16. Sebab, aku nggak tahu harus mulai dari mana

Mungkin, kamu punya mimpi yang begitu besar.

Begitu besar sampai-sampai kamu bingung bagaimana harus memulainya.

Seperti bermimpi setinggi langit, tetapi saking tingginya langit itu, nggak tahu bagaimana harus mencapainya. Hanya mampu berdiri di atas tanah, menatap langit yang begitu jauh.

Apakah kamu melihat mimpimu seperti itu?

Apakah kamu melihat dirimu berada di sebuah kota metropolitan, memasuki sebuah gedung startup unicorn, berjalan terburu-buru di dalamnya, meletakkan tas di kubikelmu, lalu beranjak ke lantai 22 untuk mengadakan rapat bersama para petinggi yang akan terpukau dengan presentasimu?

Ataukah, kamu melihat dirimu mengurusi ratusan paket setiap harinya, memiliki tim yang mengerjakan seluruh tugasmu, dan kamu hanya memantau, sambil memainkan ponsel, diam-diam membeli sebuah tiket menuju Lombok untuk minggu depan?

Atau, kamu melihat dirimu sedang diwawancarai oleh seorang presenter, seakan-akan kamu adalah orang sukses yang sedang membahas proyek terbarumu dan orang-orang menantimu dan petuahmu? Bahkan, kamu sudah melatih ini setiap malam di kamarmu, kan?

Menurutku, kamu terlalu fokus pada mimpi besar sampai-sampai melupakan mimpi-mimpi kecil.

Mimpi-mimpi kecil yang akan mengantarkanmu menuju mimpi besar itu. Mimpi-mimpi kecil yang mudah kamu gapai. Mimpi-mimpi kecil yang bisa kamu kerjakan dari sekarang.

Misal, kamu ingin jadi…

Umm, katakanlah penulis.

Kamu nggak bisa sekadar fokus membayangkan buku-bukumu berjajar di rak best-seller toko buku, mengisi acara di sana-sini, berbicara tentang buku-bukumu yang best-seller itu dan bagaimana kamu bisa sampai di titik ini.

Kita nggak bisa membayangkan mimpi besarnya saja. Mimpi kecil juga harus diperhatikan.

Kalau mimpi besarmu jadi penulis sukses, maka mimpi kecilmu bisa berupa…

  • Harus mau (dan berhasil) menyediakan waktu setiap harinya untuk menulis, meski sebaris saja. Lebih-lebih lagi separuh halaman. Langsung sediakan momennya: setiap pukul 21:00, aku akan menyalakan laptopku dan menuliskan apa pun yang ada di kepalaku. 
  • Harus mau (dan berhasil) menyediakan waktu setiap harinya untuk membaca, meski sehalaman saja. Lebih-lebih lagi kalau mampu satu bab. Langsung sediakan momennya: setiap mau tidur, aku harus baca buku dulu.
  • Harus mau cari ilmu tentang menulis. Mungkin, ikut webinar atau kursus. Minimal, sebulan sekali. Lebih baik lagi kalau ikut kursus yang lebih intensif, but it’s your preference
  • Mencari teman yang juga suka menulis untuk saling memberi komentar.
  • Mulai memublikasikan tulisan di Wattpad atau di mana pun yang terasa cocok.

Kalau belum mampu setiap hari, kecilkan lagi mimpi itu:

  • Harus mau (dan berhasil) menyediakan waktu setiap Sabtu dan Minggu untuk menulis.
  • Harus mau (dan berhasil) menyediakan waktu setiap Sabtu dan Minggu untuk membaca.

Harap spesifikan hari dan waktunya, biar kamu nggak menunda-nunda. Yah, menunda nggak apa-apa, sih, tetapi risikonya kamu juga yang bakal merasakannya.

Kita ambil contoh lain.

Misal, kamu ingin jadi pengusaha.

Kalau mimpi besarmu jadi pengusaha sukses, maka buatlah mimpi-mimpi kecilnya juga.

  • Cari tahu apa hal yang kamu suka beli, hal yang kamu selalu tonton di YouTube. Apa yang kamu suka beli, apa yang kamu suka cari tahu adalah sesuatu yang kamu punya pengetahuan tentangnya, dan itu bisa jadi ide untuk produkmu. Beri deadline seperti, “Dalam bulan ini, aku harus sudah bisa menentukan apa yang membuatku tertarik—mungkin, untuk kemudian jadi produk yang kujual.” 
  • Kalau belum menemukan apa yang kamu rasa tertarik, cari tahu apa permasalahan orang-orang di sekitarmu. Beri mereka solusi lewat produk yang kamu jual. Beri deadline seperti, “Dalam bulan ini, aku harus sudah tahu apa yang akan aku jual.” 
  • Baca buku, ikuti banyak webinar dan kursus tentang bisnis, marketing, Facebook Ads, dan semacamnya. Beri deadline seperti, “Setiap hari, aku harus melanjutkan baca buku tentang bisnis. Setiap dua minggu sekali, aku harus ikut webinar.” Lebih baik lagi kalau ikut kursus yang lebih intensif, but it’s your preference.
  • Mulai cari supplier. Yes, jual sesuatu yang ada supplier-nya saja dulu. Beri deadline, “Dalam kurun waktu dua minggu, aku udah harus menemukan supplier-nya.” Ini harus beneran kasih effort, lho, ya. Ubek-ubek semua marketplace. Kalau perlu, datangi langsung tempat yang bisa didatangi. Ingat: kurun waktunya dua minggu.
  • Harus berani mulai jual. Kecil-kecilan saja. Sediakan stok sedikit dulu. Jual untuk orang-orang sekitar. Taruh di marketplace. Kalau punya modal lebih, bisa coba menggunakan iklan yang telah kamu pelajari tiap dua minggu sekali itu. 

Intinya, buatlah mimpi-mimpi kecil yang bisa kamu gapai. Tetapi, aku juga ingin kamu ingat: terkadang, mimpi-mimpi kecil itu nggak selalu bisa kita gapai. Akan ada hari-hari yang gagal, akan ada juga hari-hari yang berhasil. Tetapi, aku ingin kamu selalu ingat, mimpi-mimpi kecil itu, catatlah di catatan terbaikmu, ingat-ingatlah, usahakan selalu. Kalah satu hari bukan tanda kekalahan di masa depan.

Ini akan sangat melelahkan. Rutinitas yang sama setiap harinya. Tanpa tahu kapan akan berhasil.

Tetapi, daripada nggak melakukan apa-apa yang membuat kita sama-sama stres, lebih baik lakukan sesuatu yang mungkin bisa jadi something good for our future.

Sekarang, sudah mulai kebayang, kan, kamu harus apa?

Semangat, ya!

Tetapi, kalau kamu lagi nggak semangat, ya, nggak apa-apa. Asalkan, jangan biarkan rasa nggak semangat itu mengalahkanmu. Kamu lebih besar dari rasa ingin menyerahmu!

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed