16.⁠ ⁠⁠Usia 16: Usia-Usia Jatuh Cinta. First Love, First Heartbreak

Usiamu enam belas, dan kamu kembali berada di kelas.

Tapi, di kelas ini, ada tiga orang.

Kamu, berdiri di dekat Pintu Lorong Waktu.

Aku, duduk di salah satu bangku. Dan, di sampingku…

Ada cinta pertamamu di usia enam belas.

Cinta pertama, harapan pertama, patah hati pertama. Duduk di kursinya. Sedang memakan bekalnya.

Terjadi gempa di hatimu.

Hatimu bergumam, “Jangan sampai dia lihat aku. Jangan sampai dia lihat aku.”

Jadi, kamu memutar badanmu, masuk ke pintu itu lagi, tapi kamu selalu kembali ke sini.

Karena ada pelajaran yang harus kamu ambil di sini.

“Dia nggak bisa lihat kamu, kok,” kataku, melambaikan tanganku agar kamu melangkah ke sini.

Sambil berhati-hati dan memelankan langkah, kamu berjalan.

Kemudian kamu duduk di depan aku dan dia—cinta pertamamu.

“Beneran dia nggak bisa lihat aku?”

“Tenang.”

Jeda yang lama. Dia masih makan. Kamu memandangnya.

“Sebenarnya, dia suka sama aku nggak, sih?”

“Aku juga nggak tahu.”

“Kamu ngaku datang dari masa depan. Tapi, setiap aku tanya, kamu selalu nggak tahu apa-apa. Terus ngapain kamu harus bawa dia ke sini?” tanyamu bingung.

“Aku bukan pembaca pikiran. Aku adalah kamu dari masa depan. Aku nggak tahu perasaan dia yang sesungguhnya tuh kayak gimana. Tapi, aku tahu satu hal dari masa depan,” jawabku.

“Apa?”

“Kamu siap nggak?”

“Kasih tahu aja: did we make it?

Nope.

Tapi, masa depan tak pernah sesederhana itu, ingat? Setelah masa depan yang ini, akan ada masa depan yang lain. Things will always change. Kamu tidak akan pernah tahu siapa jodohmu hingga akhir hayat sampai akhir hayat itu benar-benar datang. You will never know.

Tapi, itu satu fakta yang kuketahui dari masa depan versiku: kalian tidak akan pernah bisa bersama.

“Cinta yang kamu idamkan di usia 16 tahun, nggak akan ada artinya sepuluh tahun mendatang. Kalau pun memang sampai menikah, suatu saat nanti kamu akan menyadari bahwa cinta saja nggak cukup untuk mempertahan suatu hubungan.”

“Terus kenapa aku harus jatuh cinta di usia yang sekarang?”

“Hanya karena kamu menginginkan sesuatu, bukan berarti kamu harus selalu mengejarnya. Sungguh sangat indah bahwa kamu jatuh cinta di usia enam belas. Tapi, ini bukan usia untuk mengejar cinta.

“Di usia enam belas, kamu harus menyadari bahwa perasaan nggak boleh dan nggak berhak jadi pemimpin atas segala keputusanmu.

“Di usia enam belas, kamu harus belajar memprioritaskan hidup. Hidup selalu menyimpan makna tersembunyi dari suatu kejadian. Saat kamu jatuh cinta di usia semuda ini, bukan berarti itu yang harus diprioritaskan. Malah, makna tersembunyinya adalah kamu harus aware terhadap distraksi-distraksi yang dapat menjauhkanmu dari kesuksesan di masa depan. Cinta adalah distaksi yang lumrah di usia tersebut. Cinta belum bisa jadi prioritas di usia enam belas. Meskipun cinta terasa seperti hal yang sangat penting dan sangat kamu butuhkan—it is not at sixteen.

“Tapi, aku juga ingin disayangi…”

“Usiamu baru enam belas. Masih sangat muda. Cinta pertamamu juga masih sangat muda. Kamu nggak akan pernah bisa merasa dicintai secara utuh oleh seseorang yang belum berkembang secara utuh. Memiliki hubungan percintaan di usia semuda ini akan membuatmu semakin nggak dewasa dalam menjalani hidupmu. Karena, di usia enam belas, kalau kamu selalu menuruti perasaanmu, kamu nggak akan sempat mempedulikan hal-hal penting lain di hidupmu selain cinta.

“Dan, memiliki hubungan percintaan di usia semuda ini akan selalu menjadi hubungan yang toksik. Karena kamu belum cukup dewasa untuk memahami perasaan yang besar ini. Dia juga belum cukup dewasa untuk memahami perasaan yang besar ini, sehingga berefek pada perlakukan dia kepadamu. Dia nggak tahu cara memperlakukanmu secara dewasa. Kamu juga. Dia nggak tahu cara menyelesaikan suatu konflik karena dia juga belum selesai dengan dirinya. Kamu pun begitu. Di usia enam belas, cinta akan terasa seperti tuntutan pekerjaan yang akan beralih menjadi episode patah hati. Tapi, itu bukan cinta. Itu cuma adiksi. Seperti narkoba. Dengan cara yang puitis dan indah.”

“Terus gimana cara aku menghentikan perasaan ini?”

“Kamu nggak bisa menghilangkan rasa cinta ini, dan kamu nggak harus menghilangkannya. You’re allowed to feel it. Kamu cuma butuh menghentikan segala aksi mengejarnya, aksi mencari tahu kabarnya, aksi menyebut namanya dalam doa, dan segala aksi yang berhubungan dengannya. Masih ada PR di usia lima belas yang harus kamu kerjakan juga, kan?”

“Susah banget,” keluhmu.

“Memang harus susah. Because you will be something precious.

Jadi, hanya karena kamu jatuh cinta, bukan berarti kamu harus mengejarnya.

Sekarang, kamu siap memasuki Pintu Usia 17?

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed