17.⁠ ⁠⁠Usia 17: Usia Bingung-Bingungnya Passion, Cita-Cita, Masa Depan

Sekarang, usiamu tujuh belas, dan kamu bingung sama masa depanmu.

“Aku harus ambil jurusan apa?”

“Cita-cita yang cocok buat aku apa, ya?”

“Tapi, apa bakatku?”

“Aku bahkan nggak tahu my own passion!”

“Apakah aku mengambil keputusan yang tepat?”

Sini, kubisikkan sedikit bocoran masa depan: Di usia tujuh belas, kamu akan selalu merasa seperti berdiri di ujung tebing bernama ‘Tebing Takut Salah Ambil Keputusan’. Seumur hidupmu, rasanya akan seperti itu sampai kamu mengambil pelajarannya.

Sekarang, kamu berada di ruanganmu di usia tujuh belas.

Berantakan.

Di meja, berserakan buku Persiapan Ujian Seleksi PTN. Layar ponsel menyala, menunjukkan sebuah artikel berjudul ‘Jurusan Kuliah yang Mudah Dapat Kerja’, dan sobekan kertas dan pensil dan pulpen.

Saat pandanganmu jatuh ke arah tempat tidur, kamu melihatku sudah duduk di sana dan tersenyum.

“Kan, kamu datang dari masa depan. Jadi, kamu tahu dong jurusan yang harusnya aku ambil itu apa?”

“I know.” But I also don’t know.

Karena ini bocoran lain dari masa depan: ketika kamu mengira sedang terjebak pada keputusan yang salah, kamu akan mempertanyakan, ‘Tapi bagaimana kalau aku ambil keputusan yang lain?‘ Lalu, ketika kamu sudah mengambil keputusan yang lain, kamu akan menghadapi tantangan dan kesulitan, dan itu membuatmu memikirkan hal yang sama, ‘Tapi, gimana kalau aku ambil keputusan yang lain?‘ Tidak akan ada pernah kehidupan yang pasti dan stabil di keputusan yang lain.

Maka dari itu, normal rasanya meragukan keputusan sendiri. Normal rasanya terus-terusan berada di keputusan yang salah.

Kuungkapkan ini semua kepadamu.

“Lalu, passion aku apa?”

Passion itu overrated banget,” jawabku, tapi sesungguhnya tidak menjawab pertanyaanmu.

“Maksudnya?”

Passion selalu ada titik jenuhnya. Kamu nggak akan pernah tahu apa passion kamu yang sesungguhnya sampai kamu hidup lebih panjang. Dan, nggak ada passion yang sempurna di dunia yang nggak sempurna ini. Tapi, saat usiamu tujuh belas, kamu mengira passion adalah sesuatu yang kamu akan enjoy lakukan seumur hidupmu.”

“Bukannya emang gitu?”

“Iya, itu benar. Tapi, itu bukan satu-satunya makna dari passion.”

“Terus, apa makna lainnya?”

Passion adalah sesuatu yang kamu mau perjuangkan meski kamu sedang berada di titik terendah atau titik terjenuh. Passion adalah sesuatu yang akan kamu selalu cari cara untuk mencintainya, menikmatinya, menghargainya. Passion adalah komitmen meskipun motivasinya sedang hilang.

“Jadi, aku nggak harus pilih jurusan sesuai passion, gitu?”

“Kalau kamu bisa pilih sesuai passion, better. Kalau nggak, ya nggak apa-apa. Tapi, kamu benar-benar harus research. Cari tahu. Gali informasi sedalam-dalamnya. Minta petunjuk sama Allah karena kita sama-sama nggak tahu apa yang masa depan sembunyikan. Lalu, pasrahkan keputusanmu kepada Allah. Kalau kamu sudah mengerjakan semua hal yang baik, nggak akan ada keputusan yang benar atau salah. Yang ada hanyalah keputusan yang tepat—yang memang harus kamu lalui.”

“Tapi, aku takut.”

“Kalau kamu takut mengambil keputusan, it’s good: itu pertanda kamu sangat peduli pada hidupmu dan mengusahakan sebaik-baiknya.”

“Tapi…”

“Semua yang akhirnya terjadi adalah kepingan amunisi yang kamu butuhkan untuk menghadapi masa depan. Semua yang akhirnya kamu lalui adalah titik-titik kecil, yang nanti di masa depan, kamu bisa menghubungkan titik-titik itu dan melihat gambaran besar dari ini semua. You’re always exactly where you need to be, okay?

“Oke.”

Bibirmu mengembangkan sebuah senyum. Tepat saat itu, Pintu Usia 18 muncul bersama asap tebal di kamar ini.

Kamu membukanya.

Dan…

… kamu sudah tak lagi di sekolah.

Selamat datang di kehidupan kampus.

Selamat datang di kehidupan setelah lulus.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed