Text
Beberapa pertanyaan dalam hidup hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri.
Jadi, kalau kamu tanya sama aku, “Skill apa, ya, yang cocok sama aku?”
Aku nggak tahu.
Apa yang kutahu adalah try everything you can try.
“Tapi, apa yang bisa aku coba?”
Oke, aku akan jelaskan pelan-pelan. Tapi, aku butuh aksi darimu juga, ya.
Nyaris sepuluh tahun aku berkarier, dari kerja di startup, sampai membangun bisnis sendiri. Dan, selama itu, kudapati skill-skill penting yang wajib dimiliki seseorang. Skill-skill ini bisa dimanfaatkan, baik di dunia kerja startup maupun kantoran, di dunia bisnis (just in case, di masa depan, kamu mau punya bisnis sendiri), di dunia freelancing.
Dan, berdasarkan pengalamanku, skill-skill dasar yang penting di era digital adalah:
Menulis, desain, pemasaran, pemrograman, video editing. kemampuan berbahasa asing.
Udah, jangan insecure dulu. Kan, kita baru mau mulai. Wajar kalau kamu nggak bisa semua. Kalau kamu udah bisa semua, apa poinnya juga aku nulis ini, kan?
Pertama: Kamu nggak harus bisa semuanya. Mulai satu aja dulu.
Kedua: Pola belajar semua skill itu sama. Harus mau praktik, dan harus mau belajar teori. Harus mau kepayahan. Harus mau bersabar dengan perjuangannya, harus mau konsisten.
Ketiga: Oke, kita kupas bareng-bareng, ya.
Menulis:
Menulis, tuh, nggak melulu jadi penulis buku.
Seberapa sering kamu mencari sesuatu di Google? Pasti sering. Dan, ketika kamu browsing sesuatu di Google, pasti yang kamu temukan adalah ribuan tautan berisi tulisan.
Misal, kamu mau beli laptop. Tentu, kamu butuh riset dulu. Pakai keyword ‘rekomendasi laptop’ di Google. Muncullah begitu banyak tulisan yang menjelaskan tentang ini.
Dan, artikel itu ada karena ada seseorang yang menuliskannya.
Bahkan, beberapa keyword di Google, seperti ‘rekomendasi laptop’ bisa langsung membawamu ke artikel yang dibuat oleh marketplace, seperti Tokopedia.
Itu artinya… perusahaan juga butuh seseorang dengan kemampuan menulis yang mumpuni. Terutama content writer.
Lalu, bagaimana caranya kamu bisa mengasah skill menulis?
Coba, bikin tulisan seperti ‘10 Rekomendasi Laptop untuk Mahasiswa’ atau ’10 Cara supaya Tidak Overthinking’. Hal-hal yang sekiranya orang cari di Google, tuliskanlah, sebagai bentuk latihan.
Tapi, praktik menulis saja nggak cukup.
Kamu harus banyak membaca tulisan-tulisan bagus. Mulailah dengan banyak membaca buku (dan, kamu melakukannya sekarang!) Biar kamu punya flow yang natural saat menulis — karena terbiasa membaca tulisan yang punya flow yang natural juga.
Intinya, baca, tulis, baca, tulis.
Pemasaran:
Pemasaran sudah ada sejak dulu, tetapi caranya terus berubah sepanjang masa — tapi, polanya tetap sama, kok.
Dulu, mungkin, pemasaran hanya tentang bermain kata-kata yang menjual, lalu poster iklan yang menarik, dan seterusnya.
Sekarang, ada digital marketing. Ada media sosial, Facebook Ads, Google AdWords. Bahkan, marketplace punya iklan juga. Tools ini yang perlu kita pelajari sekarang.
Dan, melakukan pemasaran di media sosial, baik secara organik (tanpa iklan) maupun dengan iklan, nggak bisa sebatas upload, bayar, lalu sudah.
Nggak gitu. Ada pola yang perlu dipelajari.
Saranku, kamu langsung praktik dulu, deh. Coba bikin akun edukatif di media sosial. Konsisten bikin konten. Mungkin, rekomendasi skincare, rekomendasi gadget, rekomendasi apa pun yang bermanfaat.
Lalu, seiring perjalanan bikin konten di media sosial, coba pelajari juga: Mana postinganmu yang paling tinggi engagement-nya? Kalau belum ada, coba cari tahu, apa kesalahannya? Sudah sampai 100 kontenkah? Sudah konsistenkah? Kalau belum, berarti penuhi itu dulu.
Kalau sudah, coba cek lagi. Katakanlah, kamu taruh di Instagram. Di Instagram, meski kamu bikin ‘7 rekomendasi skincare untuk kulit kering’, kan, harus kamu desain dulu, tuh. Bisa di Canva atau semacamnya. Nah, coba perhatikan desainnya. Kira-kira kalau desain ini ada di explore, orang-orang mau mengekliknya, nggak?
Coba lihat contoh-contoh akun serupa. Perhatikan desainnya. Perhatikan tulisannya. Tapi, jangan nyontek, ya, sebagai inspirasi saja. Dan, harus ada lebih dari dua inspirasi.
Lalu, praktikkan di kamu. Perbagus desainnya, tingkatkan tulisannya (sudah tahu, kan, cara meningkatkan skill menulis?). Jangan coba di Instagram saja, coba di media sosial lain, dan pelajari alur dan algoritma di media sosial lain.
Aku juga gitu, kok. Aku nggak upload tulisan, lalu sudah. Aku pelajari itu semua sampai bisa seperti hari ini. Dan, masyaallah, ini bisa terjadi atas bantuan Allah semata.
Kalau kamu punya budget, coba pakai Facebook Ads atau tools iklan yang sesuai dengan kebutuhanmu. Tapi, sebelum praktik yang ini, kamu harus banyak nonton dulu di Youtube tentang cara sukses di Facebook Ads atau tools iklan yang sesuai kebutuhanmu.
Intinya, praktik, teori, praktik, teori.
Begitu juga dengan skills lain: pemrograman, desain, video editing, kemampuan berbahasa asing. Intinya sama: mulai saja dulu. Praktik, teori, praktik, teori.
Kalau nggak tahu harus mulai praktiknya gimana, awali dari teori nggak apa-apa. Tapi, tetap harus ada praktiknya nanti.
Nah, dari skill-skill di atas, udah kebayang mau coba yang mana?
Semua skills yang kusebutkan di atas sangat dibutuhkan di dunia kerja maupun bisnis.
Namun, kamu harus ingat…
Mengembangkan sebuah skill itu butuh sabar dan susah payah, dan kalau kamu mau berkembang, kamu harus mau melewati susah payahnya. Berjam-jam baca, capeknya belajar, pusing karena stuck, tapi terus cari alternatif.
Hal-hal baik nggak didapat dari santai-santai.
Aku juga melalui itu semua, kok. Dan, rasanya emang capek, apalagi kalau hasil belum juga kelihatan. Tapi, it’s all worth it. Soalnya, gimana pun hasilnya nanti, kita sudah menjadi orang yang lebih berkembang, lebih berilmu, dan, mudah-mudahan, lebih merunduk.
Tapi…
Skill, tuh, nggak sebatas apa yang kusebutkan di atas, kok.
Hobi juga bisa jadi skill, kok.
Contoh baru-baru ini di Indonesia saat pandemi, banyak orang jadi menggandrungi sepeda, kan, terutama bapak-bapak? Nah, hobi mereka dalam bersepeda bisa jadi skill yang dikomersilkan.
Maksudku, coba, deh, search ‘aksesoris sepeda’ di marketplace, lalu lihatlah aksesori-aksesori yang kita nggak tahu ada, ternyata bisa dibeli lebih dari ribuan kali. Dan, aksesori-aksesori itu dipahami oleh orang yang paham sepeda.
Contoh lain, hobi berkebun. Kita mungkin nggak tahu apa-apa tentang berkebun. Tapi, coba, deh, search ‘benih’ atau ‘bibit’ di marketplace, lalu lihatlah hal-hal yang kita nggak tahu ada, ternyata bisa dibeli lebih dari ribuan.
Tapi, tentu kalau mau mengkomersilkan sebuah hobi atau skill, butuh paham skill-skill dasar yang kusebutkan di atas, ya.
Intinya, try everything.
Lalu, lihat… hatimu condong ke mana? Kalau kamu nggak tahu ke mana hatimu condong, pilih satu-dua saja yang ingin kamu tekuni. Tapi, aku yakin, deep down inside, ada kecondongan. Anyway, just choose, bismillah. Minta pertolongan Allah agar kamu ditunjukkan pada pilihan yang tepat.
Dulu, aku juga mulai dari satu.
Mulai dari menulis saja.
Lalu, pelan-pelan berkembang.
Sambil belajar desain untuk pos di Instagram.
Sambil belajar algoritma dan alur Instagram dan media sosial lain.
Sambil belajar Facebook Ads.
Sambil belajar video editing.
Semuanya sambil jalan, dan masih sambil jalan.
Mulai satu dulu. Apa pun itu. Dan, kamu nggak harus bisa semua.
Satu dulu. Pelan-pelan.
Satu saja, sampai cukup ahli.
Dan, kalau kamu bertanya, “Gimana kalau udah coba semuanya, tapi nggak ada yang cocok?”
Maka, aku mau tanya balik, “Emangnya, kamu udah coba semuanya?”
Pasti belum.
Mungkin, kamu bertanya lagi, “Gimana kalau udah coba-coba, tapi nggak bisa-bisa?”
Maka, aku mau tanya balik, “Kamu udah coba berapa lama? Udah berbulan-bulan? Udah lebih dari setahun? Atau setidaknya, udah sampai setahun? Kamu benar-benar belajar dari ahlinya, nggak?”
To make it more fun, kamu bisa challenge dirimu sendiri, kayak…
30 Days Challenge of Cooking New Recipes
30 Days Challenge of Writing
30 Days Challenge of Redesigning Book Cover
Kalau perlu, rekam dirimu sendiri seolah-olah kamu lagi nge-vlog. But, please, just keep it to yourself saja.
Dan, saatnya aku spill the truth.
Mencoba saja nggak cukup. Butuh komitmen juga. Komitmen yang lama. Bertahun-tahun.
Dan, kejenuhan pasti akan datang, tapi itu siklus normalnya, kok. Dan, rasa meragukan diri sendiri itu juga akan muncul, tapi itu memang siklus normalnya.
Ketika kamu telah berkomitmen bertahun-tahun, lalu merasa nggak cocok di sini, coba jangan terlalu keras pada dirimu dan bilang pada dirimu, “Nggak akan ada skill yang benar-benar cocok sama kita, kok. Dan, nggak akan ada skill yang memberikan kenikmatan utuh. It’s all about trying and trying and the willing to accept the struggle.“
Aku mau cerita sedikit. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku menekuni dunia menulis. Apakah aku enjoy?
Kadang iya, kadang juga nggak.
Ada momen aku benar-benar nggak bisa menulis, bahkan meragukan kayak, “Aku bisa nulis nggak, sih? Kayaknya, aku nggak cocok nulis, deh.”
But I just gotta do it. Mau cari skill yang aku rasa seratus persen cocok… nggak bakal ada. I just gotta do what I can do.
Begitu juga kamu dengan skill yang sedang kamu jalani sekarang. Nggak akan ada seratus persen kecocokan, dan normalnya, ya, gitu.
Dan, hidup ini ibarat menyetir sebuah mobil di jalanan penuh persimpangan, bersama insecurity di sisi kita.
Insecurity kita selalu ingin mengemudi mobil ini, but remember, yang menjalani hidup kamu adalah kamu, bukan insecurity kamu.
Jangan biarkan insecurity kamu bikin kamu berhenti, especially ketika kamu mendengar insecurity-mu bilang,
“Kamu nggak cocok, berhenti aja, deh.”
Apakah kamu akan berhenti menyetir perjalananmu hanya karena ucapan yang bahkan nggak hidup?