15.⁠ ⁠⁠Usia 15: Usia Capek-Capeknya Sama Sekolah dan Dramanya

Sekarang, usiamu lima belas, mengenakan seragam putih abu-abu.

Berdiri di bawah langit senja yang terik. Di lapangan sekolahmu.

Semua memori dalam kepalamu terhapuskan. Semua memori kembali ke usia lima belas. You’re literally back to fifteen.

Dan, kamu melangkah menuju kelasmu saat usiamu lima belas.

Kamu membuka pintunya. And, it’s all so nostalgic.

Ruang kelas yang kosong. Bangku yang sepi. Sedikit berantakan. Refleksi matahari senja keemasan di dinding, berbentuk seperti jendela.

Dan, di sana, di bangkumu, seseorang duduk.

Hi, it’s me again—dirimu di masa depan. Tersenyum, melambaikan tangan, dan menantimu datang kepadaku.

Maka, melangkahlah kamu menuju bangku lamamu. Melangkah menuju keberadaanku.

Duduk di hadapanku.

“Aku jadi apa di masa depan?” tanyamu di usia lima belas.

Pertanyaan itu. Lagi.

Aku mengernyitkan dahi. Masalahnya, begini:

Masa depan tidak sesederhana, ‘Oh, kamu udah jadi ini.

Karena setelah masa depan ini, akan ada masa depan yang lain, and things will always change, and you will always evolve. Aku tidak bisa melabelimu dengan satu kejadian yang terjadi di masa depan. Dan, seharusnya, kamu tidak melabeli dirimu dengan satu hal juga. Dan…

“Aku nggak mau kasih tahu apa yang terjadi sama kamu di masa depan.”

“Lho, kenapa? Buruk, ya?”

“Enggak, kok.”

“Terus?”

“Kalau aku bilang rahasia masa depan kepadamu, dan kamu tahu kamu bakal sukses, aku khawatir kamu nggak bakal berusaha sekeras itu, dan itu bisa saja mengubah nasib kita di masa depan. Dan, aku—dirimu di masa depan—yang harus merasakan konsekuensi dari kamu yang kurang mau berjuang, karena mengira pasti sukses. Atau…

“Kalau aku bilang rahasia masa depanmu adalah menjadi orang gagal, kamu juga nggak bakal mau berjuang sekeras itu, karena kamu tahu itu semua sia-sia, dan itu akan mengubah nasib di masa depan, dan lagi-lagi akulah yang harus menanggung konsekuensinya. Dan, itu bakal menyakiti aku. So, you’re not supposed to know the secret of the future.

“Dan, menjalani masa depan akan selalu terasa seperti tenggelam dalam ketidakpastian, tapi memang harus begitu. Karena kalau kamu tahu masa depan, perilakumu di masa sekarang akan berubah, dan masa depan akan ikut berubah, it will always be unpredictable.”

“Jadi, ngapain aku harus ketemu kamu kalau kamu nggak bisa kasih tahu apa-apa tentang masa depan?”

Aku berdiri dari bangkuku, melihat awan keemasan dari jendela. Kamu mengikutiku dari belakang.

“Aku bisa kasih beberapa persiapan, sih.”

“Apa aja?”

“Satu: Jangan gampang meremehkan apa pun dalam hidup ini.”

“Maksudnya?”

“Sekarang, usiamu lima belas.”

“Oke, terus?”

“Di usia lima belas, kamu akan membenci sekolah ini. Dan, mata pelajaran di sekolah ini. Di usia lima belas, kamu punya suatu tendensi: saat kamu membenci sesuatu, kamu nggak bakal peduli pada hal itu. But I’m telling you: di usia lima belas, di sekolah ini, inilah momentum kamu untuk menemukan apa yang benar-benar kamu suka dan apa yang benar-benar kamu nggak suka. Lewat mata pelajaran di sekolah. Bagaimana kamu bisa tahu mana yang kamu benar-benar suka dan benar-benar tidak suka kalau kamu belum pernah benar-benar menyelaminya? Hanya menduganya dari permukaan? Menyerah saat sudah terlalu malas berpikir?

“Meskipun ini kedengaran payah banget, tapi kamu butuh menghargai dan mempelajari mata pelajaran di sekolah. Iya, bakal banyak chapters yang nggak bakal kepake di dunia nyata. Kamu mungkin bakal lupa sama aljabar, logaritma, integram. Tapi, kamu nggak akan lupa bagaimana kamu berjuang memahaminya, mempelajarinya, menyelesaikan soal-soalnya. Dan, itu akan mengasah skill problem solving-mu yang akan sangat berguna di dunia kerja—di masa depan. Dan, itu bisa kamu dapatkan kalau kamu sungguh-sungguh menghargai dan mempelajari mata pelajaran di sekolahmu. Itu akan sangat membantuku di masa depan.

“Di usia lima belas, kamu butuh belajar dengan rasa tidak nyaman, kamu butuh belajar menyukai—atau, at least, beradaptasi pada—hal yang menyebalkan. Dan, kamu bisa melatih itu lewat semua mata pelajaran di sekolah. Karena kehidupan setelah masa sekolah, kamu akan menemui banyak hal yang nggak nyaman. Kalau kamu sudah terlatih dari sekarang, kamu akan lebih adaptif sama ketidaknyamanan di masa depan.”

“Di usia lima belas, belajar terasa seperti hal yang payah dan membosankan. Tapi, itu adalah habit yang kamu sangat butuhkan di masa depan. Karena, seumur hidup, kita harus terus belajar. Salah satu alasan mengapa orang-orang bisa berhasil di masa depan adalah karena mereka orang-orang yang terus lapar akan ilmu baru. Nanti, setelah kamu lulus sekolah, kamu sudah nggak diwajibkan belajar lagi—tapi, itulah masa-masa penting untuk terus belajar. Kalau nggak, you won’t make it in the future. Dan, kalau kamu nggak mempersiapkan habit belajar dari sekarang, aku khawatir kamu akan jadi orang yang ikut arus aja. Dan, itu akan menyulitkan aku di masa depan.”

Mungkin, saat kamu membaca kata-kataku, usiamu tak lagi lima belas, tapi just in case you feel like you’re late—terus, kenapa? Emang kenapa kalau terlambat? Lagian, siapa yang berhak menentukan siapa yang terlambat dan siapa yang nggak—kecuali diri sendiri

Mungkin, kamu belum melakukan apa yang harusnya kamu lakukan di usia lima belas. Maka, ini akan menjadi PR yang abadi sampai kamu mengerjakannya. Jadi, kerjakan PR ini berapa pun usiamu.

Aku mengambil napas yang dalam. Kamu juga menarik napas panjang.

Lalu, ada suara pintu yang berderit.

Dari depan.

Kita menoleh.

Benar, di depan kelas, di depan papan tulis, telah berdiri Pintu Usia 16.

“Kamu paham apa yang aku sampaikan tadi?” tanyaku.

Kamu mengangguk dan berujar, “Dan, aku nggak akan meremehkan. Dan, aku akan belajar lebih giat.”

“Jadi, lanjutkanlah perjalananmu” ucapku, menunjuk Pintu Usia 16.

Melangkahlah kamu.

Membuka Pintu Usia 16.

Now you’re turning sixteen.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed