Text
Strategi No. 5 Melawan Monster Overthinking: Tantang Overthinking, bungkam dia, buat dia merasa bersalah dan nggak penting. Lalu, beri ketegasan untuk dirimu.
Jadi, kalau Overthinking bilang,
“Gimana kalau kamu ternyata nggak jadi apa-apa di masa depan?”
You talk to yourself…
“Terus kamu maunya apa? Mau rebahan aja sambil scrolling media sosial terus? Berhenti berjuang karena takut nggak bakal jadi apa-apa? Takut sia-sia? Takut capek? Terus kamu maunya gimana?”
“Nggak ada kenyamanan sejati yang didapat dari hal-hal yang nyaman. Kenyamanan sejati didapat dari hal-hal yang bikin nggak nyaman.”
“Rebahan terus sambil scrolling media sosial, itu bikin nyaman, kan? Sedangkan memperjuangkan mimpi, itu penuh risiko: luka dari kekecewaan, rasa malu dari kegagalan, lelah harus mengayuhkan usaha yang nggak kunjung keliatan hasilnya.”
“Tapi, mana yang lebih menjanjikan kenyamanan secara jangka panjang? Rebahan terus yang jelas nyamannya keliatan? Atau, terus berjuang yang kelihatannya nggak nyaman?”
“Memang, berjuang akan menyakitkan dan melelahkan, but you are what you’re doing.“
Setelah kamu memberi sedikit tamparan buat dirimu, it’s time to be gentle with yourself…
“Aku nggak butuh kesuksesan yang megah untuk jadi apa-apa.”
“Aku nggak butuh ‘title’ untuk jadi apa-apa.”
“Aku nggak butuh menyenangkan semua orang untuk jadi apa-apa.”
“I am what I am doing. Definisi diriku terletak pada apa yang aku lakukan dan perjuangkan.”
“Aku bisa menjadi seseorang yang berusaha keras untuk tidak membiarkan kucing jalanan yang ada di dekatku kelaparan. Aku bisa menjadi seseorang yang selalu menyisakan sedikit makananku untuk hewan yang kelaparan. Aku bisa menjadi seseorang yang membeli sedikit makanan kucing, membawanya di kendaraanku, dan memberikannya saat melihat kucing. And, no one will know, but Allah knows, and that’s more than enough.“
“Aku bisa jadi seseorang yang berusaha bangkit dari tempat tidur meski harus menghadapi hari yang berat. Tapi, aku tetap bangun, aku tetap membersihkan diriku dan ruanganku, aku mencoba lagi, karena aku ingin menjadi inspirasi untuk diriku sendiri, dan aku ingin memperjuangkan diriku sendiri untuk tetap hidup. And, no one will know, but Allah knows, and that’s more than enough.“
“Aku bisa jadi seseorang yang belajar menghargai hidup–sekeras apa pun kehidupan memperlakukanku. Saat musibah menimpaku, aku mungkin akan menangis, ketakutan, kecewa. Namun, di sela-sela itu, aku bisa jadi seseorang yang mengadu kepada Allah, berusaha memikirkan hikmah dari semua ini, mensyukurinya, sembari memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, dan tetap berusaha menjadi hamba yang lebih baik. And, no one will appreciate, but Allah is the Most Appreciative, and that’s more than enough.“