3. Aku Ingin Jadi Egois

Orang-orang selalu bertindak semaunya, dan aku selalu berusaha keras menjaga hati mereka.

Mereka merasa baik-baik saja: bertatap muka dengan wajah tak sedap dipandang, tak membalas senyum seorang teman, berbicara dengan nada ketus, “Sori, lagi bad mood.”

Dan, aku selalu mencoba memahami itu.

Oke, mereka mungkin butuh waktu. Oke, mereka mungkin lagi ada masalah. Oke, mereka mungkin…

Ugh. Aku selalu bilang diriku tak boleh seperti itu. Tetapi, mereka juga seharusnya nggak begitu. Aku berusaha menjaga hati mereka. Mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama?

Jadi, besok, izinkan aku menjadi egois. Sehari saja. Supaya kamu tahu rasanya jadi diriku.

Oh, sori, aku tidak butuh izin. Seperti kalian yang tak pernah butuh izin. Tahu-tahu bad mood tanpa alasan. Uring-uringan tanpa sebab. Memperlakukanku seakan aku adalah manusia tanpa rasa sedih.

Besok, aku akan egois.

Aku akan melakukan apa saja yang hanya menguntungkanku. Bodo amat dengan keberadaanmu saat sedang tak enak hati. Aku akan mengatakan apa yang kumau, yang melegakan hatiku, tanpa peduli perasaanmu.

Seperti yang biasa kamu lakukan di hari-hari burukmu.

Aku ingin egois. Sehari saja.

Namun, suatu ketika, saat aku melangkah pulang, kulihat sebuah palang di ujung gang, tanda ada seseorang yang meninggal.

Dan, itu membuatku bertanya…,

“Bagaimana bila besok, di hari egois pertamaku, malah jadi hari terakhirku? Bukankah akan jadi akhir yang buruk?”

Kala itu, aku berpikir lama sekali…

Aku ingin egois. Tetapi, aku takut besok jadi hari terakhirku.

Aku ingin egois. Supaya mereka tahu rasanya diabaikan begitu.

Aku ingin egois. Karena aku lelah menjaga hati orang-orang yang tak menjaga hatiku.

Aku ingin egois, tapi…

… bagaimana jika besok jadi hari terakhirku?

Sebelumnya
Selanjutnya
error: Not Allowed