18.⁠ ⁠⁠Usia 18: Usia-Usia Dipaksa Mandiri, Merasa Sendiri, Tanpa Ada yang Memahami

Pintu Usia 18 terbuka.

Dan, sekelilingmu adalah padang rumput yang sangat luas. Sejauh mata memandang. Dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning di segala penjuru.

Dan, aku, dirimu dari masa depan, setia mengikutimu dari belakang.

Mendengar langkahku, kamu berbalik.

Saling berpandangan seakan bertukar informasi.

“Hidup semelelahkan dan semembingungkan ini, ya?” ungkapmu.

Usia 18 adalah masa-masa transisi. Harus belajar apa-apa sendiri. Harus terbiasa dengan fakta bahwa tidak ada yang benar-benar peduli dan mengurusi hidup kita. Sehingga kita yang harus belajar inisiatif sama hidup kita sendiri.

Usia 18 adalah usia membiasakan diri sendiri dengan tidak ditolong. Bukan, bukan karena kamu tidak boleh meminta pertolongan—never be ashamed for asking for help. Tapi, di usia 18, kamu akan heran mengapa orang-orang tidak memahami apa yang kamu butuhkan. Usia 18 adalah pembelajaran bahwa kamu yang seharusnya menjadi penolong pertama untuk dirimu sendiri, bukan orang lain.

“Kamu cuma kaget aja.”

“Kaget?”

“Iya, selama ini, kamu, kan, selalu diurus. Kayak, waktu kamu masih kecil, kamu terbiasa mendapat pertolongan dari orangtuamu atau orang dewasa. Sekarang, bahkan orang dewasa nggak selalu bisa memenuhi pertolongan kamu. Atau, kayak, waktu sekolah, kamu terbiasa dibimbing oleh gurumu, ditolong oleh temanmu, tapi, setelah lulus sekolah, semua jadi masing-masing aja. Life is more individualistic when you’re 18. Kamu kaget karena ini hidup yang baru—but this is the real life.

“Hidup bakal selalu kayak gini?”

Aku tidak mengangguk. Tapi, aku juga tidak menggeleng. Karena hidup tidak pernah sehitam-putih itu. “One thing I’m certain of: Kamu bakal terbiasa dengan ini sampai-sampai anak kecil dalam dirimu kaget, kayak, gila, ternyata aku bisa sekeren itu, nge-handle banyak hal sendiri. Dan, kamu juga bakal bersyukur sama keadaan ini karena kamu jadi belajar untuk nggak terlalu bergantung sama siapa-siapa. Emang kamu mau jadi manusia yang nggak bisa ngurus apa-apa sendiri?”

Kamu mengernyitkan alis. “That will be nice aja kalau ada yang bantu.”

“Tapi, terlalu sering dibantu juga nggak bakal bikin kamu berkembang. Ada beberapa hal dalam hidup yang memang harus kita urus sendiri. Ada beberapa hal lain yang memang harus kita minta pertolongan. Kamu pengen, kan, berkembang?”

Aku melihat kamu mengangguk. Meski anggukan itu terlihat seperti ragu. Seperti takut.

“Kalau kamu bingung, itu artinya kamu berada di jalur yang tepat. Karena itu berarti kamu sedang peduli sama hidup kamu. Karena itu berarti kamu sedang belajar menjadi penolong pertama untuk hidup kamu. Akan selalu terasa membingungkan. Akan selalu terasa melelahkan. Dan, memang normalnya seperti itu. Karena ini kali pertama kamu menjalani hidup. Ini kali pertama kamu menjadi dewasa. So, be gentle with yourself.

Sesaat setelah aku berujar demikian, matahari terbenam.

Langit perlahan berubah ungu, lalu menggelap, menggelap, dan hitam pekat.

Di hadapanmu, Pintu Usia 19 telah berdiri tegap, menantimu untuk membukanya.

Namun, untuk kali pertama, kamu tidak menyegerakan langkah kakimu.

Kamu diam di tempat.

Jadi, aku berkata…,

“Sekarang, waktunya masuk ke usia 19 tahun.”

“Kayaknya, aku nggak siap,” jawabmu, memandang pintu itu, tanpa berkedip sedikit pun. Lalu, kamu lanjut berkata,

“Emang lebih baik nggak tahu apa-apa tentang masa depan, ya. Emang lebih baik jalani hidup dengan ketidakpastian karena mengetahui beberapa hal, bukannya melegakan, tapi malah makin bikin takut. I don’t want to know anything anymore.

“Aku mau spoiler sesuatu.”

“Kabar bagus atau buruk?”

“Bagus.”

“Apa?”

“Seperti cerita sebuah film, sebelum happy ending, pasti ada konflik yang bertubi-tubi.”

Bibirmu menarik sedikit senyum. Sedikit saja. Tapi ada.

Lalu, kamu melangkah menuju Pintu Usia 19.

Membukanya.

Sekarang, usiamu 19 tahun, terjatuh di tempat tidur.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed