4. karena sahabatku nggak menganggapku sebagai sahabat

“Aku kira kita sahabat,
tapi aku cuma teman biasa baginya.”

Kamu ngerasa kayak gitu, ya?

Menurutku, kamu sama sekali nggak ‘terlalu sensitif’ untuk merasakan sakit hati.

Memang sesakit itu, sih.

Seperti kamu melompat menuju suatu kolam untuk berenang…, tapi airnya nggak ada.

Padahal, dari pandanganmu, air menggenang.

Tapi, kamu melompat menuju kolam dengan tanah yang keras. And, it was just your tears and your loneliness thinking they’re your best friends.

Sebenarnya, aku malu bilang ini, tapi karena kamu adalah temanku, aku percaya cerita sama kamu.

Aku pernah ngerasain apa yang kamu rasain itu. Saat itu, aku terlalu muda, terlalu naif dalam melihat persahabatan.

Aku melabeli teman-temanku dengan stempel yang kubuat sendiri.

Stempel ‘sahabat’. Stempel ‘teman dekat’. Stempel ‘teman biasa’. Stempel ‘cuma kenal’.

Kamu juga gitu, kan? Kayak…

Orang-orang dengan stempel ‘sahabat’ adalah mereka yang sangat kamu percaya, yang tahu cerita-cerita terdalammu, dan kamu tahu mereka selalu ada saat kamu butuh, harusnya begitu.

Orang-orang dengan stempel ‘teman dekat’ adalah mereka yang kamu sering nongkrong bareng, bisa diajak bercanda tanpa merasa tersinggung, curhat tipis-tipis, but they don’t really know your deepest struggle.

Orang-orang dengan stempel ‘teman biasa’ adalah mereka yang kamu kenal dengan baik, tapi nggak sampai yang akrab banget, kayak nggak sefrekuensi aja.

Setiap orang dalam hidupmu, secara nggak kamu sadari, mendapat salah satu dari keempat stempel itu. Benar?

Aku rasa… ini salah satu faktor yang bikin kita kesepian.

Kita terlalu melabeli teman-teman kita, mendefinisikan label-label itu sesuka kita, berekspektasi sama definisi yang kita bikin sendiri.

Kalau sahabat tuh harus begini-begitu. Teman dekat tuh yang bla, bla bla.

I made that mistake. I stamped everyone, made my own expectation.

Lalu, apa yang aku lakukan setelah itu?

Aku harus merasakan rasa sakitnya ditolak. Aku harus menyelami lautan kesepian untuk menyadari bahwa…

Aku harus melepas stempel-stempel itu untuk menetralisir ekspektasiku.

Dan, itu yang kulakukan. Melepas stempel-stempel itu.

Nggak lagi berekspektasi sahabat-sahabatku akan ada di saat aku benar-benar butuh.

Nggak lagi berharap teman-teman akan menghubungiku, mengajakku ke suatu tempat.

Aku berusaha melepas stempel ‘sahabat’, ‘teman dekat’, ‘teman biasa’, menetralisir definisi dan ekspektasi di balik label itu.

And it hurts. Rasanya kayak nggak punya siapa-siapa.

Sampai tiba suatu masa:

Dalam kamus hidupku,
nggak ada lagi sahabat,
nggak ada lagi teman dekat,
nggak ada lagi teman biasa,
semua sama aja.

A friend is just a friend.

Aku akan memperlakukan semua dengan adil. Nggak ada yang mau aku anggap ‘akrab’ atau ‘nggak akrab’.

Semua teman sama aja. Nggak ada yang terlalu dekat, nggak ada yang terlalu jauh.

Awalnya, ini terasa kesepian. Tapi, tugas kita nggak bisa berhenti di sekadar ‘melepaskan stempel’.

Kita juga harus berbuat baik sama semua, semampu kita.

Mungkin, dulu, kita rela habis-habisan untuk orang-orang berlabel ‘sahabat’. Mungkin, karena kita sekesepian itu dan takut ditinggal, lalu merasa kesepian lagi. Tapi, pada saat yang sama, kita juga melupakan teman-teman lain yang sebenarnya sama-sama baik.

Sekarang, waktunya baik sama semua, nggak peduli apa labelnya. Mau rela berkorban sama orang-orang baik, nggak peduli apa labelnya. Mau membantu orang-orang baik, nggak peduli apa labelnya.

Kita nggak akan pernah tahu
siapa sebenarnya sahabat yang sungguhan sahabat.

Kita nggak akan pernah tahu
siapa yang akan benar-benar bantu kita
di hari-hari terpuruk.

Bisa aja orang-orang yang berstempel ‘teman-teman biasa’. Bisa aja orang-orang berlabel ‘just a stranger’.

Kita nggak pernah tahu. Jadi, baik sama semua. Semua teman adalah teman yang perlu kita perlakukan dengan baik.

Tapi…

Apa yang aku ceritakan adalah kisah beberapa tahun lalu. Setelah menjalani hari-hari tanpa melabeli siapa pun, aku sadar…

Stempel itu nggak pernah bisa benar-benar pergi. Kita akan selalu lebih akrab sama orang-orang tertentu. Dan, normalnya emang begitu. Nggak usah dipaksa ‘nggak mau akrab sama siapa-siapa’. Hati kita selalu punya kecondongan.

Tapi, di balik stempel itu, udah nggak ada lagi definisi tertentu sesuai maunya kita. Di balik stempel itu, nggak ada lagi perbedaan perlakuan — semua teman berhak diperlakukan sebaik-baiknya, semampu kita.

Dan, kamu…

Mungkin, kamu bukan orang yang aku kenal secara mendalam, tapi kamu juga teman yang berhak diperlakukan sebaik-baiknya, semampu aku.

And, that’s why I wrote this book for you. 🙂

Once again…,

yang salah bukanlah pelabelan ‘sahabat’, ‘teman dekat’, ‘teman biasa’, melainkan:

ekspektasi kita di balik label-label itu.

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed