2. Tapi, Dia Bilang Aku yang Toxic!

Bayangkan aroma hujan, langit mendung, dan semilir angin.

Itulah yang kamu lihat dan rasakan setelah membuka pintu tadi.

Lalu, aku berkata, “Lihatlah ke sisi kiri.”

Dan, kepalamu menoleh. Melihat sebuah gerbang. Sebuah gerbang berbentuk hati. Berukuran raksasa. Di tengah hati raksasa itu, ada sebuah patahan. Membuatnya terlihat seperti hati yang patah. Patahannya terlihat seperti sebuah celah, sebuah pintu masuk menuju suatu tempat.

Kamu menengadahkan kepalamu ke Pintu Hati ini, dan ada papan yang tak lagi menyala, bertulisan, ‘WAHANA ISI HATI’.

Wahana Isi Hati?

“Masuklah,” ucapku, di belakangmu.

“Tapi, ini di mana?”

“Masuklah dulu.”

Kakimu melangkah ragu, menyelinap ke celahnya.

Dan, di hadapanmu…

Aneh.

Ini sungguh aneh.

Lapangan luas. Jalanan yang retak. Lembap bekas hujan. Rumput-rumput liar tumbuh di celah-celah paving. Selembar daun kering melayang, jatuh di ujung kakimu.

Tunggu, itu bukan bagian anehnya.

Saat kamu mengambil beberapa langkah, kamu melihat rollercoaster merah muda sedang naik-turun di treknya yang meliuk-liuk. Tak jauh dari sana, ada komedi putar yang berputar tanpa iringan musik — hanya deritan mesin. Di sebelahnya, ada rumah hantu yang diselimuti debu dan sarang laba-laba. Di sisi kanan yang jauh, ada bianglala yang bergerak amat pelan, begitu raksasa, begitu tinggi, menyentuh awan. Lalu, ada Wahana Sepeda Layang, Wahana The Dark Room, dan  wahana-wahana usang lainnya.

Tunggu, itu juga bukan bagian anehnya.

Manusia-manusia yang berlalu-lalang di taman hiburan yang terbengkalai ini. Tak banyak manusianya. Jarang-jarang.

Tapi, itu masih bukan bagian paling anehnya.

Yang aneh adalah…

… semua manusia di sini berwajah sama denganmu.

Tingginya, matanya, bibirnya, hidungnya — semuanya sama. Seakan semua ini adalah saudara kembarmu. 

“Mereka siapa? Ini kita di mana?” tanyamu, alis bertaut.

Kutarik napas panjang, lalu berkata, “Sebenarnya, kita sedang ada di dalam hatimu.”

“Hatiku?”

“Iya, ini isi hatimu.” Terlihat seperti taman hiburan yang terbengkalai.

“Dan, mereka — ” lanjutku, dan tubuhku dan tubuhmu berputar, melihat manusia-manusia yang mirip denganmu, “ — adalah semua versi dirimu yang terperangkap.”

Semua versi dirimu terperangkap di sini, dan harus kamu selamatkan.

“Terperangkap?”

“Terperangkap karena dia — orang paling toxic dan manipulatif di hidupmu.”

“Kamu bilang ini terperangkap, tapi kenapa kita malah ada di taman hiburan?”

“Karena beginilah rasanya terjebak sama orang yang toxic dan manipulatif. Kepadanya, kamu selalu berusaha jadi orang yang menyenangkan dan seru. Kepadanya, kamu selalu berusaha jadi penghibur dan pelipur lara. Kepadanya, kamu selalu rela merendahkan dirimu agar dia merasa lebih berharga. Kepadanya, kamu rela menjadi bahan ejekan agar dia bisa tertawa. Kepadanya, kamu selalu meminta maaf di hari-hari buruknya, meski itu tak selalu karena salahmu. Kepadanya, kamu rela berusaha sangat keras demi melihat setitik senyumnya. Kepadanya, kamu usahakan segalanya. Kepadanya, kamu berikan segalanya. Tapi, hatimu yang jadi terbengkalai.”

Kamu hanya bisa menunduk.

“Hatimu terlihat seperti ini — seperti taman hiburan yang terbengkalai ini — karena bersama dia rasanya selalu kayak effort, effort, effort. Kamu harus melakukan segala sesuatu agar kamu lebih dicintai. Mencoba jadi seru seperti rollercoaster. Mengejarnya seperti komedi putar. Menerbangkan hatinya seperti tingginya bianglala di sana. Seakan taman hiburan ini dan segala wahananya adalah performa kamu. Supaya dia melihat kamu, sayang sama kamu.”

“Lalu, aku harus gimana?”

“Kita duduk dulu nggak, sih? This is going to be very long, so let’s have a seat.

Lalu, kamu mengekoriku, mengambil tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk. Sebuah kursi taman panjang yang cat cokelatnya telah mengelupas. Di belakang tempat duduk kami, ada sebuah taman dengan berbagai jenis bunga yang telah layu dan satu pohon di tengah yang telah kering. Dan, tepat di samping kursi ini, ada papan usang bertuliskan: Pertunjukan Kembang Api, Tepat di Tengah Malam: 00:00.

Saat melihat papan Pertunjukan Kembang Api itu, rasanya seperti hatiku jatuh dari ketinggian. Segera aku berpaling dari papan itu.

“Lalu, aku harus gimana?” tuntutmu sekali lagi.

Aku menarik napas panjang lagi. Aku harus banyak mengambil napas di sini. Ada beberapa hal yang tak siap aku katakan kepadamu. Tapi, aku harus.

“Kamu — ”

“Bentar — ”

“Tolong jangan bilang aku untuk let go atau cut off atau tetap bersabar. Masalahnya, gimana kalau dia adalah satu-satunya teman yang aku punya? Gimana kalau dia adalah orangtuaku sendiri? Gimana kalau dia adalah orang yang aku sayang? Kalau aku pergi, aku harus gimana? Siapa yang akan sayang aku lagi? Keluarga mana lagi yang bisa aku miliki? Di mana rumahku? Nggak gampang untuk let go, nggak gampang untuk cut off, nggak gampang untuk terus sabar. It’s like I’m stuck forever with them, but I don’t want to be like this forever, tapi aku juga nggak bisa pergi gitu aja.”

Aku paham. Sangat, sangat paham. Meninggalkan dia rasanya seperti membunuhmu pelan-pelan. Tapi, tetap bersama dia juga rasanya seperti membunuhmu pelan-pelan. It’s just so confusing. I’ve been there, too.

You don’t have to let them go for now.

“Ya, terus apa?”

“Kamu butuh belajar menghilangkan attachment kamu ke dia dulu.”

“Caranya?”

“Panjang.”

“Ya, udah satu-satu dulu.”

Aku berdiri, lagi-lagi menarik napas panjang. “Aturan pertama — “ kulihat kedua matamu, lalu melanjutkan…

“… kamu harus sadar kalau kamu juga toxic.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed