9. Bodohnya, Aku Masih Saja Terlalu Effort

Selamat datang di Wahana Komedi Putar yang Selalu Mengejarnya.

Tak ada patung-patung kuda. Tak ada musik. Hanya lampu bulat kecil-kecil yang berkedap-kedip. Atapnya berbentuk kerucut, seperti tutupan tenda sederhana yang telah usang. Cat-cat merah muda yang mengitarinya mengelupas.

Dan, Komedi Putar ini nyaris ditelan ilalang-ilalang yang mengelilinginya.

Aku dan kamu berjalan, menyibak ilalang-ilalang ini, mendekati Komedi Putar ini.

Lintasannya masih berputar sempurna.

Lalu, dari sisi kiri, sesosok manusia muncul, berlari.

Itu versi dirimu yang lain. Mengenakan baju berwarna marun, bertuliskan ‘EFFORT’. Berlari di komedi putar seperti berlari di treadmill. Seperti mengejar sesuatu. Tatapannya bertubrukan dengan tatapanmu, tapi dia terus berlari. Kamu melompat ke lintasan, aku mengikuti.

“KAMU NGGAK CAPEK APA KEJAR DIA TERUS KAYAK GINI?” teriakmu.

Barulah, Effort memelankan lajunya. Ketika lajunya memelan, lampu meredup.

Kamu ikut naik ke Komedi Putar, ikut berlari, mensejajarkan posisinya. Aku juga. Kami berbicara, sambil berlari-lari kecil. Kalau tidak, lampunya akan mati. Dan, Effort tidak ingin memadamkan lampu ini. Semoga dia melihat keberadaan Effort dan segala perjuangannya di sini.

“Capek, tapi… ya bisa apa?”

Sebelum kamu sempat melanjutkan, Effort berkata, “Kali ini, jangan suruh aku pergi. Jangan bilang effort untuk diriku sendiri. Jangan suruh aku effort untuk mimpi-mimpiku. Emang kenapa kalau aku pengen effort buat dia?”

“Emang kenapa kalau aku pengen effort buat dia?” tuntut Effort sekali lagi.

“Tapi, kenapa kamu nggak mau effort buat diri kamu sendiri?”

“Emang apa lagi yang kita punya?”

Kamu terdiam.

“Apa lagi yang kita punya selain dia?”

Masih terdiam.

“Aku nggak mau dengar, “Tapi, aku lebih penting dari dia.” Masalahnya, apa yang kita punya? Apa hal berharga yang tersisa di hidup kita?”

Wow. Sakit. Terlalu benar.

Tak bisa membantahnya.

Tapi, aku ingin membantahnya.

Seseorang terasa berharga karena kamu menuangkan banyak effort kepadanya. Tanpa effort darimu, dia hanyalah orang biasa yang tak terlalu bernilai di hidupmu. Dan, effort kamu terasa seperti investasi. Semakin banyak yang kamu investasikan, semakin berharga nilai investasi itu. Sama, semakin banyak effort yang kamu tuangkan untuk seseorang, semakin berharga pula nilai dari seseorang itu.

Dia berharga karena effort darimu.

Kamu tidak ingin berhenti menuangkan effort karena kamu tidak ingin rugi.

Meski sebenarnya sudah merugi.

“Apa hal berharga yang tersisa di hidup kita?” ulang Effort.

Matamu mengerjap, seakan itu bisa membantumu menemukan jawaban. Apa yang berharga dalam hidupku? Apa yang tersisa di hidupku?

“Harapan-harapan kita?” jawabmu ragu.

“Emang apa lagi harapan kita? Oke, katakanlah kita punya harapan. Apa gunanya juga kalau harapan itu nggak pernah tercapai? Dan, harapan itu kejauhan, dia adalah hal yang paling realistis, paling dekat yang bisa aku capai.”

Aku pernah marah seperti Effort, jadi aku memahaminya.

Tapi, jika aku bisa bersuara sekarang, mungkin aku akan membalas ucapannya: Iya, aku setuju. Harapan bisa mengkhianati. Manusia bisa menyakiti.  Apa yang tak mengkhianati? Apa yang tak menyakiti?

Seumur hidupku, aku berusaha mencari sesuatu atau seseorang yang tak akan berbalik mengkhianati, menyakiti, merugikan usahaku. And, really, I really try my best not to sound religious. Namun, pencarian itu membawaku pada sebuah fakta: Betapa banyak dosa yang aku lakukan, tapi betapa banyak pula kebaikan yang diturunkan-Nya kepadaku.

Allah, Tuhan Seluruh Alam.

Seumur hidupku, aku berharap sesuatu atau seseorang menghargaiku. And, really, I really try my best not to sound religious. Namun, pengharapan ini membawaku pada suatu pengetahuan baru: Bahwa Allah memiliki suatu sifat yang selalu aku harapkan ada pada manusia-manusia yang kutuangkan effort pada mereka. Suatu sifat Allah yang sangat menyentuh hatiku. The Most Appreciative. Maha Mensyukuri. Maha Membalas Kebaikan.

Maka, jika mimpi, bila kita perjuangkan seperti apa pun, belum tentu akan tercapai; jika manusia, bila kita perjuangkan seperti apa pun, belum tentu berpihak kepada kita; lantas Allah dengan sifatnya yang Maha Penyayang, Maha Dekat, Maha Mensyukuri… mungkinkah menolak perjuangan kita yang sungguh-sungguh ingin dekat dengan-Nya?

Saat aku berusaha lepas dari orang toxic dan manipulatif, jujur saja, aku tak tahu bagaimana harus memberi effort kepada diriku sendiri. Dan, bagaimana sebuah effort kepada diri sendiri bisa dikatakan cukup? Bagaimana aku bisa merasakan cukup atas effort-ku sendiri? Di mana batasannya? Namun kemudian, aku sadar bahwa ketika aku bingung di mana harus memulai effort-ku, aku bisa memulainya dari menuangkan effort-ku untuk memperbaiki hubunganku dengan Allah.

Yang Maha Penyayang, Maha Dekat, Maha Mengapresiasi. Tapi, aku tak bisa mengungkapkan ini kepada versi dirimu bernama Effort. Sekali lagi, Effort terlalu realistis untuk jawaban-jawaban seperti ini. But it’s like you’re hearing my heart, karena sesaat kemudian kamu berkata,

“Apakah kamu mau berinvestasi ke suatu badan usaha yang jelas-jelas bakal rugi?”

Jelas, Effort menggeleng.

“Sebenarnya, itu yang sedang kamu lakukan untuk orang toxic itu. Effort yang merugi.”

Effort merengut. “Nggak ada effort yang sia-sia. At least, aku dapat balasan baik dari Allah.”

“Masalahnya, yang kamu tuju adalah dia, bukan Allah. Bagaimana bisa kamu tiba di puncak gunung kalau arah petamu mengarah ke pantai?”

“Sekarang — ” kamu menggenggam lengan Effort, “ — kamu ikut aku, kita keluar dari sini. Kamu nggak usah effort apa-apa dulu.”

Effort berusaha melepaskan genggamanmu. “Tapi, aku adalah versi dirimu bernama Effort. Kalau aku nggak effort, aku apa?”

“Berusaha nggak effort, itu juga effort. Berusaha nggak nanya kabarnya, itu effort. Berusaha nggak nanya ‘kamu kenapa’ ketika mukanya sedang masam, itu effort. Berusaha nggak mikir keras ‘aku salah apa’ ketika dia lagi ngambek nggak jelas, itu effort. Berusaha nggak selalu cerita ini-itu ke dia meskipun hatimu sangat ingin, itu effort. Berusaha nggak kirim chat panjang betapa kamu tidak ingin kehilangannya, itu juga effort. Effort nggak selalu tentang trying, tapi juga not trying.

Lengan Effort kini relaks, membiarkanmu menggenggamnya erat.

Tak lagi berlari. Lampu-lampu redup. Lalu, padam. Tapi, sudah tak peduli.

Sesaat kemudian, kamu menarik lengan Effort, memutar arah lintasan ini, lalu melompat cepat ke ilalang-ilalang. Terjatuh, berdiri, mengebas pakaian-pakaian kita.

“Sekarang, kita ke mana?” tanya Effort.

Kamu memandang mereka, tersenyum lebar. “Kita kumpul di taman. Di sana, udah ada Bahagia, Cinta, dan Harap. Aku nggak sabar kamu bertemu mereka.”

Lalu, aku, kamu, dan Effort melangkah dalam diam.

Kalau tidak megacaukan suasana hening ini, rasa-rasanya aku ingin berkata kepada Effort:

You matter, tanpa harus mengejar dia. You matter, tanpa harus selalu membuat dia senang. You matter, meski dia tak berbalik mengejar kamu. Berharganya hidupmu tidak ditentukan dari sosok manusia toxic yang tidak tahu bagaimana cara memanusiakan manusia. Tapi, kamu juga kurang memanusiakan dirimu dengan terus mengejar dia, terus membuat dia senang. Dia jadi merasa punya power agar kamu selalu terus menuruti dia, karena dia tahu kamu selalu dalam mode mengejar.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed