Text
“Sekarang aku harus gimana?” tanyamu, sembari melihat para tamu berdiri dan mulai berhamburan ke arah dia.
Harus bagaimana?
Aku teringat Piala Playing Victim yang pernah kumenangkan dulu, dan, sungguh, aku malu memiliki piala itu. Namun, dengan demikian, aku jadi bisa memberitahumu.
“Pertama, satu-satunya cara untuk menang melawan orang playing victim adalah… biarkan dia merasa menang. Tidak perlu mengoreksi narasi di hadapan mereka. Tidak perlu membela diri banyak-banyak. Dia hanya ingin percaya narasinya. Percuma membela diri.”
“Buat dia merasa menang? Masa orang salah dibiarkan menang!”
Namun, kemenangan seperti apa yang bisa didapatkan dari seseorang yang terlalu sering playing victim?
Komunikasi sehat seperti apa yang bisa diharapkan jika satu pihak hanya ingin diberi empati, empati, dan empati, tanpa menyeimbanginya dengan tanggungjawab, kontribusi, inisiatif, ketulusan?
Perubahan seperti apa yang bisa kita ekspektasikan dari keadaan yang sudah terlalu rumit ini?
“Orang-orang yang playing victim tidak pernah sadar kalau mereka sedang playing victim. Mereka sungguhan merasa mereka adalah korbannya. Jadi, percuma. Buang-buang energi. Jadi, jangan bermain di kompetisi Playing Victim ini. Kamu pasti kalah. Dia sudah terlatih sejak lama.
“Jadi, sudah, tak usah didebat, biarkan dia memainkan sandiwara ini, ikuti alurnya, terkejutlah, heranlah, nikmati segala plot twist yang dia lakukan. Kapan lagi diberi peran antagonis di kehidupan orang lain? Toh, ini cuma sandiwara. Toh, ini cuma peran.”
“Ya, tapi, dia suka nambah-nambahin cerita kalau lagi playing victim. Itu ngeselin banget.”
“Kalau dia berbohong dalam ceritanya, mengubah sebagian narasi, maka akan terjadi inkonsistensi pada kisah-kisahnya, sehingga mudah sekali dibantah oleh kebenaran. Tapi, aku juga tidak bisa menyangkal bahwa akan selalu ada orang-orang yang percaya pada narasinya. Tapi, orang-orang yang mendukung mereka juga tipe yang sama seperti mereka. Jadi, ya udah, they are not our people.
“Maka, langkah kedua, ceritakan kebenaranmu hanya kepada orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya, benar-benar mengenalmu. Dan, ketika kamu memutuskan bercerita, kamu harus adil dalam ceritamu. Jangan sampai kamu seperti dia: menghilangkan bagian salahmu, mengubah sebagian kisahnya demi bisa dibela, hanya mencari atensi dan dukungan publik, hanya fokus pada kesalahannya daripada kejadian inti. If you want to speak the truth, let it be for the truth itself.”
“Ada lagi?”
“Saat dia lagi playing victim, seakan-akan dia korban, kan, ya? Padahal kamu yang sebetulnya korban?”
“Iya.”
“Maka ketiga, ketika kamu sedang menjadi korban, belajar berempatilah kepada dirimu sendiri sebelum mencari empati orang lain. Tapi, kamu tak boleh berhenti di situ. Kamu juga harus belajar mengambil akuntabilitas, mengevaluasi diri mengapa kamu bisa menjadi korban, mencari titik salahmu, bukan untuk menyalahkan diri secara berlebihan…
“… tapi untuk menghindari pembenaran diri, untuk melihat ini semua secara adil dan bijaksana. Dan, ini tidak akan menyenangkan, tapi ini dibutuhkan. Agar kamu tidak terperangkap dalam mode victim terus-terusan. Karena itu yang terjadi padanya, selalu dalam mode korban, terbiasa jadi korban, sehingga, sekarang, apa-apa, pasti playing victim. I know you’re not like that, I just don’t want you to turn into that.”
Namun, aku juga paham. Ketika kamu tersakiti, kamu tidak mau berpikir kenapa ini terjadi, kamu hanya butuh dukungan bahwa semua akan baik-baik saja, kamu hanya butuh empati. Dan, itu masuk akal. Tapi, kamu tak bisa menerima hal-hal yang kamu ingin terima saja. Agar tak jadi orang toxic baru.
Karena itulah yang dia — orang toxic dan manipulatif itu — lakukan selama ini: hanya mau menerima dan mendengar apa yang dia mau.
“Maka, keempat, nikmati masa-masa menjadi korban ini. Kapan lagi punya waktu mustajab untuk berdoa? Bukankah doa orang yang dizalimi itu mustajab? Namun, jangan lupa untuk evaluasi, evaluasi, dan evaluasi, karena aku tak ingin kamu menjadi orang yang berdoa meminta keadilan, padahal kamunya yang tidak adil.”
“Terakhir, kamu sudah harus bikin batasan yang tegas. Minimalisir pertemuan dengannya. Jika dia adalah orang terdekat, kurangi intensitas interaksi kalian. Bukan untuk bermusuhan, tapi untuk menghindari benih-benih konflik. Karena orang-orang seperti ini, jika terjadi konflik, mereka jelas akan playing victim lagi, dan itu akan sangat melelahkan. Jadi, mulailah menjauh. Playing victim ini harusnya jadi sinyal untuk lebih menjauh.”
Dan, begitulah. Acara Penghargaan ini berakhir. Pembawa acara menutupnya dengan ucapan terima kasih dan berkata, “Sekali lagi, para hadirin, selamat untuk — ”
Nama toxic itu disebut lagi.
“Selamat telah bertahan sejauh ini. Para hadirin, mari kita berdiri dan memberi tepuk tangan kepada Pemenang Playing Victim malam ini.”
Kamu ikut berdiri. Tapi, kamu tidak memberi tepuk tangan. Kamu hanya tersenyum melihat permainan konyol ini dari kejauhan.
Tiba-tiba, pemandangan di sini memudar, seperti lelehan lilin, lalu putih bersih, lalu ada Pintu Merah bertuliskan Ruang Simulasi Minta Maaf.
Bergegas kamu memasukinya.