supaya kamu bisa tetap hidup?”
Aku diam. I understand. Usia 27 rasanya sedepresif ini.
“You can’t expect life to be all perfect — ”
“I’m not asking it to be perfect — I just want it to get easier and better. I just want a way out.”
Aku menghelap napas yang sangat panjang sebelum akhirnya berkata,
“You can’t just quit. Kadang, pertolongan Allah datang seakan di ujung waktu.”
Kali ini, kamu tidak membantah. Kamu mengangkat wajah, menatapku, mendengar.
“Kadang, pertolongan Allah datang seakan di ujung waktu,” ulangku lagi.
“Maksudmu?”
“Kamu pasti pernah dengar kisah Nabi Musa yang memukulkan tongkatnya ke laut, lalu lautan itu terbelah, kan?”
Kamu mengangguk.
“Bukankah itu terdengar seperti pertolongan Allah yang datang seakan di ujung waktu?”
Alismu bertaut, seakan berkata, lanjutkan.
“Ketika Firaun dan bala tentaranya sedang mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Ketika seakan tak ada lagi jalan keluar. Ketika Firaun dan bala tentaranya telah melihat mereka. Ketika pengikut-pengikut Nabi Musa berkata, ‘Kita akan benar-benar tersusul.’
“Ketika Nabi Musa, dengan segala keyakinannya dan prasangka baiknya kepada Allah, berkata, ‘Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’
“Ketika Allah mewahyukan Nabi Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Ketika terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Sehingga Nabi Musa dan kaumnya bisa menemukan jalur baru untuk lari. Lalu, Allah menyelamatkan mereka. Lalu, Firaun dan bala tentaranya yang mengejar dari belakang — ditenggelamkanlah mereka kemudian. Bukankah ini adalah pertolongan Allah yang datang seakan di ujung waktu?”#
Kamu melihat ke arah lautan yang mulai berombak. Lalu, aku melanjutkan,
“Bahkan Nabi Yakub yang kehilangan anaknya — Nabi Yusuf, yang dibuang oleh saudara-saudaranya, bertahun-tahun lamanya — pun bisa bertemu kembali dalam keadaan yang paling baik: Nabi Yusuf yang telah dewasa dan menjadi penguasa di Mesir. Sehingga bisa menaikkan orangtuanya di singgasananya. Tapi, itu semua butuh waktu tahunan. Tapi, harapan ada. Harapan selalu ada. Dan, bukankah itu terdengar seperti pertolongan Allah yang datang seakan di ujung waktu?”
“Tapi, mereka, kan, Nabi, dan aku — ”
“Buat apa Allah menjaga kisah-kisah ini terus bergaung dari masa ke masa kalau bukan untuk diimani? Kalau bukan untuk dijadikan pegangan? Kalau bukan sebagai penguat, harapan, hikmah dan pelajaran untuk hidup kita?”
Kamu diam. Laut tenang. Bahkan embusan angin pun dapat kita dengar. Lalu, aku berbisik,
“Meskipun terasa seperti nggak ada lagi jalan keluar, mereka tetap bersabar dan tetap yakin bahwa Allah akan membantu mereka. Dan, Allah benar-benar bantu. Maka, yakinlah bahwa Allah akan bantu kita.“
Kamu memicingkan mata, tertawa remeh, dan bertanya, “Sejak kapan kamu jadi religius gini?”
Persis setelah kamu bertanya, sebuah asap tebal muncul di perahu ini. Lalu, perlahan, asap memudar. Lalu, perlahan, sebuah pintu terlihat. Pintu Usia 28.
“Mungkin, kamu akan menemukan jawabannya di sana,” kataku sembari menunjuk Pintu Usia 28.