Text
Kamu terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar.
Jadi, kuhampiri. Duduk di ujung tempat tidurmu dan bertanya, “Lagi mikirin apa?”
“Gimana, ya, ngomongnya,” gumammu, meninggalkan sisa ucapanmu di udara, masih menatap langit-langit kamar
“Rasanya kayak aku udah di ujung masa mudaku. Aku takut aku menyia-nyiakan masa remajaku. Aku takut beranjak 20 tahun. Aku bahkan masih nggak tahu mau jadi apa. Kadang, aku pengen jadi penulis, tapi kayaknya emang nggak bakat. Kadang, aku pengen jadi konten kreator, tapi kontenku nggak pernah berhasil. Kadang, aku pengen jadi pebisnis, tapi ide nggak pernah datang. Atau, kalau ada ide, aku selalu bingung mulai dari mana.”
I see you.
Usia 19 rasanya seperti hidup di dua dunia: kadang, kamu ingin bersenang-senang, mencoba hal baru, bercengkerama dengan teman-teman; tapi, kadang, kamu hanya ingin berbaring di tempat tidurmu, mendengar perang di otakmu tentang masa depanmu yang penuh ketidakpastian, dan itu membuatmu ketakutan. Usia 19 rasanya seperti seseorang yang selalu tertawa di depan banyak orang, tapi menangis saat tak ada seorang pun.
“It’s good that you’re scared, it means you care.”
Pandanganmu jatuh padaku.
“Kamu, kan, datang dari masa depan, aku boleh tanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Menurutmu, aku menyia-nyiakan masa remajaku?”
“Well… no, karena…
“Masa remajamu nggak ditentukan dari seberapa banyak teman yang kamu punya, seberapa jauh kamu pergi, seberapa banyak ‘i love you‘ yang kamu terima. Masa remajamu ditentukan berdasarkan apa yang kamu perjuangkan untuk dirimu sendiri. Dan, aku punya satu penyesalan tentang itu.”
“Penyesalan?”
“Iya, penyesalan.”
“Apa penyesalan itu?”
“Aku nggak pernah mengizinkan diriku menjadi seorang pemula.”
“Maksudnya?”
“Setiap kali kamu mencoba hobi baru atau belajar skill baru atau datang dengan suatu ide bisnis, kamu selalu berekspektasi bahwa ini harusnya berhasil dan sempurna pada percobaan pertama. Itu nggak masuk akal. Dan…
“Ketika kamu mencoba menulis dan tulisanmu jelek, kamu langsung menyimpulkan, ‘Oh, emang aku nggak bakat di sini.‘ Ketika kamu mencoba skill baru atau mengerjakan ide bisnis, lalu kamu stuck, kamu langsung berhenti gitu aja, melarikan diri dari rasa sulit, pusing, dan buntu. Lalu, kamu berbaring di bantalmu, scrolling video di media sosial, dengan dalih menyegarkan pikiranmu—ketika kenyataannya kamu sudah terlalu terbiasa dengan segala yang instan, sehingga menuntut kehidupan nyata juga harus instan. Seinstan scrolling video di media sosial. Seinstan cari jawaban di Google. Seinstan memesan makanan secara online.
“Bagaimana kamu bisa jadi seorang yang ahli kalau kamu nggak pernah mengizinkan dirimu menjadi pemula? Apakah pemain sepak bola bisa langsung memainkan pertandingan dengan jago? Nggak, kan. Dia juga harus rela berlatih bertahun-tahun. Harus rela dimarahin coach bertahun-tahun. Rela malu, rela bermain jelek, rela menjadi pemula. Sampai akhirnya jadi ahli.
“Jadi, apa pun yang sedang kamu perjuangkan, mulailah dengan jelek, berantakan, amatiran, cringe. Singkirkan sisi perfeksionismu. Nggak realistis bisa langsung jago dalam percobaan pertama. Atau, kedua. Atau, ketiga. Seiring kamu mencoba, belajarlah menganalisa apa yang kamu kerjakan, cari tahu mana kurangnya, mana bagusnya. Perbaiki yang kurang, tingkatkan yang sudah bagus. Mungkin, di percobaan keseratus atau seribu, baru bisa mulai jago. Tapi, itu pun juga nggak akan sempurna. It takes years, and it’s normal that way. Be ugly. Be messy. Be cringe. Be okay being an amateur.”
Jadi, izinkanlah dirimu menjadi seorang pemula.
“Be okay being an amateur,” kamu mengulang apa yang aku katakan sambil mengangguk.
Lalu, kamu bangkit dari tempat tidurmu.
Dan, Pintu Usia 20 telah berdiri di hadapanmu.
“Siap beranjak 20?”
“Nggak,” jawabmu sambil tertawa ringan, menyembunyikan rasa takutmu.
“Aku janji akan selalu ada bersamamu di Petualangan Lorong Waktu ini.” Kuberikan tanganku untukmu, kamu menggenggamnya, ini kontak fisik pertama kita. Dan, ini aneh. Tapi, juga nyaman: menggenggam tanganmu sendiri.
Kita melangkah bersama menuju Pintu Usia 20.
Sebelum membuka pintu, kamu menatapku sekali lagi. Seakan matamu berbicara, apakah kamu yakin. Aku mengangguk.
Pintu terbuka. Usiamu menjadi 20. Dan…
… kita kembali ke ruangan putih tak berbatas.