Text
Gelap. Dan, sempit.
Satu-satunya penerangan di sini adalah bulan sabit. Kamu mendongak dan menyadari bahwa kamu terperangkap di dasar sumur. Lalu, kamu mengembuskan napas panjang — napas yang lelah, napas yang seakan berkata, “Apa lagi? Gimana lagi?”
Inilah rasanya usia 26.
Usia 26 adalah masa-masa sering berkata, “Ya, udahlah, mau gimana lagi, jalanin aja.” Padahal kalau kamu harus jujur, ini bukan jalan yang kamu inginkan. Tapi, kamu juga capek mengeluh, capek berharap, jadi, ya, udah, jalanin aja. Terima aja. Realistis aja.
“Tapi, menerima dan menyerah itu kelihatan tipis bedanya.”
“Emangnya aku bisa apa lagi kalau udah di bawah sini?”
“Kamu boleh menerima fakta bahwa kamu sudah ada di dasar sumur ini, tapi berpikir nggak ada lagi yang bisa kamu lakukan, it sounds like giving up. Kamu juga bisa menerima fakta bahwa kamu sudah ada di sumur ini, mengakui kalau susah banget untuk keluar, tapi kamu tetap mencari cara. Mungkin berteriak minta tolong, atau menumpuk batu-batu di sekitarmu, atau apa pun yang membuatmu bisa keluar dari sini sembari menerima faktanya, that’s real acceptance.“
We both know: we’re not talking about ‘dasar sumur’.
“Ingat yang kamu bilang ke diri kecilmu di awal buku ini?” tanyaku.
“Lupa.”
“Jangan terlalu realistis sama hidup.”
Air mukamu berubah. Rahangmu menegang. Seakan amarah telah berada di gigi gerahammu.
“Terus kamu mau aku gimana? Aku harus apa lagi kalau hidup nggak pernah sejalan sama usaha yang udah aku kerahkan? Tetap mencoba? Terus berdoa? Tapi, gimana kalau aku nggak mau lagi mencoba? Gimana kalau aku capek?”
Aku terdiam.
“Kamu pernah bilang kalau masa depanku bakal cemerlang. Tapi, mana masa depan yang cemerlang itu? Mana hidup yang membaik? Mana hasil yang katanya nggak pernah mengkhianati usaha? Mana orang-orang yang sayang sama aku? Mana?”
Aku masih diam — menarik napas panjang. Kamu mengembuskan napas dan air mata. Air mata putus asa.
“Sekarang, kamu mau bilang apa? Aku butuh ini semua? Biar jadi orang yang lebih kuat? What if I don’t want to be strong? What if I don’t want this life anymore?” isakmu.
Jangan bantah. Jangan bantah. Dia hanya sedang mengeluarkan emosinya.
“Are you really me from the future? Apa selama ini kamu cuma kasih kata-kata manis yang palsu biar aku bertahan hidup? What if it all means nothing?”
Apakah selama ini aku terlalu lembut kepadamu sehingga ucapanku selama ini tak ada artinya bagimu? Apakah aku terlalu memaklumimu sehingga kamu memperlakukanku seperti ini? Seakan kamu tidak mempercayaiku? Atau, aku harus lebih keras? Lebih kejam? Tapi, apa kamu siap?
Apakah kamu siap jika aku bilang, “Ya, udah, silakan menyerah, tapi jangan pernah komplain, ya. Kamu sendiri, kan, yang mau menyerah? Jangan juga berlagak jadi korban ketika kamu yang membiarkan dirimu tetap di posisi bawah ini.“
Tapi, kalau aku bilang ini semua, dan kamu menyerah…, then what about me?
I, too, deserve a better life. Hanya karena versi dirimu yang sekarang sedang sengsara, kamu tidak berhak membiarkan kami — semua versi dirimu yang lain — juga ikut sengsara.
You need to make a change because the future you deserves it.
Dan, aku paham. Paham sekali. Memang melelahkan sekali ketika kamu udah berjuang susah payah dan berdoa sepenuh hati, tapi hidup yang cemerlang itu tak pernah hadir. Aku paham. Tapi…
“Kadang, kita butuh hidup yang lebih panjang untuk melihat hidup yang lebih cemerlang. Kita butuh hidup yang lebih panjang untuk membuktikan bahwa hidup kita benar-benar membaik. Kita butuh hidup yang lebih panjang untuk menyaksikan doa-doa kita ternyata dikabulkan dengan cara yang paling indah dan di waktu yang sempurna,” kataku akhirnya.
“Kamu nggak bisa menyimpulkan sesuatu yang belum selesai. Kamu bahkan belum bertemu semua versi dirimu yang lain. Kamu belum bertemu semua orang baru yang akan menyayangimu di masa depan. Jangan simpulkan sesuatu yang belum berakhir, oke?”
Dan, aku melihat kamu mengangkat wajahmu yang sejak tadi menekuk. Perlahan memandangku. Berusaha mencari keyakinan di mataku.
Tepat saat kamu menatapku…
… sebuah asap tebal muncul di tengah-tengah kita. Saat asap itu memudar, Pintu Usia 27 telah berdiri kokoh.
Seperti biasa, aku tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tapi, aku tersenyum dengan sangat yakin.
Lalu, kulihat genggaman tanganmu di kenop pintu, mendorongnya, terbuka.
Dan, sekarang, kamu berada di…