Text
Kita pernah membangun perahu layar yang sama.
Berjuang dari bawah. Dari tumpukan kayu bekas. Lalu, pelan tapi pasti, jadilah sebuah perahu sederhana.
Kita berlayar bersama perahu itu. Berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Meski ombak menerjang dan badai menghadang.
Tetapi, awan mendung sudah menggulung di ujung barat, dan ke sanalah angin mengarahkan kita. Dan, ombak… mulai tak biasa.
Kita memandang sekitar, dan ombak menukik seperti ribuan bukit kecil, menggoyangkan perahu sederhana kita.
Kita mengayuh perahu ini bersama. Berusaha kembali ke daratan sebelum ombak besar menghantam perahu kita.
Dan, kita kepayahan, kelelahan dalam berjuang, seringkali berargumen karena aku yang mungkin terlalu lambat dalam mengayuh, atau kamu yang seringkali bodo amat dalam keadaan krisis ini.
Tetapi, kita sama-sama mengayuh.
Dan, di tengah-tengah kepayahan ini, kita sama-sama melihat sebuah kapal menghampiri.
Dan, saat kapal itu tiba di sisi kita, sang nahkoda hanya bisa menolong satu orang.
Dan, aku kira kita akan sama-sama menanti pertolongan lain sampai kita sama-sama terselamatkan.
Tetapi, tidak.
Momen saat kita kepayahan…, you just left so easily.
Dan, kamu…
Menumpahkan amarahmu. Meneriakkan berbagai kesalahanku. Lalu, kamu mengangkat langkahmu… menuju kapal baru itu… bersama teman-teman baru.
Yang mungkin lebih menyenangkan dariku. Yang jelas lebih menjanjikan daripada perahu sederhana ini.
Kamu…, meninggalkan jejakmu dari perahu yang pernah kita bangun bersama. Berlayar dengan kapal baru dan teman-teman baru. Dan, saat kulihat kapal barumu pergi menjauh, meninggalkanku sendirian, tanpa menoleh sedikit pun, aku teringat janji-janji untuk tidak saling meninggalkan…,
yang kamu khianati.
Jadi, aku mengayuh perahu ini… menangis sendirian.
Berharap pertolongan segera datang.
Tidak habis pikir atas apa yang baru saja kamu lakukan.
Diam-diam bertanya banyak hal…
Jika aku di posisimu, mungkinkah aku melakukan hal yang sama?
Jika aku yang egois, mungkinkah aku yang lebih terselamatkan?
Haruskah aku berlaku egois seperti keegoisanmu demi menyelamatkan hatiku?
Mengapa manusia bisa sejahat itu?
*
Tahun-tahun suram telah berlalu. Aku masih mengayuh perahu ini sendirian. Tak tahu kapan sampai daratan. Tak tahu kapan aku bisa sembuh.
Tetapi, aku sudah menemukan sedikit jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul setelah kamu mengkhianatiku.
Jika aku di posisimu, mungkinkah aku melakukan hal yang sama?
Bisa jadi. Aku juga bukan orang paling bersih. Aku tak selalu jadi protagonis dalam ceritaku. Mungkin, aku berpikir aku yang baik…, but what about the others? I could do the same thing, but it’s not the right thing to do.
Jika aku yang egois, mungkinkah aku yang lebih terselamatkan?
Bisa jadi. Tetapi, keegoisan bukanlah pilihan yang tepat. Orang-orang boleh pergi dari hidupmu, kamu boleh pergi dari hidup seseorang, tetapi lakukan dengan cara yang baik dan benar.
Haruskah aku berlaku egois seperti keegoisanmu demi menyelamatkan hatiku?
No. Kamu bisa menyelamatkan hatimu tanpa harus jadi egois, kok.
Mengapa manusia bisa sejahat itu?
Pertanyaan ini… menusukku. Aku pikir semua orang yang meninggalkanku jahat kepadaku, tetapi…
Ya, manusia memang bisa sejahat itu.
Termasuk aku.
Terhadap diriku sendiri.
[]