5. Sampai Lupa Rasanya Bahagia

Antreannya sepi. Hanya ada aku dan kamu.

Berdiri di depan rel rollercoaster yang meliuk-liuk seperti ular raksasa.

Wahana Rollercoaster Paling Emosional.

Tanjakan yang sangat menukik, turunan yang sangat menusuk. Naiknya sangat tinggi, melampaui awan paling rendah di langit. Turunnya sangat rendah, sampai ke bawah tanah. Di beberapa area, berputar-putar seperti tornado horisontal.

Lalu, rel lurus yang normal. Tepat di hadapan kamu dan aku.

Kita masih menanti rollercoaster ini berhenti.

Kamu memicingkan matamu, mencari di mana rollercoaster itu berada. Oh, sedang turun melandai dengan luarbiasa cepat. Tapi, kamu bingung apakah matamu salah melihat atau bagaimana — kamu mengucek matamu sekali lagi — tapi, aneh, terlihat seperti ada satu orang di rollercoaster, ya? Duduk di kursi paling depan? Sendirian?

Atau, aku salah lihat? gumammu, tapi manusia itu tampak jelas.

Tidak berteriak, tidak bergerak, hanya menggenggam besi pengaman erat-erat dengan tatapan yang terlanjur lelah.

“Itu siapa?”

“Nanti kamu tahu juga, kok.”

Dan, ketika rollercoaster itu berhenti di depan kita, kamu melihat manusia itu.

Matanya adalah matamu. Hidungnya adalah hidungmu.

Dia adalah versi dirimu yang lain, mengenakan baju jingga bertuliskan BAHAGIA.

Ironisnya, dia terlihat seperti orang yang sudah berhenti percaya pada kata itu.

Rollercoaster telah berdenting dua kali. Sebentar lagi ia akan melaju.

“Ayo, kita naik,” panggilku, sambil buru-buru menaiki tangga menuju Wahana Rollercoaster Paling Emosional.

“Kenapa dia nggak turun, sih? Dia kelihatan capek banget.”

Bahkan matanya kosong.

“Makanya, ayo buruan naik. Kita butuh selamatkan dia.”

Kubiarkan kamu naik terlebih dahulu.

Duduk paling depan, di samping versi dirimu bernama bahagia — yang mulai sekarang akan kita sebut Bahagia.

Aku duduk di bangku nomor dua, tepat di belakang Bahagia.

“Kamu kelihatan capek,” ucapmu kepada Bahagia.

Rollercoaster masih berjalan lurus dan pelan.

Bahagia tersenyum. Tapi, itu bukan senyum. Hanya menarik kedua sisi bibirnya. Matanya tak ikut tersenyum. “Hidup emang bikin capek nggak, sih?”

And, that’s when you understood.

Hidup bersama seseorang yang toxic rasanya seperti duduk di bangku rollercoaster ini tanpa pernah berhenti. Kasih sayangnya membuat hatimu melambung tinggi. Namun, keesokan harinya, dia bisa menjatuhkanmu sejatuh-jatunya.

Rollercoaster ini seakan perwujudan dari abusive pattern: dimulai dari tension (naiknya rollercoaster ke puncak), explosion (saat rollercoaster turun dari puncaknya beserta segala jungkir balik dan bantingannya), honeymoon period (saat rollercoaster akhirnya memelan, berhenti, sebelum mulai berjalan lagi).

Persis seperti yang Bahagia rasakan sekarang.

“Kamu harus turun dari sini,” ucapmu pelan.

Rollercoaster mulai bergerak naik. Suara rel berderit-derit di setiap kenaikan. Semakin lama, semakin menukik, melihat ke langit.

“Turun?”

“Iya, turun.”

“Kalau aku turun dari rollercoaster ini — kalau aku pergi dari sini, gimana aku bisa bahagia?”

“Tapi, kenapa mengejar kebahagiaan harus naik-turun kayak gini?”

“Hidup emang kayak gini nggak, sih?”

“Iya, sih,” jawabmu bingung.

Aku menggeleng, tapi kamu dan Bahagia tidak melihatku.

Tidak, hidup harusnya tidak senaik-turun ini. Dan, cinta tak perlu segila ini. Oke, hidup memang membawa ujiannya masing-masing. Cinta punya konsekuensinya. Masalah akan selalu ada. Tapi, ada yang berbeda antara masalah yang membuat kita berkembang dan masalah yang berulang mengerdilkan kita. Menetap bersama orang toxic adalah sejatinya masalah yang terus berulang. Dalam hidup, harusnya kita bisa melaju lebih jauh, fokus pada perkembangan diri—bukan perkembangan dia—, menemukan tujuan hidup, memperhatikan kembali hal-hal kecil dalam hidup yang membuatmu menyesal telah membuang-buang waktu dengannya, kembali mengingat Allah yang sempat terlupakan karena terlalaikan oleh kegilaan ini.

Sayangnya, kamu tidak bisa keluar dari masalah ini karena kamu belum bisa meninggalkannya. Masalahnya juga bukan sekadar meninggalkannya. Karena kalau itu keluargamu sendiri, rasanya nyaris tak mungkin. Kalau pasangan atau teman, kamu takut kesepian. Maka, yang lebih bisa kamu usahakan saat ini adalah melepaskan ketergantungan pada orang toxic ini. Melepaskan keyakinan bahwa bahagiamu, hanya ada padanya.

Tentu, tak akan mudah.

Karena, sejak kamu merasa dia adalah pusat tata suryamu, kamu jadi memaklumi segala jungkirbaliknya, menganggap semua naik-turun ini normal.

Mungkin, mungkin saja, hidup harusnya terasa datar, monoton, dan membosankan. Yang kemudian kamu warnai.

Tapi, kamu terlalu mencintai familiaritas ini. Ke mana pun kamu pergi, kamu akan mencari familiaritas ini. Familiaritas ini adalah normalmu. Itulah mengapa kamu butuh mendefinisikan ulang makna hidup dan bahagia di taman hiburan yang terbengkalai ini. 

Rollercoaster sampai di puncak. Berhenti sejenak. Angin menampar wajahku, wajahmu, dan wajah Bahagia.

“Tapi, aku nggak mau bahagia kalau bahagia harus seperti ini.”

Dan, rollercoaster meluncur, jatuh, melandai supercepat, berputar-putar.

Lalu, meluncur lebih bawah, ke bawah tanah.

Ke air.

Sebelum memasuki air, kamu melihat palang bertuliskan, “Lautan Air Mata”, dan, whoosh, gelembung-gelembung air kecil di sekitarmu, napas gelagapan, mata perih, dada mulai sesak, lalu, whoosh, rollercoaster keluar dari air, semua kuyup.

Naik, turun, berputar, sampai nyaris kering oleh tiupan angin.

Sampai akhirnya, trek lurus. Menuju garis akhir, sekaligus garis mulai. Berhenti. Aku yang turun terlebih dahulu, menanti kalian di sisi rollercoaster.

“Aku nggak mau bahagia kalau bahagia harus seperti ini,” katamu sekali lagi.

Bahagia menatapmu nanar.

“Kita harus turun dari sini.” Kamu menggenggam tangan Bahagia. Kamu berdiri. Menarik lengan Bahagia. Tapi, Bahagia tetap duduk.

“Tapi — ”

“Menurut kamu, worth it apa harus naik-turun segila ini, berulang-ulang, hanya untuk merasakan secuil bahagia dari dia yang ada di puncak sana?”

“Tapi, ke mana lagi kita harus mencari kebahagiaan?”

“Kenapa kamu harus mencari bahagia di dia?”

“Karena dia bikin aku bahagia! Iya, dia ada kurangnya, tapi semua manusia punya kekurangannya, kan? Terlepas dari segala kekurangan dan air mata tengah malam, dia pernah bikin aku bahagia.”

“Tapi, apakah kamu pernah mencari bahagia di tempat lain?”

“Masalahnya, di mana?”

Dan, rollercoaster berdenting satu kali.

“Aku bisa bikin kamu bahagia.”

Dentingan kedua.

“Kenyataannya, kamu nggak pernah bikin aku bahagia.”

Rasanya seperti sesuatu mencubit hatimu.

Iya, kamu tidak pernah membuat dirimu sendiri bahagia.

Seumur hidupmu, kamu berusaha keras bagaimana membahagiakan dia, tapi tak pernah membahagiakan kamu.

Dentingan terakhir.

Rollercoaster mulai bergerak pelan.

Kamu mencengkeram tangan Bahagia lebih erat, menariknya paksa, dan keluar dari rollercoaster ini.

Terjatuh di peron.

Lalu, berdiri.

Dan, untuk kali pertama, Bahagia menyentuh tanah.

Menyentuh kenormalan yang asing.

Mengambil langkah pertamanya.

“Bahagiamu, biar itu jadi tugasku. Bukan tugas dia — yang sekarang malah jadi bisa mengontrol kamu karena kamu sudah memberikan dia kuasa atas bahagianya hari-harimu.”

“Kita mulai dari mana?” tanya Bahagia.

Aku juga nggak tahu, kamu ingin jawab begitu. 

Jadi, kamu mencari jawaban di kedua bola mataku.

Mungkin, mungkin saja, kamu harus belajar terbiasa dengan hidup yang datar, monoton, dan membosankan.

Mungkin, kamu harus belajar berhenti mencari adrenalin baru hanya untuk secuil bahagia yang fatamorgana.

Mungkin, kamu harus belajar mencari bahagia dalam dirimu.

Seperti, kapan kali terakhir kamu tersenyum, tapi bukan karenanya? Apa yang membuatmu tersenyum itu?

Kapan kali terakhir kamu merasakan emosi positif karena hal-hal sederhana yang sama sekali tak ada hubungannya dengannya?

Kapan kali terakhir kamu melakukan hal yang menyenangkan hanya dengan dirimu sendiri?

Kapan kali terakhir kamu berjalan kaki sambil memandangi langit yang luas? Kapan kali terakhir kamu membaca buku di hari libur yang mendung?

Kapan kali terakhir kamu memikirkan betapa singkatnya hidup ini, mau untuk apa, mau dibawa ke mana?

Kapan kali terakhir kamu merasakan puas karena berhasil menggapai apa yang kamu inginkan?

Kapan kali terakhir kamu meletakkan ponselmu di kejauhan, merencanakan masa depanmu, dan mulai membawanya dalam doa di detik yang sama?

Kapan kali terakhir kamu menghabiskan waktu bersama orang-orang yang sungguhan peduli sejak dulu?

Kapan kali terakhir hidupmu terasa seperti hidupmu sendiri?

Kapan kali terakhir kamu tak lagi menyandarkan hidup ini ke makhluk yang lemah dan toxic?

Mungkin, kita butuh melangkah pelan-pelan.

Mungkin, bahagia tak harus menantang adrenalin.

Mungkin, bahagia tak harus datang segera.

Mungkin, bahagia tak perlu terasa seperti terbang tinggi.

Dan, pastinya, bahagia akan berubah menjadi sesuatu yang beracun jika hanya dikerucutkan kepada satu orang yang salah.

“Kita lanjut aja dulu, yuk?” ajakku, kepada kamu dan Bahagia.

“Ke mana?” responsmu dan Bahagia bersamaan, lalu kalian tertawa seperti saudara kembar.

“Kita ke sana — ” telunjukku mengarah ke barat, “ — Labirin Harta Karun.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed