6. maaf, aku nggak seasyik itu

Maaf, aku nggak seasyik itu.

Padahal aku sudah beradaptasi semampu aku, menempatkan diriku dengan tepat, melepas bagian-bagian dari diriku yang nggak cocok sama mereka.

Aku menggunakan bahasa yang mereka gunakan.

Aku selalu berusaha jadi yang paling ceria.

Aku mewarnai diriku dengan warna favorit mereka.

Aku bercanda seperti mereka bercanda meski aku nggak terlalu menikmatinya.

Menjadi yang paling nggak merepotkan.

Aku berhenti menjadi diriku sendiri demi berteman dengan mereka.

I’d do it all, so I won’t feel lonely.

Tapi…

Saat hari-hari kelam datang, saat aku nggak mampu jadi yang paling ceria, saat hatiku lebih sensitif dari biasanya, saat aku sedang nggak bisa menerima candaan, dan episode ini nggak kunjung berakhir…,

Aku bisa merasakan mereka menjauhiku.

Dan, aku sadar nggak ada yang mau berteman sama orang yang sedih.

Semua orang sudah terlalu sedih dalam hidupnya. Mereka nggak mau bertambah sedih lagi dengan keberadaan orang yang menunjukkan sedihnya.

Tapi,

aku nggak masalah menerima mereka kalau mereka lagi sedih, mengapa mereka nggak bisa menerima kalau aku lagi sedih, ya?

Kamu juga ngerasain hal yang sama, kan?

Berusaha cerita sama teman-teman, tapi emosi kita malah diinvalidasi.

Kadang diremehin. Dianggap angin lalu.

Sekarang, aku nggak mau terlalu menampakkan kesedihanku sama orang-orang.

I’m not fine inside, but I’ll look fine outside.

Tapi, secara mental, ini melelahkan banget.

Tapi, perlahan-lahan, aku mulai menemukan seiris solusi.

Begini…

Saat aku lagi sedih, aku buru-buru menunjukkan sedihku karena berharap mereka tahu keadaanku. Aku nggak cerita, aku cuma menunjukkan kalau aku ‘sedih’, dan berekspektasi mereka akan perhatian sama aku.

Tapi…, itu salahku. Aku nggak mengkomunikasikan kenapa aku sedih, hanya menunjukkan kalau aku lagi bete dan sedih, pantes aja aku dianggap nggak asyik.

Bayangin kamu lagi ketemu sama teman kamu yang kayak… beberapa kali tampak nggak mood dan sedih. Ditanya, kenapa, jawab, nggak apa-apa, tapi banyak diam. Jadi bingung, kan, harus ngapain?

Dan, sekarang, aku, kalau lagi sedih, aku nggak akan langsung menunjukkannya kepada teman-temanku. Aku adukan dulu semua sama Allah, mohon pertolongan Allah dulu, lalu fokus mencari jalan keluar sendiri. Kalau memang mentok, aku nggak akan pakai drama ‘nunjukkin diri sedih untuk ngecek apakah mereka peduli’, tapi aku langsung mengkomunikasikannya sama teman-temanku, cerita kenapa aku sedih, dan bantuan apa yang aku butuhkan.

Karena, kadang, teman kita
juga nggak paham
harus ngapain
saat kita lagi butuh mereka.

Dan, ekspektasi kita
nggak selalu sama
dengan persepsi mereka.

Bukannya temanmu nggak peduli,
kamu cuma butuh mengkomunikasikannya
dengan baik.

Dan, kalau temanmu tetap nggak membantu
setelah kamu komunikasikan dengan baik…,

bilang sama dirimu sendiri:

aku masih punya Allah;
aku masih punya diriku;
dan, itu jauh lebih berharga dari apa pun.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed