23. Ceritain Overthinking: Bukannya ditenangin, malah berantem.

Aku mau wawancara kamu. Cukup tujuh pertanyaan. Jawab jujur aja–no judgment.

  1. Apakah kalimat-kalimat berikut ini adalah suara bising di kepalamu tiap malam?

    Gimana kalau dia ninggalin aku? Kok dia udah mulai berubah, ya? Apakah dia sedang melakukan sesuatu di belakangku? Dia lagi sama siapa? Ngapain? Aku takut banget dikhianati, aku takut banget kehilangan. 

  2. Apakah ini tentang ‘seseorang’? Siapa namanya?

  3. Sampai kamu nggak bisa tidur, ya?

  4. Apakah… saking gelisahnya kamu, kamu akhirnya cerita sama dia tentang overthinking ini? Dan, kamu benar-benar butuh bantuan, masukan, reassurance, kan? Berharap dia mengerti dan menenangkan kamu dengan kata-kata semacam ‘I’m sorry if you feel that way, tapi, tenang, aku nggak akan ke mana-mana, kok, I love you, and that will never change‘?
  5. Tapi, dia nggak pernah bales gitu, kan?

  6. Malah ujung-ujungnya berantem, ya?

  7. Apakah daritadi kamu kebanyakan ngangguk?

Well, kebenaran paling pahit tentang manusia yang harus aku telan tahun ini adalah…

Jangan pernah ceritakan overthinking kamu kepada seseorang yang jadi target overthinking kamu, kecuali kamu mau ujung-ujungnya berantem.

Bukan tanggung jawab siapa pun untuk meredakan overthinking di kepalamu. It’s your own responsibility.

Katakanlah, dia bisa bantu menenangkanmu.

Namun, ketika kamu overthinking sekali, lalu ditenangkan sekali, itu bakal membantu sekali saja. Nanti bakal kambuh lagi.

Kalau kambuh lagi, lalu kamu cerita lagi overthinking kamu tentang dia. Tentang mengapa wajahnya yang nggak enak, tentang kekhawatiran kamu dengan tongkrongannya yang salah, tentang kamu merasa dia nggak peduli lagi.

Dia bakal capek.

Iya, the right person will understand, tapi the right person juga bisa capek. Dan, dari perspektif The Right Person, kamu bisa dianggap ‘The Wrong Person’, dan dia akan mencari The Right Person lain.

Jadi, wajar kalau kamu cerita, dia mendadak defensif, merasa diserang. Karena, dalam perspektifmu, dia adalah orang yang nggak bisa dipercaya. Bagaimana rasanya dituduh sesuatu yang kita nggak melakukannya?

Jadi, sebelum kamu mengkomunikasikan asumsi ini kepada target yang jadi asumsi kamu…

Komunikasikan dulu sama dirimu. Tanya sama dirimu.

  1. Mengapa aku bisa merasakan hal ini? Kira-kira kok bisa gitu?

  2. Apakah ini trigger trauma masa lalu yang sebenarnya nggak ada hubungannya dengan dia? 

  3. Apakah ini rasa insecurity yang nggak ada hubungannya dengan dia?

  4. Apakah ini rasa kesepian yang harusnya jadi tanggungjawabku, bukan orang lain?

  5. Selain mencari sumber ketenangan dari orang lain, apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan luka ini?

Lalu, yang lebih penting…

… komunikasikan kepada Allah.

Jujur aja sama Allah tentang perasaanmu.

Tentang mengapa kamu merasa begini. Tentang perlakuannya yang kamu nggak cocok.

Dan, mohonlah permohonan maaf kepada Allah jika ini berasal dari hubungan yang sebenarnya Allah larang. Meminta maaf kepada Allah sambil memikirkan cara untuk meninggalkan hubungan yang Allah larang ini. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, kok.

Namun, jika ini bukan hubungan yang Allah larang–seperti, pertemanan tanpa unsur cinta atau pernikahan–maka, kamu butuh berhenti mengharapkan orang lain untuk memahami dan menyembuhkan lukamu.

Karena dia nggak tahu rasanya jadi kamu, dan kamu nggak pernah tahu rasanya jadi dia. When it comes to trauma and deep wounds, nggak akan ada titik temu yang utuh. 

Percaya, kamu bisa sembuh meski tanpa bantuan dia. Kamu punya kamu. Kamu punya Allah. Itu udah lebih dari cukup.

Dan, aku berani bilang seperti ini… karena aku juga pernah jadi orang seperti itu. 🙂

Dan, inilah mengapa kita selalu overthinking tentang dia:

Cinta kita kepadanya lebih besar dari cinta kita kepada Allah.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed