7. aku cuma butuh teman cerita. satu aja

Aku pernah punya teman cerita,
tapi sekarang aku nggak pernah cerita apa-apa lagi. 🙂

Kamu juga gitu nggak? Kayak…

Sekarang, tuh, bawaannya,
bingung mau cerita sama siapa.

Bukan karena nggak ada siapa-siapa,
tapi karena di masa lalu,
saat kamu cerita,

teman-temanmu malah kayak:

… menganggap remeh
masalah dan perasaan kamu;

… lebih sibuk sama ponsel ketika
kamu lagi butuh banget teman bicara;

… kurang mau memahami posisi kamu,
cuma melihat dari perspektif mereka aja,
jadi saran mereka tuh kayak terlalu subjektif,
nggak sesuai sama kesulitan yang kamu alami.

… mereka udah beda aja,
nggak kayak dulu lagi.

Aku, kan, juga ngerasa kayak gitu, ya.
Nah, menurutmu, apa yang seharusnya kita lakukan?

Mencari teman baru yang lebih baik, lebih menghargai, yang sefrekuensi dengan kita. Lalu, menjadikan teman ini sebagai teman cerita, udah satu aja, jangan banyak-banyak.

Menurutmu, itu ide yang oke nggak?

Coba, dipikir lagi, kira-kira itu ide yang bagus nggak?

Kenapa demikian?

Coba kamu jawab dulu. Baru lanjutkan baris ini.

Aku udah nyoba cara ini. Punya satu teman cerita. Satu aja. Mulanya, it was fun and comfortable. Tapi…

Lama-kelamaan, aku merasakan kesepian lagi.

Karena aku salah memposisikan diri.

Jadi gini.

Dulu, aku tuh beneran nggak punya teman. Lalu, sekalinya punya teman, aku merasakan nyamannya didengar, leganya mencurahkan isi hati, kepuasan karena nggak sendiri lagi.

Tapi, aku salah memposisikan diri.

Aku kira kalau kita punya teman cerita, kita bebas cerita apa pun. Dan, itu yang aku lakukan.

Aku cerita hampir semuanya. 

Saat ketemu, aku bakal curhat, karena aku senang didengar dan dipedulikan.

Aku menjadikan temanku berperan sebagai segalanya.

Tapi, lama-kelamaan…

Teman kita juga bisa capek.

Teman kita juga butuh sosok yang lebih kuat.

Dan, aku menjadi teman yang lemah.

Jadi, ya, ketemu aku bukan lagi hal yang menyenangkan, tapi membebani, karena aku selalu bawa cerita sedih.

Teman kita juga butuh sosok yang lebih kuat.

Coba, kamu bayangin… kalau dalam hidupmu, ada satu orang, yang baik sama kamu, tapi dia selalu menceritakan semua-muanya sama kamu, setiap hal sepele yang bikin dia kecewa, dia cerita sama kamu. Setiap ketemu, pasti ada curhat sedih. Kira-kira, kamu bakal capek nggak sama orang ini?

Pasti capek, kan? Dan, mungkin, itu yang teman kita rasakan saat kita terlalu sering cerita.

Mungkin, itulah kenapa mereka terlihat berubah… maybe they’re tired.

Karena kalau kita selalu datang sebagai teman, yang dikit-dikit menceritakan kesedihan kita, secara nggak langsung, kita bakal terlihat ‘nggak bisa diandalkan’, ‘cuma bawa kisah sedih’.

Mungkin, itulah kenapa mereka lebih asyik dengan teman-teman lain, karena pertemanan baru mereka nggak, kayak, dikit-dikit curhat, dikit-dikit curhat

Mungkin, pertemanan baru mereka adalah pertemanan yang dewasa, sehat, menyenangkan, dan menguatkan satu sama lain.

Sekarang, kamu pasti mulai ngerasa bersalah, kan?

Nggak apa-apa merasa bersalah. Malah bagus. Itu artinya kamu sadar: aku nggak boleh mengulangi ini lagi.

Dan, nggak apa-apa, ini memang butuh terjadi. Supaya kita belajar. Supaya kita berkembang.

Tapi, ini belum menjawab permasalahan kita:
terus, gimana kalau kamu butuh teman bicara?

Oke, aku tanya lagi…

Menurutmu, kalau kamu cari teman baru yang lebih banyak, lebih baik, lebih menghargai, satu frekuensi.

