20. Tutorial Bikin Orang Toxic Merasa Bersalah Sampai Minta Maaf

“Sebenarnya, ada cara supaya dia minta maaf,” ujarku saat kita sudah dekat di pintu keluar.

Langkahmu terhenti, berjaga-jaga bila Kereta Maaf itu akhirnya datang.

“Satu, kita tetap harus pergi dari Stasiun Maaf ini. Karena semakin kamu menunggu maaf darinya, semakin ucapan maaf itu nggak akan pernah datang.”

Jadi, kita menuruni tangga keluar, lalu aku melanjutkan,

“Dua, kamu harus belajar tidak membutuhkan dia pada apa pun. Apa pun. Tapi, jangan cari orang lain juga. Dan, bukan untuk sombong atau merasa tinggi. Belajar memenuhi kebutuhanmu sendiri karena kamu layak diperjuangkan oleh dirimu sendiri. Semuanya. Kebutuhanmu. Sendiri.”

“Tapi, gimana?”

“Misal, kamu butuh cerita ke dia? Nggak usah. Langsung cerita ke Allah aja yang Maha Mendengar. Atau kemudian, ke teman-teman lain yang lebih menghargai. Atau, kamu butuh pendapat dia? Belajar memutuskan sesuatu sendiri. Belajar mempertimbangkan pro dan kontra segala sesuatu. Atau, kamu butuh validasi dia untuk merasa baik-baik saja? Cari kebahagiaan itu di tempat lain: hobi, buku, jurnal, apa pun selain dia. Lepaskan dependensi. Sampai suatu hari nanti, kamu akan sadar, ‘Oh, ternyata aku bisa, lho, sendiri.

“Dengan begini, selain kamu mendapatkan kemerdekaan karena bisa memenuhi kebutuhan sendiri, tidak butuh dia lagi, yang artinya… kamu lebih punya kemampuan untuk pergi. Nah, di situ, dia baru bisa melihat bahwa dia sudah tidak se-powerful itu lagi — karena kamu belajar jadi powerful terhadap dirimu sendiri. Sehingga dia lebih punya kekhawatiran akan kehilangan kamu karena ternyata kamu mampu semandiri itu. Tanpa pertolongan dia, kamu tetap bisa menjalankan tugas-tugasmu. Dan…

“… kadang, seseorang enggan mengucap kata ‘maaf’ karena dia merasa benar, terbukti dari tindakanmu yang selalu memakluminya, membenarkannya, menspesialkannya. Kadang, seseorang enggan mengucap kata ‘maaf’ karena dia punya ego rapuh, seakan meminta maaf membuatnya terlihat rendah, lemah, tak sempurna, yang membuat mereka merasa tak layak lagi disayang.”

“Lalu, gimana dong kalau begitu?”

“Ya, udah, toh, satu, kamu sudah nggak terlalu butuh dia. Dua, kamu sudah tahu caranya mengurus dirimu, yang artinya kamu bisa pergi kapan pun tanpa khawatir berlebih. Dan, pada akhirnya, tujuannya bukan untuk membuat dia merasa bersalah atau minta maaf. Tapi, untuk kemerdekaanmu.”

Dan, di ujung tangga, terlihat Pintu Merah.

Kamu berjalan terburu-buru, mendekati pintu itu.

Pintu yang bertuliskan ‘Simulasi Marahnya Orang Toxic’.

Kamu memegang kenop pintu itu, gugup membayangkan apa yang akan di balik pintu ini. 

“Bukalah,” kataku, dan kamu mendorong pintu itu.

Dan, panas. Sangat, sangat panas. 

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed