5. Tapi, aku malu, takut, kecewa kalau harus menelan kegagalan lagi

Strategi No. 4 Melawan Overthinking: Hentikan afirmasi positif sejenak, wawancarai dirimu, kenali traumamu.

Jadi, kalau Overthinking berbisik, “Apa kamu nggak malu, takut, kecewa kalau gagal lagi?

Kali ini, kamu nggak butuh langsung berargumen sama Overthinking. Kamu nggak butuh kasih afirmasi positif dulu. Kamu butuh mundur sejenak, duduk bersama perasaanmu, tanpa distraksi, lalu wawancarai dirimu tentang rasa takut ini.

Kalau kamu bingung bagaimana harus mewawancarai dirimu, aku bantu, ya.

Di halaman setelah ini, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan, dan aku ingin kamu benar-benar memikirkan jawabannya, lalu suarakanlah, seolah-olah aku sedang duduk di depanmu, mendengar setiap kata yang kamu akan katakan. Oke?

  1. Apa yang bikin kamu setakut itu sama kegagalan? Semalu itu? Kenapa? Coba cerita.
  2. Adakah seseorang yang kamu khawatirkan jika kamu gagal? Siapa?
  3. Kenapa kamu mengkhawatirkan kepuasan seseorang ini terhadap perjalanan hidupmu?
  4. Apakah kamu adalah seorang anak yang jarang–atau, bahkan, nggak pernah–mendapat apresiasi? Atau, terlalu sering mendapat dukungan–yang jadinya malah membebani?
  5. Apakah kamu sering dibandingkan?
  6. Apakah kamu merasa butuh mencapai sesuatu untuk bisa diterima dan disayangi?

Mungkin, mungkin saja, kamu nggak akan setakut itu sama kegagalan kalau kamu tumbuh di lingkungan yang penuh apresiasi.

Mungkin, mungkin saja, kamu nggak akan setakut itu sama kegagalan kalau orang-orang di sekitarmu mengapresiasi proses sebagaimana mereka mengapresiasi hasil.

Mungkin, mungkin saja, sejak kecil, kamu udah terbiasa dibandingkan, mengira kalau kamu punya pencapaian, kamu akan lebih dibanggakan, diapresiasi, disayang.

Jadi, kamu terus mencari ‘kesuksesan’… bukan untuk diri sendiri… tapi, lebih pada ingin menunjukkan kepada keluarga dan sahabat…

… kalau kamu juga layak diterima dan dihargai.

Belajar lebih giat, berharap mendapat nilai lebih baik. Mengikuti lomba ini-itu, berharap memenangkannya. Lalu, saat kamu berhasil, dianggap angin yang berlalu. Saat kamu gagal, juga dianggap angin yang berlalu.

Memikirkan masa depan, merancang mimpi, and feel so excited about your dreams, perlahan memperjuangkannya. Lalu, saat kamu cerita, mereka bilang, “Ngapain ngejar gituan, mending jadi yang lain.”

Bahkan, usahamu memperjuangkan sesuatu nggak diapresiasi, padahal kamu bisa jadi anak yang malas yang nggak memperjuangkan apa pun–but you don’t, but, still, they don’t see it.

Bahkan, mimpimu nggak didukung, padahal kamu bisa jadi seseorang tanpa mimpi, hidup begitu aja, nongkrong haha-hihi–but you don’t, but, still, they don’t see it.

Please hold this book tighter, karena aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan, dan aku belajar beberapa hal:

Orang-orang yang nggak pernah mengapresiasi kamu sejak awal cerita, nggak akan pernah mengapresiasi kamu di akhir cerita.

Orang-orang yang nggak pernah membuatmu merasa cukup sama dirimu sendiri sejak awal cerita, nggak akan pernah membuatmu merasa cukup di akhir cerita.

Bahkan, kalau kamu sudah jadi pengusaha paling sukses di kotamu–kalau mereka nggak pernah memberi apresiasi–you’ll simply never get that.

So, please, pretty please, stop waiting for their appreciation.

Dan, aku paham banget beratnya berada di lingkungan yang selalu membuatmu merasa nggak cukup sama diri sendiri, dan itu membuat monster bernama ‘Overthinking’ tumbuh semakin besar, tapi…

Mereka yang nggak pernah memberimu apresiasi, bukan berarti mereka orang jahat. Dan, mereka yang terlalu sering memberi dukungan, bukan berarti sedang membebanimu.

Mungkin, mungkin saja, di kehidupan sebelum kamu, mereka juga nggak pernah diapreasiasi dan didukung secara sehat. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa memberi apresiasi secara sehat kalau, sepanjang hidup mereka, mereka nggak pernah tahu rasanya diapresiasi?

Maka dari itu…

Bukan orang lain, bukan siapa pun, tapi kamu yang harus jadi orang pertama yang mengapresiasi dirimu sendiri.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed