Aku punya empat pertanyaan. Kamu jawab jujur, ya.
- Misal, ada orangtua yang ingin anaknya jadi kaya raya dan sukses banget. Itu boleh nggak, sih?
- Boleh nggak, sih, orangtua berharap anaknya sukses banget dan kaya raya, dan kalau nggak kesampaian itu akan mengecewakan orangtua? Dan, itu akan bikin orangtua jadi sedih? Dan, mungkin kurang sayang? Boleh nggak kayak gini?
- Apakah seorang anak harus memenuhi ekspektasi keluarganya? Jadi, boleh dong orangtua terus menuntut anaknya menjadi sesuatu yang anaknya nggak mau atau nggak mampu setelah dicoba?
- Apakah anak berkewajiban memenuhi ekspektasi orangtuanya? Ataukah anak berkewajiban berbakti kepada orangtua? Apakah menuruti ekspektasi adalah bentuk berbakti?
Sekarang, giliran aku yang jawab. Kira-kira jawaban kita sama nggak, ya?
- Boleh, boleh aja nggak, sih? Kan, nggak ada yang salah berharap.
- Terdengar salah nggak, sih? Kayak, orangtua juga butuh memahami bahwa nggak semua cita-cita terpendamnya harus dicapai sang anak. Orangtua juga butuh mengerti bahwa takdir setiap anak nggak harus sama. Orangtua juga butuh menyadari bahwa kesuksesan punya banyak warna dan nggak bisa sekadar didefinisikan dari title dan nominal uang yang didapat sang anak. Orangtua juga butuh belajar bahwa satu mimpi yang nggak berhasil, bukan berarti anak nggak punya kesempatan di mimpi yang lain. Orangtua butuh mengingat lagi apa hak dan kewajiban seorang anak–gagal itu di luar kehendak anak, nggak ada anak yang pengin gagal.
- Nope. Dan, nggak semua ekspektasi orangtua terhadap anaknya pasti sesuai sama takdir, sesuai sama kemauan dan kemampuan anak. Tapi, ini bukan kesempatan untuk menyerah saja dan menyalahkan orangtua, tapi memaklumi mereka.
Karena, mungkin, saat mereka di usia kita, mereka dibandingkan, direndahkan, dituntut untuk menjadi sesuatu yang mereka nggak mampu, lalu orang-orang jadi kurang respek sama mereka–jadi, mereka nggak mau hal yang sama terjadi di kamu. They want you to be something that they’re not. Mereka ingin kamu jadi manusia yang lebih baik dan sukses dari mereka.
Makanya, terlihat seperti banyak tuntutan dari mereka–karena mereka ingin kamu bisa diterima dan dipandang. Tapi, kita juga nggak bisa membenarkan cara mereka jika itu terlalu memaksakan kehendak dan penuh tuntutan yang membuat kita merasa nggak cukup sebagai anak.
But just a reminder: orangtua kita juga baru pertama kali hidup. Pertama kali jadi remaja, jadi dewasa, jadi orangtua, jadi manusia.
- Tugas kita bukan memenuhi semua ekspektasi orangtua, tapi berusaha berbakti kepada mereka.
Berkata dengan lemah lembut, meringankan urusan mereka, berbuat baik kepada mereka. Tapi…, kalau kamu mau memenuhi harapan kedua orangtuamu, berharap itu bisa membuat mereka senang, tentu, itu sangat baik, dan aku nggak pernah melihat orang yang sengsara karena berusaha mendahulukan orangtuanya.
Tapi, kalau kamu belum berhasil membanggakan mereka dengan cara mereka, kamu masih bisa membanggakan mereka dengan caramu, kamu masih bisa membanggakan mereka dengan cara Allah.
Dengan menjadi anak yang berbakti, semampu kita.
Karena…
… bagaimana kita bisa mengajarkan anak kita nanti, menjadi anak yang baik kalau kita nggak pernah belajar jadi anak yang baik?