24.⁠ ⁠⁠Usia 24: Usia-Usia Kangen Dirimu yang Ceria Dulu

“Selamat datang di Museum Diri Sendiri,” sambutku saat kamu tiba di dalam.

Dan, tatapanmu takjub melihat isi museum ini.

Di tengah, ada aquarium raksasa. Airnya nyaris tumpah. Ada tulisan kecil di bawahnya: ‘Kumpulan Air Mata Seumur Hidupmu’.

Lalu, di dindingnya, penuh foto dirimu.

Foto dari kamu masih bayi.

Sampai kamu dewasa.

Kamu perhatikan setiap fotonya.

Saat kali pertama ibu menggendongmu, dan wajahmu terlelap, aman, nyaman.

Saat ayahmu melemparmu ke udara. Ayahmu tersenyum, wajah kecilmu sumringah.

Kali pertama kamu bisa naik sepeda, dan kamu tergelak lepas.

Kali pertama masuk sekolah, dan wajahmu ragu.

Kali pertama punya sahabat, dan sering tertawa bersama.

Kali pertama jatuh cinta, dan sering senyum sendiri.

Lalu, patah hati pertama. Air mata pertama karena cinta. Penolakan. Kekecewaan pertama. Pengkhianatan pertama. Kegagalan pertama. Kegagalan kedua dan seterusnya.

Semakin dewasa, semakin sedikit senyum yang kamu lihat di foto-foto itu.

Aku kangen banget diriku yang dulu. Masa-masa masih ceria. Masa-masa masih bisa jadi diri sendiri. Masa-masa bebas dari beban hidup. Masa-masa sebelum jadi dewasa,” ujarmu, sambil kembali menatap sedih foto masa kecilmu dan tawa riang yang ada di sana.

Aku berdiri di sampingmu, memandang senyum dalam foto itu. Senyum yang sudah lama tak ada di wajahmu.

Usia 24 adalah masa-masa ketika kamu merasa dirimu tak lagi sama, tak lagi ceria, tak lagi lepas, tak lagi banyak tawa. Usia 24 adalah masa-masa ketika kamu ingin menghentikan waktu karena takut apa lagi yang akan terjadi di masa dewasa mendatang. Usia 24 adalah masa-masa ketika kamu merindukan diri kecilmu. Ingin ceria lagi. Ingin tertawa terbahak-bahak lagi.

“Semua ini adalah versi-versi dirimu,” kataku, mengarahkan tanganku ke seluruh penjuru foto di ruangan ini.

“Dan, dalam dirimu ada banyak versi manusia. Ada dirimu versi dua tahun dan tawanya yang riang. Ada dirimu versi tujuh tahun dan larinya yang kencang. Ada dirimu versi sepuluh tahun dan fantasi sempurnanya tentang masa depan. Ada dirimu versi enam belas tahun dan pemberontakannya dan jatuh cinta pertamanya. Ada dirimu versi delapan belas tahun yang banyak sedihnya, banyak nangisnya. Ada dirimu versi 22 tahun yang banyak bingungnya, banyak takutnya. Ada dirimu versi 32 yang lebih tangguh, lebih berani. Ada dirimu versi 47 yang lebih dewasa dan bijaksana. Dalam dirimu, ada banyak versi manusia.

Kamu hanyalah anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Kamu adalah orang bijak yang terjebak di tubuh seseorang yang belum bijak. Kamu adalah seseorang yang tahu rasanya cukup dan tenang, tapi masih terjebak di tubuh seseorang yang tak lagi ceria. Kamu adalah berbagai versi dirimu. Maka dari itu, kamu nggak harus selalu sama seperti versi dirimu yang kemarin.

Kamu juga nggak harus jadi dirimu yang dulu untuk merasa lebih baik. Malah, kamu harus belajar melepaskan versi dirimu yang dulu. Biarkan dia pergi. Sudah waktunya dia pergi. Sudah bukan eranya lagi. Sambut versi dirimu yang baru. Kenali era baru ini. Meskipun rasanya nggak seperti dirimu. Dia — versi dirimu yang baru — pasti punya sesuatu. Dia pasti punya sesuatu.

“Seperti diri sedihmu pernah mengajarkanmu untuk mengatur kembali ekspektasi. Diri ceriamu mengajarkanmu untuk melihat warna-warni hidup. Diri penakutmu mengajarkanmu untuk lebih berhati-hati — jangan terlalu mudah percaya lagi. Diri polosmu mengajarkanmu untuk punya mimpi yang besar. Diri realistismu mengajarkanmu untuk harus berjuang yang besar untuk menggapai mimpi yang besar. Dia pasti punya sesuatu. Jangan benci dirimu yang sekarang hanya karena dia berbeda dengan dirimu yang dulu. You’re still you — always have been.

“Dan, apa yang akan kamu sampaikan ke dunia kalau kamu nggak pernah punya beban hidup? Apa yang bisa kamu sampaikan untuk menguatkan orang-orang bersedih di masa depan kalau kamu selalu ceria? Ini persiapan menuju masa depan yang lebih baik. Dan, bagaimana kamu bisa ketemu aku — dirimu di masa depan — kalau kamu nggak pernah melalui berbagai versi dan era di hidupmu?”

Air mata jatuh di pipimu.

Deras.

Tertunduk.

Terisak.

Dan, semua foto di museum ini perlahan memudar.

Kepalamu berputar, memperhatikan satu per satu foto yang memudar.

Dan, tatapanmu jatuh pada foto terakhir yang tersisa.

Saat kali pertama kamu lahir. Dalam buaian ibu. Terlelap. Aman. Senyum. Kecil. Tapi ada.

Dan, foto terakhir itu menghilang.

Berubah menjadi Pintu Usia 25.

Perlahan kamu berdiri. Melangkah maju. Menghapus air mata. Meski masih jatuh. Usap lagi. Maju lagi. Membuka Pintu Usia 25.

Dan, usiamu beranjak 25. Tiba-tiba, kamu telah mengenakan kemeja yang rapi. Seakan hendak pergi ke kantor. Tapi, ini bukan area perkantoran.

Ini siang hari. Di kuburan. Untuk kali kedua.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed