23. Usia 23: Usia-Usia Paling Sakit Hati, Paling Brutal, Paling Trauma

Usia 23 adalah patah hati yang paling menyakitkan, paling meninggalkan trauma dan luka, paling mengubah hidup, paling mengubah persepsimu tentang cinta.

Kamu berada di ruangan serba merah muda, seluas ruang tamu di rumahmu.

Banyak jarum yang menghunjam di atap hingga darah menetes-netes. Banyak pisau yang menembus dinding hingga darah mengalir dari dinding.

“Sebenarnya, ini adalah isi hatimu. Di usia 23,” jelasku, karena…

Usia 23 adalah masa-masa jatuh cinta sedalam-dalamnya, seyakin-yakinnya, segila-gilanya, sebrutal-brutalnya, sebuta-butanya.

Usia 23 adalah masa-masa ketika kamu merasa telah menemukan manusia favoritmu, dan kamu mengira dialah yang akan menikahimu, dan kamu telah bertahan sekuat tenaga dan sekuat hati, memperjuangkan segalanya, menerima segala kekurangannya — karena apa pun kekurangan dia, dialah yang paling tepat untukmu — tapi semua usaha dan mimpi untuk melanjutkan hidup bersamanya sudah hilang jadi abu.

Usia 23 adalah patah hati yang paling menyakitkan, paling meninggalkan trauma dan luka, paling mengubah hidup, paling mengubah persepsimu tentang cinta.

Sebenarnya, tak harus 23. Bisa 21, 22, 24, 26. Usia berapa pun. Yang jelas: it’s somewhere in your twentysomethings

“Aku nggak jadi nikah sama dia, ya?” tanyamu sambil menahan air mata yang telah menggenang di bola matamu.

Aku menggeleng.

“Kenapa?” tuntutmu.

Well, things happened. Ternyata, kalian nggak cocok. Hidup kalian beda arah. Dia lebih milih orang lain. Dia nggak pernah berubah.”

“Dia nggak pernah berubah?”

“Mau sekuat apa pun, kamu nggak bisa mengubah dia. Mau semaksa apa pun, kalau bukan jodoh, ya bukan jodoh.”

“Terus, hidupku setelah dia gimana? Apa aku dapat pengganti yang lebih baik?”

Aku menarik napas.

“Aku masih sendiri, ya?”

“Iya, dan, menurutku, kamu butuh melalui kesendirian itu, karena, begini…

“Di hidup ini, ada banyak chapter. Chapter tentang prestasi dan pencapaian. Chapter tentang jatuh cinta dan mengejar dan menjaga cinta itu. Chapter patah hati. Chapter persahabatan. Chapter mengejar impian. Seumur hidupmu, kamu telah memperjuangkan chapterchapter tersebut. Tapi, mana chapter untuk dirimu sendiri? Mana chapter berjudul ‘just me and myself, and maybe it’s all I need for now’?

“Usia 23 adalah masa-masa belajar nyaman menghabiskan waktu bersama diri sendiri, berkomunikasi dengan diri sendiri lewat jurnal atau self-talk, berkontemplasi tentang hidup, belajar sendiri tanpa distraksi, mencari hikmah dari kesendirian. Karena, hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu mulai bisa menata ulang hidupmu dan masa depanmu. Hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu mulai mengenal dirimu — apa yang kamu mau dan apa yang nggak kamu mau. Hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu belajar kuat tanpa menggantungkan kuatmu pada manusia favoritmu. Hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu bisa belajar jadi manusia favorit untuk dirimu sendiri. Hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu perlahan bisa menemukan nilai dirimu. Hanya saat sendirilah dan tanpa distraksi, kamu bisa kembali mengingat Allah. Kesepian adalah harga yang murah untuk menemukan dirimu lagi.”

“Tapi, aku takut sendirian.”

“Kesendirian nggak seberbahaya yang kamu bayangkan, kok.”

Kamu diam. Jadi, aku bilang,

“Kalau kamu punya anak nanti, kamu pasti ingin anakmu kuat, nggak manja, sukses, bisa menginspirasi, ya, kan?”

“Iya.”

“Nah. Maka, sebelum itu semua, kamu butuh jadi orang yang kuat dulu, nggak manja, menginspirasi. Dan, kesendirian yang kamu lalui adalah latihan untuk menjadi kuat, nggak manja, menginspirasi. Oke?”

Kamu menggangguk. Tapi, anggukanmu seperti seseorang yang takut.

“Merasa takut itu normal, kok. Tapi, ketakutanmu bukanlah firasat atau ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Ketakutanmu adalah perasaan, bukan realitas masa depan yang sebenarnya.” 

Kamu berjalan ke arah dinding. Mencabut pisau-pisau yang menusuk. Menyisakan darah yang tetap mengucur dan luka basah. Ini patah hati yang tak cepat sembuhnya. Tapi ini juga jadi patah hati yang banyak pelajarannya.

Agar tak jatuh ke orang yang salah lagi.

“Kamu siap masuk ke pintu berikutnya?”

Pintu Usia 24 telah berdiri tegap di belakangmu.

Setahun sebelum 25. Apakah aku sudah sukses? Sudah sampai mana aku berjalan?

Kamu berjalan menuju pintu. Dan, membukanya penuh ragu.

Sekarang, usiamu beranjak 24. Dan, kamu berdiri di depan sebuah gedung klasik bernama ‘Museum of Yourself’.

Museum Diri Sendiri? Apa isinya, ya? Maka, melangkahlah kamu ke sana.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed