Text
Di pemakaman ini, hanya ada tiga kuburan. Tiga batu nisan.
Kamu merunduk, berjongkok, memerhatikan tulisan di batu nisan tersebut.
Batu nisan pertama: Mimpi & Ambisi.
Batu nisan kedua: Jiwa & Motivasi Hidup.
Batu nisan ketiga: Tujuan hidup.
Well.
Usia 25 adalah masa-masa krisis: terkuburnya mimpi-mimpi dan motivasi hidup. Terkuburnya jiwa — kehilangan diri sendiri, sampai kamu tak lagi bisa merasakan dirimu, mempertanyakan eksistensimu: Buat apa aku di sini? Apa yang aku kejar?
Usia 25 adalah masa-masa ketika kamu harusnya sudah mencapai ini dan itu, tapi hidupmu masih sama saja. Rasanya seperti hidup bersama kegagalan.
Usia 25 adalah masa-masa menjalani hidup seperti robot. Bangun, kerja, pulang, tidur. Bangun, kerja, pulang, tidur. Rutinitas yang terus berulang. Bosan yang tak ketemu ujungnya. Mati rasa. Sampai kamu berpikir, “Apa hidup isinya begini terus?”
It doesn’t have to be at 25. But it’s somewhere in your twenties.
“Jangan hidup dalam mode autopilot,” kataku.
“Maksudnya?”
“Seumur hidupmu, kamu selalu menghabiskan waktumu sebagai orang lain dan untuk orang lain. Kamu menghabiskan waktu di kantor sebagai pekerja, pebisnis, apa pun itu. Kamu menghabiskan waktu bersama teman-temanmu. Kamu menghabiskan waktu di tempat tidur sebagai penonton hidup orang-orang di media sosial. Kamu menghabiskan waktu dan tenaga bersama orang yang kamu sayang. And, it’s all normal and fine. But your life has always been for someone else or something else.
“Selama ini, kamu selalu jadi pasangan, jadi sahabat, jadi pekerja, jadi seorang anak, jadi penonton, tapi mana momen ketika kamu menjadi diri sendiri tanpa label, tanpa distraksi, tanpa beban dan ekspektasi?”
“Selama ini, kamu selalu bekerja, berteman, berjuang untuk disayang, berbaring dan menonton hidup orang-orang, memendam rasa, tapi mana momen ketika kamu berbicara sama dirimu sendiri tentang hari-hari yang berlalu dan emosi yang terpendam? Mana momen ketika kamu mengambil napas panjang, duduk diam, memejamkan mata? Mana momen ketika kamu mengeluhkan semua rasa kesalmu kepada Tuhan yang telah menciptakanmu — yang pasti memahamimu melebihi siapa pun di dunia ini tanpa penghakiman? Mana momen ketika kamu melangitkan kembali semua harapmu kepada Tuhan yang menciptakan matahari dan bumi saja Dia mampu, apalagi harapan-harapanmu yang pastinya kecil bagi-Nya?”
“Kamu butuh menyediakan waktu berkualitas untuk dirimu sendiri — tidak ada siapa pun, tidak dilabeli apa pun, hanya kamu menjadi kamu. Mungkin, sebelum kamu memulai hari. Mungkin, sebelum kamu tidur. Kamu harus duduk bersama dirimu sendiri tanpa ada distraksi. Proses dan cerna emosimu lewat jurnal dan doa. Tanya lagi apa yang sebenarnya ingin kamu perjuangkan dalam hidup. Cari mimpi-mimpi baru. Ganti mimpi-mimpi yang terkubur itu dengan mimpi yang lebih besar dan lebih banyak. Sisihkan juga waktu untuk mimpi yang masih tersembunyi, yang pernah terkubur, perjuangkan selagi Allah meridai-Nya.
“Kamu jarang duduk bersama dirimu sendiri. Makanya, kamu jadi kehilangan diri sendiri. One of the ways to recognize yourself is to sit and talk a lot with yourself.”
Wajahmu lesu. Aku paham. Di usia 25, rasanya melelahkan banget mendengar nasihat lagi dan lagi. Karena, di usia 25, kamu bukan butuh nasihat, kamu butuh perubahan yang nyata dalam hidupmu.
“Semoga dengan kamu menyediakan waktu untuk dirimu sendiri, kamu bisa perlahan menemukan apa yang kamu cari — yang semoga bisa mengubah hidupmu. Dan, perubahan dalam hidup nggak selalu datang secara tiba-tiba dan signifikan, seperti petir yang menyambar, badai atau tsunami. Perubahan dalam hidup seringkali datang pelan-pelan seperti gerimis, awan yang berlalu, angin yang bertiup pelan.”
Wajahmu masih lesu. Tapi, Pintu Usia 26 sudah muncul di hadapanmu.
“Jujur, aku capek,” ucapmu akhirnya.
“Usia 20-an memang terasa seperti begitu, kok. It won’t be forever. Tapi, kamu harus mengingat dan mengerjakan PR-PR apa yang aku sampaikan tadi. It won’t change the whole thing, but it can change your life little by little.”
Tanpa menjawab atau tersenyum, kamu pergi meninggalkan kuburan ini.
Masuk ke Pintu Usia 26 dengan langkah yang pelan dan malas.
Pintu terbuka. Kini, usiamu 26. Sekarang…