21.⁠ ⁠⁠Usia 21: Usia Capek Mengejar, Tapi Tak Pernah Sampai

“Kenapa kita ada di padang pasir?”

Kita melangkah di gurun ini. Matahari di atas kepala bergerak ke barat, bersinar seperti jeruk bulat sempurna yang tergantung di udara.  Kita meninggalkan jejak-jejak kaki di belakang, membiarkan angin meniupnya sedetik kemudian.

“Karena beginilah rasanya usia 21 tahun,” jawabku.

“Maksudnya?”

“Kita jalan aja dulu.”

Jadi, kita berjalan dan berjalan dan berjalan.

Mencoba mencari petunjuk. Tapi, petunjuknya tak pernah datang.

Dan, aku melihat kucuran keringat mengalir di pelipis dan hidungmu. Keringat juga membentuk gambar pulau-pulau di kaosmu.

“Aku capek. Aku haus,” katamu, kemudian berhenti sejenak, bernapas sejenak.

Lalu, pandanganmu menyebar ke gurun pasir ini.

Di satu titik, matamu berbinar. Ada sesuatu.

Telunjuk kirimu mengarah ke utara. “Kayaknya, aku lihat air deh.”

Jadi, kamu melangkah cepat dan semakin cepat. Sebelum matahari terbenam.

Dan, kamu sangatlah haus.

Kamu berlari dan berlari.

Mengejar dan mengejar.

Entah bagaimana, kamu tak pernah sampai. Seakan air itu selalu ada di ujung sana, selalu jauh.

Fatamorgana.

“Apa ini?! Kenapa pengejaran ini nggak pernah berakhir?!”

Jadi, aku bilang,

“Usia 21 adalah masa-masa mengejar tapi tak pernah sampai. Usia 21 adalah masa-masa menanam tapi tak pernah memanen. Usia 21 adalah masa-masa berjuang tapi tak pernah melihat hasilnya. But you need to.

But why?

“Karena aku — dirimu di masa depan — nggak mau hidup dalam penyesalan seumur hidup. Kamu butuh merelakan usia 21 ini dengan susah payahnya berjuang. Bukan cuma 21. Maybe some years in your 20s. Supaya kita nggak perlu semenyesal itu di masa depan. Menyesal itu rasanya lebih susah daripada susahnya berjuang.”

Kamu tertegun. Mungkin, kamu berusaha mencerna apa yang aku katakan. Mungkin, kamu berusaha menerima fakta ini, tapi berat. Thank you for trying to understand.

“Usia 21 memang rasanya seperti berada di padang pasir dan kehausan, lalu kamu melihat sumber air dari kejauhan, lalu kamu mengejarnya, sampai lelah, hanya untuk tahu bahwa itu hanyalah fatamorgana. Tapi, fatamorgana itu kayak ilusi kebahagiaan yang kamu lihat di hidup orang lain. Mereka yang udah sukses duluan. Mereka yang udah menemukan kisah cinta yang indah. Mereka yang udah beruntung sejak lahir. Kamu melihat mereka seakan-akan mereka sudah nggak struggling lagi dalam hidup. Kamu melihat mereka seakan-akan mereka sudah bahagia secara utuh di dunia yang tidak utuh ini. Tapi, persepsimu itu hanya fatamorgana. Ini pengejaran yang nggak akan pernah berakhir.”

“Jadi, aku harus apa? Berhenti mengejar? Berhenti mencoba? Tetap berjuang? Apa?”

“Berhenti melihat hidup orang lain sebagai standar yang harus kamu lalui. Kamu bakal capek terus. Kamu bakal merasa nggak pernah sampai. There will always be someone better, but there will always be one you. So, you have to know what you are really chasing and why you’re chasing it.

Lalu, aku mengerlingkan pandanganku ke sisi kanan kita.

Karena, di sana, Pintu 22 telah berdiri tegap.

Wajahmu lesu. Aku tahu kamu takut. Takut fakta pahit apa lagi yang harus kamu telan. But you need to.

I will never be ready,” kamu menarik napas, sebelum melanjutkan, “But I’ll do it, anyway.

Kamu menarik langkah.

Membuka pintu.

Dan…,

… ada sedikit rasa bangga datang di hatiku—karena kamu mulai berani.

Lalu, kulihat punggungmu menghilang, tertutup Pintu Usia 22.

Karena, sekarang, usiamu 22 tahun. Dan, kamu sedang duduk di sebuah aula yang besar, mengenakan topi wisuda.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed