Text
Saat kamu membuka pintu, langkahmu menapaki rerumputan yang basah.
Di padang rumput ini, ada boneka lusuh, bola yang telah mengempes, mainan pesawat yang patah, lukisan yang kamu gambar di masa kecilmu, dan sepeda yang terlalu lelah mengayuh.
Semua bertebaran secara acak.
Dan, langit jingga sempurna.
Sebuah balon gas berwarna merah melayang ke angkasa.
Persis seperti yang tergambar di cover buku ini.
Kamu melangkah pelan, menghirup aroma tanah yang basah selepas hujan, membiarkan angin sore menerpa wajahmu.
Lalu, ada sebuah suara dari belakangmu.
Seperti suara pintu yang klik. Seperti ada yang berusaha membukanya. Seperti ada yang mendorongnya.
Kamu menoleh, menatap pintu ungu itu.
Pintu membuka.
Seorang anak kecil. Sekitar sepuluh tahun. Tersenyum lebar. Berlari.
Lalu, menatapmu.
Takjub.
Mata yang sama, bibir yang sama, hidung yang sama. Seperti kembar yang terpaut usia.
Anak kecil ini adalah dirimu di usia sepuluh tahun. Lalu, dia berjalan ke arahmu, kamu berjalan ke arahnya, lalu kamu berlutut di hadapannya, mensejajarkan tatapanmu dengan tatapannya.
Ingin berbicara banyak, tapi lidah kelu.
Tapi, bibir saling tersenyum.
Lalu, pintu bersuara klik lagi. Terbuka lagi. Dan, dari sana…
… muncullah versi dirimu yang berusia satu tahun, berusaha merangkak ke arahmu. Di belakangnya, berlari cepat dirimu yang berusia dua, tiga, empat, dan lima, saling berkejaran — siapa yang paling cepat sampai kepadamu.
Lalu, keluarlah dirimu yang berusia enam, tujuh, delapan, sembilan, sebelas, dua belas — yang memandang dengan heran dan senyum yang merekah lebar di bibir.
Semua versi remaja dirimu juga bergegas dari belakang dengan tatapan skeptis mereka dan raut wajah yang — ternyata — terlihat sangat muda dan kekanak-kanakan.
Lalu, dirimu versi dua puluhan dengan goresan wajahnya yang terlihat lebih dewasa, lebih stres, lebih takut.
Lalu, dirimu versi tiga puluhan, empat puluhan, lima puluhan yang sudah berkeriput, dan seterusnya.
Semua versi dirimu berkumpul di padang rumput ini.
Mereka semua mendatangimu, memelukmu, melingkarimu.
Menyayangimu.
“Please, perjuangkan mimpi aku, ya,” bisik dirimu versi 16 tahun.
“Usia dua puluhan memang terasa seberguncang itu, kok. But you’ll pass it,” ucap dirimu versi 25 tahun.
“Kamu bakal ngerasa lebih ringan, lebih bebas, lebih muda di usia tiga puluhan — dibandingkan saat usia dua puluhan kemarin,” ujar dirimu versi 32 tahun.
“Hang on. Dan, jangan pernah lupa bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Jangan tinggalin salat lagi. Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang belum berakhir,” kata dirimu versi 41 tahun yang terdengar seperti nasihat orangtua.
Kakimu hangat oleh dekapan diri-diri kecilmu. Tubuhmu hangat oleh dekapan semua versi dirimu.
Kamu tak pernah merasa sedicintai ini.
Well, that’s the thing about growing up.
Semakin dewasa, kamu akan merasa semakin tidak layak dicintai.
Tapi, ingatlah momen ini. Ingatlah pelukan ini. Ingatlah semua versi dirimu ini.
They’re all rooting for you, wholeheartedly.
Sungguh, kamu dicintai.
Saat kamu membenamkan wajahmu dalam dekapan mereka, tiba-tiba…
… seperti sebuah film fantasi, seperti yang sudah-sudah,
ini semua memudar,
semua versi dirimu menjelma udara.
Dan, lihatlah sekelilingmu. Lihatlah sekelilingmu.
Kamu telah kembali ke dunia nyata, menggenggam sebuah buku berjudul ‘sorry my younger self, i can’t make you happy — but i will’.
Tapi, semua yang kita lalui tadi —it’s all surreal and magical and ethereal.