Text
Rasanya seperti melihat Piramida kuno di Mesir.
Tetapi, bangunan piramida di depanmu tidak terbuat dari bebatuan.
Melainkan cermin. Piramida cermin.
Dinding yang melapisinya, pintu masuknya — semuanya cermin.
Tapi, cerminnya kotor. Bekas aliran air yang mengering tanpa pernah dibersihkan, debu-debu yang menempel, dan embun di cermin yang membuat pantulanmu buram.
“Kita harus masuk ke sini,” kataku, sambil mengarahkanmu ke pintu masuk bertuliskan: ‘RUMAH CERMIN’
Kok jadi horor gini, sih, mungkin itu yang ada di benakmu saat kulihat matamu yang meragu dan langkahmu yang melambat.
Kubiarkan kamu membuka pintu cermin itu.
Merah.
Semuanya merah.
Cahaya merah dari lampu. Cermin di sekelilingmu. Pantulan dirimu di sekelilingmu.
Tiba-tiba, semua bayang dalam cermin itu melangkah maju dan menggedor-gedor cermin.
Padahal kamu tidak sedang menggedor-gedor.
Lalu, kamu melihat bibir mereka seolah melafalkan, “Tolong! Tolong kami!”
Padahal bibirmu terkatup rapat.
Jadi, kamu bergegas, mencari segala celah untuk keluar dari sini. Belok kiri, aduh, kepalamu menabrak cermin. Belok kanan, ada celah kecil, kamu menyelinap, masuk ke lorong panjang dengan cermin di setiap sisinya.
Di setiap sisi cermin itu, masih ada pantulanmu yang melambai, mengetuk-ngetuk cermin, dan meneriakkan kata ‘tolong’ tanpa suara.
Kamu mempercepat langkah.
Berlari, berlari, dan berlari.
Kencang.
Tapi, lorong ini tak pernah berakhir. Sampai akhirnya kamu berhenti, meletakkan tanganmu di dada, menunduk, terengah-engah.
“Sebenarnya — ” Masih terengah-engah. “ — ini semua apa?”
“Mereka yang ada di dalam cermin ini adalah dirimu yang sedang terjebak di taman hiburan ini. Lihat lagi mereka. Lihat baju yang mereka kenakan,” ucapku di tengah napasmu yang masih tersengal. Tapi, kamu mendengarku. Melihat setiap versi dirimu dalam cermin dengan baju yang mereka kenakan.
Setiap versi dirimu mengenakan warna baju yang berbeda-beda.
Ada yang mengenakan baju berwarna jingga, bertuliskan BAHAGIA. Ada yang mengenakan baju berwarna biru tua, bertuliskan KESEPIAN. Baju berwarna biru muda, bertuliskan SEDIH. Baju merah muda, bertuliskan INGIN DICINTAI. Baju marun, bertuliskan EFFORT. Baju abu-abu kehitaman, bertuliskan HARAP.
“Apa maksud semua ini?” tanyamu.
“Mereka adalah dirimu yang rapuh, yang terlalu mudah dimanipulasi,” jawabku.
Sebelum kamu sempat melanjutkan tanya, kulanjutkan,
“Dia — orang yang kamu sebut toxic itu — datang saat kamu sedang rapuh-rapuhnya. Dia melihat semua versi rapuhmu. Dia melihat versi-versi dirimu yang tidak orang lain lihat. Saat kamu sedang tidak baik-baik saja, dia datang mencerahkan hari-hari mendungmu, membuat hidupmu jadi lebih punya arah dan makna. Saat kamu sedang kesepian, dia datang, meramaikan hidupmu, memvalidasi eksistensimu sebagai manusia. Saat kamu sangat membutuhkan kasih sayang, penerimaan, dan dukungan, dia datang dan memberi itu dan membuktikan kepada dirimu sendiri bahwa ternyata kamu masih disayang, ternyata kamu masih berarti. Awalnya, dia terlihat seperti orang baik. Tapi, di pertengahan cerita, dia seakan berubah, atau mungkin dia telah melepas topengnya. Menunjukkan sisi toxic dia yang sesungguhnya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi, kamu tahu kenapa dia jadi seperti itu?”
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak menjaga kekuasaan terhadap dirimu sendiri. Sehingga, tanpa sadar, kamu membiarkan dia mengambil kekuasaan dari dirimu. Tanpa sadar, kamu mengizinkan dia mengontrol hampir semua sisi hidupmu. Bahagiamu, kamu serahkan kepadanya. Kasih sayang dan dukungan, kamu berharap darinya. Arah hidupmu, kamu arahkan padanya. Kamu membiarkan orang lain mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi tanggung jawab kamu. Sehingga kamu jadi bergantung sama dia, dan dia merasa jadi lebih penting dan powerful, karena dia tahu kamu sangat butuh dia. Jadi, dia lebih berani seenaknya terhadap kamu — kan, kamu yang sangat butuh dia, dan bukan sebaliknya. Dan, kadang…”
“Kadang apa?”
“Manusia-manusia yang punya sisi toxic akan menunjukkan sisi aslinya ketika dia tahu dia sangat dibutuhkan . Karena dia tahu kamu tidak akan ke mana-mana. Mereka akan menunjukkan sisi aslinya ketika kita memberi mereka kekuasaan terhadap diri kita. Kekuasaan — yang sejak awal — harusnya kamu jaga. Tapi, mungkin, kamu terlalu rapuh untuk menjaganya, sehingga dia begitu mudahnya mengambil kekuasaan itu.”
“Kekuasaan? Aku cuma berusaha baik buat dia — ”
“Kamu terlalu baik sampai-sampai udah nggak ada batasan lagi.”
“Terlalu baik?”
“Kamu seakan kecanduan atas apa yang telah dia berikan kepadamu. Jadi, kamu rela jadi manusia paling baik, paling terdepan, paling mengasihi, paling mengalah demi mendapatkan secuil kasih sayang dia. Seakan kebaikan kamu adalah aksi manipulatif untuk tetap menjaganya, tidak pernah pergi darimu.”
“Kebaikanku? Aksi manipulatif?”
“Semua manusia itu ada sisi manipulatifnya, kok. We all manipulate at a certain point of our lives.
“Seperti, ketika bernegosiasi dalam bisnis, kita butuh manipulatif. Bukan untuk mengecoh klien, tapi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, tanpa merugikan klien. Dan jika kita tidak mendapatkannya, kita tetap menerimanya, bukan malah menjelek-jelekkan klien atau menjatuhkannya. Atau, ketika kita ingin mendapat perhatian atau dukungan, kadang kita menunjukkan sisi manipulatif dengan menyampaikan keinginan kita secara tipis-tipis atau menunjukkan effort kita selama ini, tapi, ya, sudah, kalau kita tidak mendapatkannya, kita menerimanya, bukan malah silent treatment atau malah playing victim atau guilt-tripping.
“Jadi, kalau kamu berbuat baik kepadanya, karena kamu ingin berbaik hati kepada sesama manusia, terlebih karena kamu mengharapkan kasih sayang Allah, maka itu perbuatan yang mulia.
Namun, jika di balik kebaikanmu, kamu mengharapkan sesuatu darinya, apakah itu manipulatif? Tentu, aku tidak bisa melabeli semudah itu.
Karena, wajar jika kita berbuat baik kepada seseorang, lalu berharap dia juga baik kepada kita. Sangat wajar.
Namun, jika kamu berbuat baik karena ada sisi dalam dirimu yang sangat memaksakan kehendak bahwa dia harus berlaku sebagaimana yang kamu mau—dan jika kamu tidak mendapatkannya—kamu akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya, salah satunya, membuatnya menderita: entah dengan menjelek-jelekkanya, menganggapnya musuh, silent treatment.”
“Harusnya, kamu sampaikan ini ke dia, sih. Bukan aku.”
“Setuju. Aku harus menyampaikan ini kepadanya, tapi aku juga butuh menyampaikan ini kepadamu. Karena aku tidak bisa mengubah seseorang yang sejak awal merasa tidak ada yang salah dalam dirinya. Tapi, aku bisa mengubah seseorang yang mau mengusahakan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya, and that’s you.”
“Jadi, aku harus gimana?”
“Menyelamatkan semua versi dirimu yang rapuh ini.”
“Caranya?”
“Selamatkan semua versi dirimu yang terjebak di setiap wahana yang ada di taman hiburan terbengkalai ini.”
“Lalu, bagaimana yang terjebak dalam cermin tadi?”
“Mereka cuma ilusi, cuma bayang-bayang dari versi dirimu yang sebenarnya telah tersebar di taman hiburan ini.”
“Aduh, aku jadi bingung.”
Aku tertawa. “Udah, ikut aja.”
“Ke mana?”
“Ke wahana berikutnya.”
“Apa wahana berikutnya?”
“Wahana Rollercoaster Paling Emosional.”
Jadi, aku dan kamu lanjut menyisiri setiap bagian dari rumah cermin ini.
Dan, kamu terlihat lebih berani menatap setiap versi dirimu di cermin. Setiap kali mulut mereka mengulang kata ‘tolong’, matamu yang tersenyum seakan menjawab, “Yes, I will help you.”
Tapi, bagiku, itu lebih terdengar seperti, “Yes, I will help myself.”
Dan, itu terdengar berani dan indah.
Sayangnya…
… ini tak akan jadi cerita yang indah, only if you know the ending.