29. Gimana kalau aku nggak pernah bisa lupain dia?

Strategi N0. 11 Melawan Overthinking: Akui saja kekalahanmu. Biarkan Overthinking merasa menang sejenak. Ikuti alurnya… in a manipulative way.

Jadi, saat perpisahan sudah terasa makin dekat, dan Overthinking berkata,

Gimana kalau aku nggak bisa lupain dia?

Udah, ngalah aja, and say it back

“Iya, mungkin, aku nggak akan bisa lupa dia. Tapi, aku juga nggak harus lupa.”

“Aku malah butuh ingat. Ingat rasa sakitnya. Ingat rasa kecewanya. Ingat perlakuan buruk itu. Bukan untuk menyimpan dendam. Tapi, supaya aku tahu apa yang aku nggak inginkan dalam suatu hubungan. Supaya aku belajar bahwa aku nggak bisa mengubah dirinya dengan tetap bertahan dengannya, tapi malah melukai diriku. Supaya aku belajar tentang menjaga batas. Supaya aku belajar untuk nggak menumpahkan cinta seberlebihan itu lagi, yang membuat diriku merasa kecil dan sepi. Dan, supaya aku belajar untuk nggak lagi mencintai manusia melebihi mencintai Allah.”

“Memang, aku merasa aku butuh lupa. Karena mengingatnya sangat menyakitkan. Tapi, kalau aku lupakan begitu saja, mungkin aku akan terjatuh lagi di hal yang sama, tapi dengan orang yang berbeda.”

“Dan, kalau memang aku nggak bisa melupakan dia dan semua memorinya, aku butuh berhenti membuka Instagram hanya untuk mencari namanya. Melihat Stories terbarunya, mengecek postingan terbarunya, membaca tiap caption detail.”

“Kalau memang aku nggak bisa melupakan dia dan semua memorinya, aku butuh berhenti berharap dia akan mengucapkan semua jenis kata maaf, berjanji memperbaiki semuanya, lalu kembali kepadamu.”

“Kalau memang aku nggak bisa melupakan dia dan semua memorinya, aku butuh berhenti menanti seseorang akan menggantikan posisinya. I need to do something for myself, bukannya menanti orang lain yang melakukannya untukku.”

“Kalau memang aku nggak bisa melupakan dia dan semua yang menyakitkan, I don’t have to forget. Karena akan makin menyakitkan, jika aku memaksakan sesuatu yang nggak mungkin untuk seorang manusia yang normal: melupakan sesuatu yang pernah terjadi.”

“Namun, aku nggak boleh memendam ini sendirian. Aku harus mengingat lagi apa yang menyakitiku kemarin, lalu menceritakannya kepada orang-orang yang terpercaya. But, most of all, aku harus cerita kepada Allah dulu, yang nggak akan membuatku merasa malu ketika cerita kepada-Nya, yang nggak akan membuatku terluka lagi ketika berusaha jadi orang yang terbuka kepada-Nya. After that, I need to ask for help.

“Tapi, aku membaca buku ini juga jadi bentuk mencari pertolongan untuk menyelamatkan diriku sendiri. And, I think I need to congratulate myself for that.

“So, I can’t forget. And, I won’t forget. But I will learn from that.”

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed