24. Aku cuma ingin dipahami…

Kalau aku bilang…

“Apakah kamu berusaha mencoba memahami mereka?”

Kamu pasti merasa…

“Udah sering. Sampai capek. Aku juga butuh dingertiin.”

Tapi, mungkin, di situ masalahnya.

Kamu terlalu berusaha memahami orang lain sampai-sampai kamu nggak punya waktu untuk memahami dirimu sendiri.

Energimu habis untuk memahami orang lain. Makanya, ketika kamu butuh dipahami, kamu terbiasa mencari orang lain. Karena itu yang biasa kamu lakukan untuk orang lain, tapi tidak untuk diri sendiri.

Yes, it’s nice when someone undestands you, tapi… bagaimana mungkin seseorang yang nggak mengenalmu sebagaimana kamu mengenal dirimu bisa memahamimu secara utuh?

Ataukah…, selama ini, kamu selalu mencari orang lain, menggunakan orang lain untuk memahami dirimu supaya tenang?

Tapi, aku paham kadang kita kewalahan sama diri sendiri, and that’s normal.

Tapi, you can’t always use people to understand you.

Ada Allah, yang nggak akan pernah capek sama cerita-cerita kamu, yang nggak akan pernah menginvalidasi perasaanmu, yang menghargai permintaan-permintaan kamu, Tuhan yang paling mengapresiasi.

So, let it out, cry it out… hanya kepada-Nya.

Iya, aku paham kamu butuh suara lain karena ketika kamu berdoa kepada Allah, kamu nggak mendengar suara apa pun selain tangisanmu.

Tapi…

Kadang, suara orang lain nggak akan pernah cukup.

Seperti kamu yang menyuarakan overthinking-mu yang selalu berakhir pertengkaran, atau ucapan sebatas ‘yang sabar, ya‘.

All you need is silence and… let it all go.

Namun, bukan berarti kamu nggak boleh meminta pertolongan atau tanya pendapat orang lain.

Silakan, boleh banget.

Tapi, kamu komunikasikan dulu kepada Allah, lalu kepada dirimu, lalu konsultasikanlah kepada orang yang tidak kamu harapkan mendapat kepedulian darinya.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed