Text
Pikiranmu seperti New York–kota yang tak pernah tidur.
Dan, kamu nggak bisa meredam keberisikan dari kota yang nggak pernah tidur.
Tapi, kamu bisa bikin lebih meriah. Sampai-sampai keberisikan itu terdistraksi oleh sesuatu yang lain. Seperti New York dengan tikus-tikus yang tersebar di seluruh kota, kehidupan yang mahal, dingin yang menusuk tulang, panas yang lembap, tapi itu semua terdistraksi oleh gemperlap bangunan-bangunan tinggi, city lights, papan iklan raksasa, berwarna, dan bersinar.
Maksudku gini…
Anggap aja Overthinking sebagai tikus-tikus yang tersebar di seluruh kota. Kadang, kamu nggak punya kemampuan membasmi itu semua.
Maka, buatlah suatu kemeriahan baru dalam kepalamu.
Caranya? Journaling dan visualisasi.
Anyway, aku sedikit cerita, ya…
Jadi, aku tuh sering banget overthinking. Kayak, ada aja yang ditakutin.
Salah satu cara berdamai dengan Overthinking, kan, kita butuh tahu akarnya.
Masalahnya, aku nggak tahu akarnya.
Mungkin, it’s in my DNA. Mungkin, pola asuh. Mungkin, trauma masa lalu. Jadi, dulu, aku pernah terjebak di sebuah kerusuhan yang terasa seperti perang, dan usiaku baru tujuh, dan aku harus mendengar ledakan bom dari rumah, berita tentang kepala dipenggal, anak-anak diculik, pengungsian, penyerangan dari kubu sebelah.
Usiaku baru tujuh tahun, dan kerusuhan itu terjadi di hari yang tadinya baik-baik saja.
Lalu, dalam hitungan jam, semua berubah.
Jadi, aku gampang banget overthinking. Bahkan pada hal-hal sepele. Apalagi hal-hal yang menyangkut masa depan dan orang-orang.
Namun, akhir-akhir ini, masyaallah, alhamdulillah, Overthinking itu udah jarang datang. Masih, tapi jarang.
Caranya? Semua strategi yang aku sampaikan di chapter-chapter sebelumnya. Dan, satu lagi: journaling dan visualisasi, and bring it into your prayer.
Maksudnya gimana?
Penyebab lain Overthinking hadir: kita membiarkan pikiran kita lengang.
Cara supaya pikiran kita nggak lengang: sibukkan dengan journaling dan visualisasi. Caranya journaling dan visualisasi gimana?
Sebenarnya, bebas, terserah kamu. Write what you wanna write.
Tapi, kalau kamu bingung harus mulai dari mana…
Coba mulai dari bikin list 10 mimpi yang kamu ingin capai. Tapi, harus spesifik, ya.
Dan, nggak harus sepuluh, sih. Terserah, sebanyak yang kamu mau juga boleh. Asal spesifik.
Contoh, kamu pengin bisa menyentuh salju untuk kali pertama? Cool, cari foto turunnya salju dari langit di Google, cetak, tempel di jurnalmu.
Kamu ingin menyaksikan aurora dengan mata telanjang? Great, cari foto aurora di Google, cetak, tempel di jurnalmu.
Kamu ingin berangkat haji dan umrah bareng keluarga? Go for it, cari foto tentang ini, cetak, tempel di jurnalmu.
Lalu, kamu tuliskan juga sedikit tentang mengapa kamu ingin meraih mimpi-mimpi itu.
See, pikiranmu jadi sibuk mikirin hal lain. Karena kamu mengisinya, nggak membiarkannya lengang begitu saja. Dan, pikiranmu jadi penuh dengan visualisasi yang telah kamu selipkan di jurnalmu.
Setelah itu? Bebas. Tapi, kamu bisa sortir dari yang kamu pengin banget sampai yang kamu pengin aja.
Lalu, mimpi-mimpi yang menduduki posisi lima teratas, tulis itu di post it, lalu tempelkan di dinding kamarmu. So, you always remember what you want. Jadi, pikiranmu selalu ingat mimpi-mimpi, menyisakan sedikit ruang untuk Overthinking.
Tapi, jangan berhenti di situ.
Kamu juga harus bikin Daily Goal. Prestasi-prestasi kecil yang harus kamu raih setiap harinya.
Nggak perlu banyak-banyak bikin Daily Goal. Cukup tiga sampai lima Daily Goal setiap hari. Dan, nggak perlu diubah-ubah. Setiap hari kamu fokus mengerjakan hal-hal ini.
Contoh, salah satu mimpi terebesarmu adalah menjadi pengusaha sukses. Jadi, Daily Goal-nya kurang-lebih begini:
[Dan, bagi kita yang Muslim, jangan lupa Daily Goal seperti: berhasil salat lima waktu tepat waktu, membaca Al-Quran, lalu mentadabburinya, menuntut ilmu agama.]
Lalu, bring it to your prayer every day. Bawa ke dalam doa. Hanya kepada Allah, Tuhan yang menciptakan aku dan kamu, Tuhan yang Maha Mengabulkan doa. Agar Allah memudahkanmu menjalani ini semua.
Lalu, fokuslah menggapai mimpi-mimpi ini setiap harinya. Jadi, pikiranmu nyaris nggak punya ruang untuk menghadirkan Overthinking.
Jangan lupakan juga Gratitude Journal–tuliskan hal-hal yang udah kamu syukuri dalam hidupmu, doa-doa yang sudah Allah kabulkan.
Sebagai seseorang yang sering overthinking, aku juga melakukan ini, kok. And, it helps a lot. Meski nggak selalu berhasil setiap harinya, tapi aku selalu tahu apa yang harus aku lakukan di keesokan hari, dan itu sangat meredakan suara bising di kepala.
Masyaallah.