Text
Ada manusia yang alergi dingin, alergi kacang-kacangan, alergi produk susu, alergi makanan laut.
Tapi, tahu alergi dia apa? Alergi minta maaf.
Apa pun blundernya, dia tak pernah salah.
Dia tak boleh salah. Dia tak bisa salah.
Apa pun itu, kamu yang salah.
Apa pun pembelaanmu, kamu harus salah.
Jika kamu benar, kamu tetap salah.
Dan, mungkin, itulah kenapa kita berada di sini: di bawah cahaya senja yang hangat dengan jingganya yang pekat seperti kilauan emas jatuh dari langit, berdiri di peron yang lengang, menanti kereta datang di Stasiun Maaf.
Tapi, nyaris tak ada kereta yang datang di Stasiun Maaf.
Sangat jarang. Terlalu jarang.
Aku bilang begini karena, beberapa tahun lalu, aku pernah berdiri di tempat yang sama, menanti dia datang bersama Kereta Maaf, tapi yang kudapati hanyalah menanti, menanti, dan menanti.
Tapi, aku tetap menemanimu di sini. Di Stasiun Maaf ini. Tanpa suara, tanpa saran.
Dari cahaya senja yang begitu jingga sampai langit magrib keunguan sampai langit hitam pekat tanpa bintang, Kereta Maaf tak kunjung datang.
Dari berharap dia mengucap maaf sampai berharap: semoga dia diinjak-injak takdir buruk, semoga tak ada yang menyukainya, semoga dia diperlakukan buruk sebagaimana dia memperlakukan aku begitu buruknya, semoga dia kesulitan tidur, dan jika dia tertidur, semoga tidurnya tak nyenyak, semoga mimpinya buruk, dan semoga dia selalu dihantui oleh perasaan bersalah, dan semoga saat dia merasa bersalah, dia teringat wajahmu dan segala perbuatan buruknya kepadamu, dan semoga dia diliputi perasaan sesal yang mendalam, dan semoga, semoga saja, dia sadar, datang dengan kerendahan hatinya, dan mengucap empat huruf itu: maaf.
“Kenapa, sih, dia susah banget minta maaf?” tanyamu.
Seakan mengucap kata ‘maaf’ bisa membunuhnya.
“Mungkin, seumur hidupnya, dia selalu dibela? Mungkin, seumur hidupnya, dia selalu dilindungi? Sehingga dia tidak pernah menerima konsekuensi atas kesalahannya? Atau, mungkin, dulu, setiap kali dia mengaku bersalah, dia mendapat hukuman yang berlebihan, sehingga ‘merasa tidak bersalah’ adalah cara dia melindungi diri?
Atau, sebaliknya, mungkin, dulu, dia mendapat pujaan berlebih terhadap dirinya? Sehingga dia melihat dirinya lebih tinggi daripada dirinya yang sesungguhnya? Sehingga dia tidak bisa melihat kalau dia salah — karena dia lebih ‘tinggi’ dari itu?
Atau, mungkin, egonya terlalu tinggi? Atau, mungkin, dia memang terlalu manipulatif? Faktornya terlalu banyak. Yang jelas kita nggak bisa berharap seseorang yang seumur hidupnya telah terlatih ‘tidak merasa bersalah’ tiba-tiba bisa ‘merasa bersalah’. Apalagi mengucap maaf.”
“Terus kita harus gimana?” Nada suaramu terdengar melemah.
Pertanyaan itu. Aku menanyakan hal yang sama bertahun-tahun lalu. Pertanyaan yang menyiksaku. Bagaimana caranya membuat dia sadar akan kesalahannya? Bagaimana caranya supaya dia minta maaf?
“Menyerah.”
“Menyerah?”
Aku mengangguk, dan menambahkan, “Iya, menyerah. Terima fakta bahwa dia adalah manusia yang nggak akan bilang minta maaf. Kita capek nunggu. Kita juga kecewa maaf itu nggak pernah datang. Ruginya di kita.”
Aku memperhatikanmu melongok ke jalur kereta, mencecar pandanganmu di ujung sana, berpikir, siapa tahu Kereta Maaf sebentar lagi datang.
Jadi, kukatakan,
“Kita tidak butuh ucapan maaf seseorang untuk bisa melanjutkan hidup. Kita tidak butuh validasi maaf seseorang untuk memvalidasi perspektif kita.”
“Tapi dia salah!”
“Memang, dia salah. Memang, dia toxic. Tapi, buat apa kita menghabiskan tahun-tahun terbaik kita, menanti ucapan maaf yang nggak pernah datang ini?”
“Ya, nggak bisa gitu dong! Itu nggak adil — ”
“Keadilan seperti apa yang kita harapkan dari orang yang nggak pernah adil?”
“Oh, jadi dia bisa berlalulalang di muka Bumi ini tanpa rasa bersalah, tanpa maaf, begitu santainya setelah menghancurkan hidup seseorang?”
“Siapa bilang dia memiliki hidup yang santai? Meskipun dia tidak pernah merasa bersalah, bukan berarti dia bisa memiliki hidup yang tenang. Dia akan selalu dihantui oleh sesuatu yang tidak dia sadari. Dan, orang-orang yang menolak merasa bersalah akan jatuh pada masalah-masalah yang lebih besar, karena, ya, mereka nggak pernah merasa bersalah, nggak pernah menerima konsekuensi, nggak pernah belajar memperbaiki, nggak pernah kapok, jadi, jatuh pada masalah yang lebih besar adalah kenormalan yang tidak mengejutkan. Mereka akan merasa masalah hidup yang menumpuk, tapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak pernah membereskan masalah-masalah kemarin. Dibiarkan begitu saja karena, bagi mereka, mereka tak pernah salah. Akhirnya menumpuklah masalah mereka. Siapa yang bisa tenang dengan masalah yang menumpuk seperti ini? Siapa yang bisa tidur nyenyak dengan masalah-masalah? Orang-orang yang menolak merasa bersalah akan selalu terasa kacau, sehingga hidup mereka menjadi tidak tenang. Mungkin, dunia ini tampak tak adil, tapi Allah selalu tahu cara membuat ini semua adil tanpa harus terlihat dari kacamatamu.
“Lagipula, jika sudah mendapatkan kata maaf darinya, lalu apa? Selesai? Dia pasti berubah? Yakin? Kalau dia sudah minta maaf, lalu mengulangi kesalahan yang sama, lalu minta maaf, lalu salah lagi, lalu maaf lagi, lalu salah lagi, apakah kamu masih mau menuntut maafnya? Maaf yang akhirnya tak ada harganya itu? Karena yang sebenarnya kamu butuhkan bukanlah ucapan maaf, melainkan—oke, ucapan maaf dibutuhkan, tapi lebih butuh—perubahan yang nyata. Tapi, melihat pola-pola yang ada, apakah dia akan berubah setelah minta maaf? Atau, ini hanya pemenuhan ego karena merasa ‘menang’?”
Angin malam berembus pelan, menerpa wajahmu, dan meluruhkan sesuatu dalam dirimu.
“Tapi, harusnya, dia tetap minta maaf kalau salah.”
“Benar. Harusnya memang begitu.”
“Jadi, aku biarin aja kalau dia nggak pernah minta maaf?”
Aku terpaksa mengangguk. Karena begitulah kenyataannya.
“Tapi, dia jadi makin nggak tanggungjawab nggak, sih? Makin nggak merasa bersalah juga?”
“Itu tugas dia. Tugasmu bukan membuat dia bilang minta maaf. Tugasmu adalah belajar tidak butuh ucapan maaf darinya untuk melanjutkan hidupmu. Tugasmu adalah bebas. Dan…” Sebentar, aku tarik napas sejenak.
“Dan apa?”
“Kalau dipikir-pikir, bukan cuma dia yang berutang maaf kepadamu. Kamu juga berutang maaf kepada dirimu sendiri.”
Lalu, kamu mengangkat mukamu, matamu seperti berair. Tapi, itu bukan air mata sedih. Aku malah melihat sebuah keyakinan di matamu, dan kamu berkata, “Ayo, kita pergi dari Stasiun Maaf ini.”
Dan, kita berjalan di peron ini, menuju pintu keluar di ujung sana.
“Sebenarnya, ada cara supaya dia minta maaf.”