Lalu, menjadikan mereka sebagai tempat cerita.

Tapi, nggak semua teman mendapat semua cerita. Cukup cerita yang tepat, untuk teman yang tepat.

Kira-kira, ini ide yang lebih bagus nggak?

Coba kamu beneran jawab pakai suara kamu.

Kenapa bagus? Kenapa enggak?

Coba jawab dulu. Baru baca baris di bawah ini.

Aku udah nyoba cara ini, dan aku bisa bilang,
well, ini cara yang lebih baik.

Nggak semua harus diceritakan. Nggak setiap pertemuan harus ada sesi curhat.

Dan, bagikan cerita yang tepat untuk teman yang tepat.

Ini jauh lebih baik, lebih sehat, lebih menguatkan.

Tapi, aku juga menemukan kekurangan dari cara ini.

Ketika teman-teman sudah pulang, kembali ke dunia mereka masing-masing, lalu hanya ada aku sendiri di kamarku, kesepian menyelinap kembali. Kamu ngerasain hal yang sama, kan? Kayak, ada teman, tapi masih kesepian.

Menurutmu, gimana, ya?

Kira-kira… kalau punya pasangan yang 24/7 senantiasa bersama kita, yang sabar dengar cerita kita, yang senantiasa menyemangati kita…

Menurutmu, ini ide yang bagus?

Kenapa iya? Kenapa enggak?

Kamu jawab dulu, baru kamu lihat perspektifku di bawah ini.

Mungkin, ini kedengaran seperti ide yang bagus.

Tapi, kalau kamu ingin membersamai pasangan kamu hanya karena kamu kesepian dan butuh tempat berkeluh kesah…

Kita malah jadi kayak nambah beban di hidup orang nggak, sih? Kayak, ada proses healing yang belum kita selesaikan, lalu kita ekspektasikan orang lain yang menyelesaikannya buat kita.

Bukankah kita juga udah sama-sama belajar kalau nggak ada satu pun manusia yang mampu menampung semua cerita kita, sedangkan mereka juga menampung beban-beban yang nggak mereka ceritakan? Bukankah kita udah sama-sama belajar kalau manusia juga bisa capek sama keluh kesah kita?

Tapi, bukan berarti kamu harus memilih menjauh dan menyendiri.

Aku berharap, sangat berharap kamu segera menemukan pasangan halal yang bersabar mendengar cerita-ceritamu.

Aku berharap, sangat berharap kamu bertemu teman-teman yang lebih baik, lebih banyak, sehingga kamu selalu punya cerita yang tepat untuk teman yang tepat.

Namun, aku berharap, sangat berharap kamu nggak membawa ekspektasi-ekspektasi ‘pasangan/teman cerita yang harus selalu bisa mendengarku, nggak pernah capek mendengarku’.

Tapi, ini belum menyelesaikan masalah kamu. Terus, ke mana harus cerita? Gimana kalau butuh teman cerita?

Sebagai seseorang yang kesepian kayak kamu, aku tahu akar masalahnya.

Penyebab kamu kesepian:

bukan karena kamu nggak punya teman cerita,
tapi karena kamu…

nggak tahu bagaimana caranya berdamai dengan kesendirian saat nggak ada teman cerita.

Coba kamu bayangin:
kamu punya sesosok sahabat yang luar biasa;
yang paling paham keadaan kamu.

Kalau sahabatmu ini ngelihat kamu
dalam kondisi kesepian seperti ini,
kira-kira dia bilang apa?

Coba, kamu bilang itu untuk dirimu sendiri.

Lantangkan lagi suaramu,
lalu kamu ucapkan kembali
kata-kata baik tadi untuk dirimu sendiri,
sambil menepuk-nepuk pundakmu.

I want you to be the best friend for yourself.

Dengan begini, kamu bakal belajar bangkit sendiri, belajar lebih kuat sendiri, sehingga, nanti, saat kamu menjalin pertemanan baru,

ini akan jadi pertemanan yang saling menguatkan,

karena kamu sendiri udah tahu cara menguatkan dirimu,

dan, ini juga akan jadi pertemanan yang lebih sehat,

karena jika suatu saat nanti pertemanan harus berakhir, kamu udah tahu harus bagaimana saat sendiri:

aku, yang jadi penguat untuk diriku sendiri;
aku, yang jadi sahabat untuk diriku sendiri;

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed