Text
Sesaat langkahmu menyentuh ruangan ini, semua mendadak gelap.
Hitam pekat. Tapi, ada suara.
Suara isakan. Pelan. Dalam kegelapan.
“Dengar nggak?” tanyamu.
Aku mengangguk, tapi aku baru sadar kamu tak bisa melihatku, jadi kubilang, “Kita ikuti aja.”
Jadi, kita berjalan dan berjalan. Pelan-pelan. Memastikan kita tak saling jauh karena di sini benar-benar gelap.
Lalu, kita menemukan titik putih kecil di ujung sana. Melangkah ke sana.
Berjalan, berjalan, berjalan.
Makin terdengar, makin terdengar.
Makin terang, makin terang.
Seperti sorotan cahaya bulan yang tembus dari lubang kecil. Menerangi selingkar area seperti lampu sorot.
Dalam cahaya peraknya, ada seseorang.
Bersimpuh. Terisak. Suaranya datang dari situ. Dari manusia itu. Berbaju… abu-abu? Aku tak dapat memastikannya, tapi ada tulisan ‘HARAP’ di bagian belakang kausnya, terpantul sinar perak bulan.
“Itu versi diriku yang masih berharap, ya?” tebakmu.
Aku mengangguk. Mulai sekarang, kita sebut dia Harap.
“Kamu ingat apa yang dia harapkan?” tanyaku pelan, memastikan jarakku dan jarakmu jauh dari Harap agar dia tidak mendengar perbincangan kita.
Sekarang, kamu yang mengangguk, menatap nanar Harap yang sepertinya sedang berlumuran air mata, mengangkat kedua tangannya, memohon berbagai harapan tentang dia — orang toxic dan manipulatif itu.
Berharap dia berubah. Berharap dia jadi orang yang lebih baik. Berharap dia sadar akan kesalahannya. Berharap dia lebih peduli. Berharap dia lebih mengerti, lebih lembut, lebih penyayang. Berharap hubungan kalian tak sekacau ini. Berharap dia mendapat balasan yang setimpal supaya dia belajar.
Sudah pasti itu doanya.
Anehnya, tak ada lagi rasa kasihan di hatimu. Tapi, kamu tak tahu ini perasaan apa. Jadi, kamu bertanya kepadaku, “Kamu dulu gini juga nggak?”
Senyumku terkulum. Teringat masa-masa ketika aku bersimpuh seperti Harap, mengangkat kedua tangan seperti Harap, berlumuran air mata seperti Harap, mendoakan orang toxic itu seperti Harap, berharap dia menjadi orang baik, berharap dia meminta maaf, berharap semuanya normal kembali. Aku mengangguk sangat sedikit karena terlalu malu mengakui ini.
“Aku bisa relate sama dia, sih,” jawabku, mengarahkan daguku kepada Harap.
“Terus, gimana? Apakah akhirnya doamu terkabulkan? Apakah akhirnya dia berubah?”
Aku menggeleng, masih tersenyum. “Tapi, aku bersyukur, saat itu, doaku nggak langsung dikabulkan. Aku bersyukur dia nggak langsung berubah sesuai yang aku mau.”
“Hah?” Kamu terkejut. “Kenapa gitu?”
“Kamu mau dengar cerita lengkapku?”
Kamu mengangguk, dan beginilah ceritanya.
Dulu, aku juga berdoa tentang dia dan dia.
Tapi, aku kecewa karena Allah tidak pernah menjawab doaku ini.
Tapi, aku tetap ingin percaya bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengabulkan doa.
Berbulan-bulan lamanya aku berdoa, dengan keyakinan yang lebih utuh. Berbagai jenis harap. Mulai dari mengharapkan kebaikan sampai mengharapkan keburukan karena dia sangat mengacaukan hidupku. Tahu hasilnya apa?
Tetap sama, tak pernah ada perubahan, malah kadang memburuk.
Sampai akhirnya, aku capek berdoa.
Aku capek mengangkat kedua tanganku, melantunkan doa yang sama dari hari ke hari.
Sampai kemudian aku bertanya kepada diriku sendiri: Kapan kali terakhir aku berdoa tentang aku? Alih-alih selalu mendoakannya, mengapa aku tidak mendoakan aku — yang lebih butuh didoakan oleh diriku sendiri? Kenapa doaku selalu sibuk tentangnya dan bukan tentangku?
Sejak saat itu, aku lebih memperbanyak doa tentang diriku, mimpi-mimpiku, masa depanku.
Dan, beberapa doaku terkabulkan — tapi, bukan doa tentangnya.
Saat itu barulah aku sadar: mungkin, doaku belum terkabulkan karena aku terlalu menyempitkan doa-doaku. Hanya tentang itu dan itu lagi. Aku butuh memperbanyak doaku. Memvariasikan harapku. Mengajukan semua yang kuinginkan, bahkan sekecil apa pun keinginan itu. Semakin banyak aku berdoa dengan berbagai jenis harapan, semakin sering kulihat harapan-harapanku menjadi nyata.
Meski, seringnya, tak ada hubungan dengan dia.
Dari situlah, aku belajar: mungkin, mungkin saja, kalau doaku saat itu langsung dikabulkan, dan dia langsung berubah seperti yang aku mau, aku mungkin akan merasa nyaman—dan kenyamanan ini berbahaya bagiku.
Karena bukan cuma dia masalahnya. Aku juga bagian dari masalah. Aku yang terlalu butuh validasinya. Aku yang selalu ingin dikuatkan olehnya. Aku yang rela kehilangan diri demi bertahan. Me and my neediness.
Selama dia masih ada di hidupku—bahkan jika dia sudah berubah—aku akan terus jatuh ke pola lama itu. Mencari pengakuan darinya. Mengukur kebahagiaanku dari reaksinya. Lupa bahwa aku juga punya nilai, bahkan tanpa dia.
Bukan berarti aku berharap dia tetap toxic dan manipulatif. Justru aku sangat berharap dia menjadi orang yang lebih baik. Tapi aku sadar aku tak bisa lebih baik kalau aku masih terpaut padanya—toxic atau tidak. Karena, sekali lagi, masalahnya bukan cuma dia. Aku juga bagian dari masalahnya.
Dari situ pula aku belajar beberapa masalah dalam diriku.
Tentang: mengapa aku selalu menomorsatukan dia di hatiku dan segala doaku, tapi tidak pernah belajar menomorsatukan Allah di hatiku?
Selama ini, tujuanku berdoa hanya untuk memperbaiki hubunganku dengan dia. Namun, ketika kita berdoa, tujuan terbesar kita harusnya terletak pada hubungan kita dan Allah. Aku terlalu mementingkan hubunganku dengan dia, melebihi hubunganku dengan Allah. Dan, mungkin, itulah kenapa aku jadi sekacau ini.
Aku meletakkan dia di posisi yang terlalu tinggi dalam doa-doaku.
Tentu, tidak salah ketika kita mendoakan perubahan dan kebaikan padanya. Itu adalah kualitas yang indah nan baik dari seorang manusia yang terus dilukai, tapi tetap sanggup mengharapkan kebaikan dari seseorang yang menyakitinya.
Tapi, kita butuh mengingat lagi: kita sedang berdoa, kita sedang memohon, bukan memaksa Allah.
Doakan dia berubah menjadi orang yang baik—benar-benar manusia yang baik, bukan baik menurut kenyamanan dan keuntungan kita. Lalu, lepaskanlah, biarkanlah dia menemukan jalur baiknya, tak harus bersama kita, tak harus karena kita. Lakukan apa yang harus kamu lakukan: tidak mengejarnya sebegitu kerasnya lagi, tidak mementingkan dia setinggi itu lagi, tidak menjadikan dia sumber bahagiamu, lalu belajar menjaga batas, lalu memperbaiki diri sendiri, fokus kepada diri sendiri. Dan, biarkan Allah melakukan apa yang harusnya Allah lakukan, entah bagaimana cara-Nya, kita percayakan pada-Nya.
Karena dia bukan tanggung jawab kita, tidak pernah menjadi tanggungjawab kita. Kita yang menjadikan itu sebagai tanggung jawab.
Hanya karena kita terlalu takut kesepian lagi.
Kukatakan itu semua kepadamu. Kamu memperhatikanku. Tanpa bantahan maupun pertanyaan. Bahkan, tadi kulihat kamu mengangguk di beberapa bagian.
Lalu, kulihat kamu mengambil langkah, mendekati Harap, memanggilnya, “Hei.”
Harap berbalik dengan lumuran air mata, segera menghapus bekas-bekas itu di pipinya.
Aku kira kamu akan buru-buru menarik lengannya, pergi dari sini.
Tapi, tidak.
Kamu menyentuh kedua bahunya, seperti saudara kembar yang saling menatap.
Lalu, kamu berkata, begitu lembut, begitu bijaksana,
“Terima kasih sudah jadi versi diriku yang selalu berharap. Terima kasih selalu punya hati yang tetap berharap meskipun harapanmu selalu dipatahkan. It hurts, I feel it, too. Tapi, aku boleh minta satu hal?”
“Apa?” Itu kali pertama kudengar Harap mengeluarkan suaranya.
“Daripada sekadar berharap supaya dia berubah, berharap supaya aku juga berubah: berubah nggak lagi menjadikan dia sepenting itu, berubah jadi orang yang nggak sebutuh itu lagi sama manusia, berubah jadi orang yang selalu berusaha menomorsatukan Allah di hati. Daripada sekadar berharap supaya dia jadi orang baik, berharap supaya aku juga jadi orang yang lebih baik. Daripada sekadar berharap supaya dia sadar akan kesalahannya, berharap supaya aku juga sadar akan kesalahanku supaya kita nggak jadi orang toxic yang sama. Oke?”
Harap mengangguk. Lalu, kamu menggenggam kedua tangan Harap. “Kita harus pergi dari sini. Ke wahana berikutnya. Wahana Komedi Putar yang Selalu Mengejarnya.”