22.⁠ ⁠⁠Usia 22: Usia-Usia Sedih Belum Membanggakan Orangtua

“Kenapa aku pakai baju dan topi wisuda?”

Kamu duduk di aula yang besar dan kosong. Ini seperti tempat wisuda. Dengan barisan kursi, panggung di depan, dan bangku penonton di tingkat atas. Tapi, tak ada siapa pun di sini, kecuali kamu dan aku.

“Apakah aku lulus kuliah di usia 22?”

“Apa yang terjadi di balik Pintu Lorong Waktu bukanlah ramalan yang akan terjadi di masa depan. Semua yang terjadi di balik pintu ini hanyalah simbolis. Nggak ada ‘ya’ atau ‘tidak’ yang absolut. So, yeah, kamu bisa aja lulus di usia 22 tahun, atau sebelum itu, atau sesudah itu, atau nggak sama sekali — you’ll never know. Pintu Lorong Waktu ini adalah bahan pembelajaran untuk kehidupan nyatamu dan sebagai pengingat PR-PR yang belum kamu kerjakan dan harus kamu kerjakan di usia sekian.”

“Jadi, aku bakal jadi apa? Aku bakal jadi apa setelah lulus? Apa aku udah bisa banggain orangtua aku?”

Aku duduk di sampingmu. Memandang panggung yang kosong ini.

“Kamu mau dengar bocoran yang kejam tentang kehidupan?”

“Apa lagi?”

“Cari kerja tuh susah banget. Banget, banget, banget. Nyari duit juga nggak segampang itu.”

“Jadi, apa yang harus aku persiapkan? Apa lagi yang harus aku tahu?”

“Usia 22 adalah masa-masa ingin membuktikan, ingin membanggakan ayah dan ibu lewat keberhasilan: kerja di kantor bergengsi, penghasilan yang cukup, financially independent. Tapi, malah jadi pembuktian yang mengecewakan.

Usia 22 adalah masa-masa terkejam dalam membandingkan diri dengan orang lain.

“Usia 22 adalah masa-masa di mana kamu harus menyeimbangkan kelembutan dan ketegasan kepada dirimu. Tegas dan keras dalam berjuang. Lembut terhadap penolakan, kegagalan dan diri sendiri.

“Terus aku harus gimana?”

“Sebentar, aku mau tanya dulu. Menurutmu, mana yang lebih mahal: gold atau diamond?”

Diamond.

“Sekarang, mana yang lebih mahal: diamond atau emerald?”

Emerald.

“Tahu kenapa?”

Kamu menggeleng.

“Semakin langka, semakin mahal. Maka, buatlah dirimu langka. Be so good at something. Menulis, desain, public speaking, ilmu bersih-bersih, produk kecantikan, apa pun yang baik dan bermanfaat. Membacalah lebih banyak. Pelajari bidangmu lebih dalam. Capai pemikiran kritis, penalaran yang mendalam, problem solving yang baik. Karena skill tanpa critical thinking, strong reasoning, problem solving nggak akan membawamu ke mana-mana. Lalu, kombinasikan skill-mu dengan skill-skill yang esensial, seperti kemampuan berbahasa Inggris, pemahaman bisnis, pemasaran digital, pembuatan video serta penyuntingan, copywriting. Tapi, kamu nggak harus ahli dalam semua hal itu. Cukup satu dan dua, lalu kombinasikan dengan skill utamamu. Begitulah caramu langka, tapi tetap marketable.”

“Kenapa kamu baru bilang ini sekarang? Kan, kalau aku tahu lebih awal, aku lebih bisa nyiapin ini.”

“Normalnya, hal-hal seperti ini baru kamu sadari di usia yang lebih tua dari usiamu yang sekarang. Pada masa-masa saat kamu merasa sudah terlambat. Makanya, aku memberi tahu kamu di Pintu Usia 22. It’s earlier than it should be.” Dan, aku tak tahu berapa usiamu sekarang saat membaca baris ini, tapi fakta bahwa kamu masih mampu membaca baris ini, di hari ini, di usiamu yang ini… itu artinya kamu belum terlambat.

Tapi, kalau pun terasa seperti terlambat, terus kenapa? Apa salahnya terlambat? Siapa yang berani bilang kamu terlambat selain dirimu?

Apa. Salahnya. Terlambat?

Di kepalamu, seperti ada lampu yang menyala.

Di bibirmu, ada senyum yang terbit.

Dan, setiap kali kamu menemukan suatu pelajaran di balik pintu-pintu ini, pintu baru akan muncul.

Karena di hadapan kursi-kursi kosong ini, di atas panggung kosong itu, Pintu 23 telah hadir.

Namun, ada sesuatu yang berbeda di Pintu 23 ini.

Daun pintunya terlihat rapuh dan lapuk seakan baru saja terjadi badai.

Bakal ada apa di usia 23, ya, matamu seperti bertanya.

Tapi, langkahmu beranjak, tanganmu memutar kenopnya.

Dan, sekarang, usiamu 23, berada di suatu ruangan berwarna merah muda yang porak-poranda seperti baru sajad terjadi badai.

What just happened?

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed