3. Apa Mungkin Aku Juga Toxic?

“Apa? Kamu bilang aku toxic?”

“Iya.”

Aku?

“Iya.”

“Kok bisa? Kenapa? Selama ini, aku jadi korbannya, aku yang selalu memaklumi, mengalah, memahami dia. Aku selalu memberi dan memberi. Aku selalu memaafkan dan memaafkan. Aku selalu baik, peduli, dan tetap ada. Sekarang, kamu bilang aku yang toxic?”

“Dan, itulah kenapa,” ucapku pelan, “kamu jadi toxic terhadap dirimu sendiri. Kamu selalu menerima hal-hal harusnya tidak terus-terusan diterima. Kamu ikut berpartisipasi dalam menghancurkan dirimu sendiri, dengan, secara tidak langsung, mengizinkannya untuk mengacaukan hidup kamu. Tidak semua hal harus di-gapapa-in.”

“Sebentar, sebentar.” Kamu tertawa getir. “Jadi, sekarang, ini salahku? Sebelum kamu menyalahkan aku, salahkan kedua orangtuaku dan bagaimana mereka memperlakukanku dulu. Sebelum kamu menyalahkan aku, salahkan hubungan-hubunganku di masa lalu dan bagaimana mereka membuatku merasa kecil. Mereka semua melatihku terbiasa dengan rasa sakit. Bukannya aku menerima. Aku terbiasa.”

“Aku tidak sedang menyalahkan kamu — ”

“Nggak, kamu menyalahkan aku. Kamu terdengar seperti orang toxic di hidupku. Harusnya, kamu ada di sini untuk membantu aku. Katanya, kamu pernah di posisi ini. Katanya, kamu pernah toxic. Mungkin, kamu masih toxic, dan kamu nggak layak bilang apa-apa tentang aku.”

Aku membisu sejenak. Kubiarkan kamu meledak.

Karena aku pun pernah meledak seperti itu.

Karena, mungkin, orang-orang seperti kita sudah terlalu lama memendam rasa marah. Hanya memendam, tanpa pernah memproses rasa marah itu sendiri. Jadi, aku paham jika kamu tiba-tiba meledak seperti bom waktu. 

“Yang aku butuhkan adalah support. Aku yang disakiti. Dan, kamu — ” suaramu bergetar, “kamu hanyalah orang baru, tiba-tiba datang dan berkata akulah dalang masalahnya. Oke, mungkin, aku bagian dari masalahnya. Mungkin, aku memang toxic. Tapi, aku capek. Aku capek disalahkan. Di saat-saat seperti ini, aku cuma butuh support. Bukan dihakimi seperti ini.”

Maafkan aku membuatmu merasa seperti dihakimi. Sungguh, aku tidak bermaksud demikian. Namun, aku pernah di posisimu. Jadi, aku paham apa maksudmu. Orang-orang seperti kita sudah terlanjur berdarah dengan luka-luka yang terbuka, jadi segala ucapan bisa terasa lebih perih.

Tapi, terkadang, kita butuh tetap menuangkan alkohol ke luka itu.

“Aku bisa saja memberimu validasi, mengatakan semua hal yang kamu ingin dengar, tapi itu sama saja aku menjustifikasi apa yang telah kamu lakukan kepada dirimu sendiri. Dan, itu akan membuatmu toxic. Karena toxic tidak selalu tentang terlihat jahat atau manipulatif. Membiarkan kamu tenggelam dalam kehancuran dan kesalahan dengan dalih tidak mau melukai kamu lebih jauh — itu kelihatan baik, tapi itu juga bisa toxic. Kita nggak bisa menyembuhkan sesuatu yang toxic dengan validasi yang toxic juga. I’m sorry I don’t mean to hurt you.

Oh, this overexplaining and this overapologizing. Lihat, aku dan kamu punya beberapa kesamaan. Itulah kenapa aku merasa bertanggungjawab untuk menarikmu dari lingkaran toxic ini.

“Begini,” kutarik napas panjang, “kalau dia — orang toxic dan manipulatif di hidupmu — menemukan buku ini dan masuk ke petualangan ini, dan aku bilang kepadanya, ‘kamu memang nggak toxic, kok.’ Bukankah itu akan semakin membuatnya merasa benar pada perilakunya yang salah?”

Kamu tidak mengangguk, tapi kamu terlihat seperti menyetujuiku.

“Itulah kenapa aturan pertamanya: kamu harus mau menerima bahwa kamu juga punya sisi toxic, tapi itu sangat normal dan manusiawi, setiap manusia memiliki red flag-nya masing-masing. Aku juga, kok. Tentu, aku tidak bangga. Orang-orang seperti kita menolak fakta bahwa kita toxic karena kita tidak bangga pada label itu, karena kita tahu itu buruk. Orang-orang seperti kita selalu berusaha jadi orang yang baik. Tapi, fakta bahwa kita terus mempertahankan dan menarik orang toxic, itu artinya ada sesuatu yang perlu dibenahi dari dalam diri kita.”

Izinkan aku menghela napas sejenak. Kemudian kulanjutkan,

“Apa gunanya meninggalkan orang toxic kalau kita masih belum meninggalkan sisi-sisi toxic dalam diri kita? Apa gunanya cut off kalau kita belum cut off sisi-sisi toxic dalam diri kita? Apa gunanya move on kalau kita masih belum move on dari diri kita yang masih bersikukuh dengan perilaku-perilaku toxic? Apa gunanya lari kalau kita masih membawa sisi toxic itu ke mana pun kita pergi? Itulah kenapa aku menyampaikan ini kepadamu. Karena kamu layak mendapatkan orang-orang yang lebih baik. Namun, sebelum itu semua terjadi, kamu harus menjadi orang yang lebih baik pula.”

“Oke, jadi apa sisi toxic yang harus aku ubah?”

Aku masih bisa mendengar ketidakterimaan dari suaramu, tapi tidak apa-apa. Aku juga begitu. Memang begini fasenya. Setidaknya, kamu mau mendengar. Namun, aku juga tak punya kemampuan untuk mengubahmu hanya dengan kata-kata. Kamu butuh menyaksikan sisi-sisi toxic-mu secara langsung. Jadi, aku berkata,

“Ayo, kita ke Wahana Rumah Kaca.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed