45. Overthinking is my hobby, and I hate it…

Hai, ini aku, Overthinking, dan aku mau minta maaf sama kamu.

Maafin aku yang sering bikin kepalamu berisik sampai-sampai jam tidurmu terganggu.

Maafin aku yang udah menghambat kamu dari mengambil kesempatan-kesempatan yang harusnya kamu ambil.

Maafin aku yang sering mengacaukan hubunganmu dengan orang-orang terdekat kamu.

Maafin aku yang sering mengalihkan kamu dari kemampuan bermimpi besar.

Ini surat terakhir dari aku, dan aku minta maaf…

… karena aku mungkin nggak akan pernah bisa benar-benar pergi dari hidup kamu.

Kalau aku bisa pergi, lebih baik aku pergi.

Karena aku tahu kamu nggak suka aku.

Tapi, aku ada karena aku peduli sama kamu.

Aku ada karena aku pengin ngejaga kamu.

Aku adalah bagian dari dirimu yang nggak mau terluka.

Aku adalah kumpulan memori dan trauma.

Maka, maafkan aku, aku nggak bisa berubah banyak.

Tapi, kamu bisa mengubahku.

Aku butuh kamu untuk mengubah aku.

Aku ingin kamu melawan aku.

Karena aku masih akan datang kepadamu

seperti gulungan ombak,

tapi kamu akan belajar cara berenang di bawah ombak.

Aku masih akan datang kepadamu

seperti hujan deras,

tapi kamu akan tahu cara bermain di bawah hujan.

Aku masih akan datang kepadamu

seperti angin topan,

tapi kamu akan tahu cara menari di dalam angin topan.

Aku nggak akan pergi, tapi, kali ini,

kamu bisa menjinakkan aku.

Dan, jujur, ya…

… aku tuh bangga, senang, kewalahan, kebingungan setiap kali kamu berusaha melawan aku. Aku bangga, senang, kewalahan, kebingungan ketika kamu membaca buku ini, melalui ratusan halaman, mengumpulkan belasan strategi untuk melawan aku.

Kamu tahu kenapa aku bangga dan senang?

Karena, akhirnya, untuk sekian lama, ada interaksi antara aku dan kamu.

Selama ini, kamu tuh terlalu patuh sama aku. Dan, semakin kamu patuh, semakin mudah aku memanipulasi kamu.

Dan, itu nggak seru. Kamu terlalu mudah dikalahkan. Terlalu mudah dikelabui.

Tapi, sekarang, aku mulai kewalahan setiap kali kamu menjawab argumen-argumen aku. Aku kebingungan ketika kamu berusaha melakukan apa yang kamu takutkan.

Dan, itu bikin permainan ini jadi lebih seru.

Kamu jadi nggak mudah dikalahkan.

Tapi, kadang, aku masih menang. Di lain waktu, kamu yang menang. Nanti, aku menang lagi. Lalu, aku menang lagi. Tapi, kamu akan merebut piala kemenangan lagi. Lalu, berhasil lagi. Menang lagi. Nanti, gantian aku mengalahkan kamu. Tapi, semakin sering kamu mengalahkan aku, semakin banyak piala kemenangan yang akan kamu kumpulkan. So, you’ll always win at the end of it all.

Dan, ini adalah pertandingan seumur hidup. Bukan cuma kamu yang capek, aku juga capek memikirkan gimana cara mengalahkan kamu yang makin ke sini makin tangguh, makin kuat, makin berani, makin bodo amat.

Tapi, aku juga bangga punya lawan yang makin berkelas.

Karena, setelah sekian lama, akhirnya, kamu memasuki Era Pemberontakan, and I like this attitude from you.

Sekarang, sudah waktunya aku pergi, dan aku nggak tahu kapan lagi kita bisa berinteraksi seperti ini.

 

So, congratulations!

And, goodbye.

Dan, jaga dirimu.

Baik-baik sama dirimu.

Berpihak sama dirimu, jangan sama aku. Kita, kan, musuh.

Tapi, aku sayang sama kamu, you are my favorite person.

Makanya, aku banyak nyusahin kamu dengan kekhawatiran-kekhawatiran bodoh aku.

Aku sayang sama kamu, sedikit terlalu berlebihan.

Makanya, aku malah toxic sama kamu.

So, I’m sorry…

I’m really sorry…

[the end][the beginning]

Sebelumnya
error: Not Allowed