Text
Aku nggak pernah menunjukkan wajahku di media sosial, tetapi aku memiliki orang-orang yang tetap mau mendengar apa yang aku katakan.
Mereka setia membaca tulisanku. Mendukungku. Mengapresiasiku. Tumbuh bersamaku. Bahkan, membeli buku ini.
Apakah kamu membeli buku ini karena fisikku?
Not at all. You don’t even know my face.
See, dari hal sederhana ini saja sudah membuktikan kalau good-looking bukan segalanya.
Maksudku…, ketika kamu mau beli buku ini, kamu nggak harus tahu bagaimana wajahku, kan? Ketika membaca tulisanku di media sosial, kamu nggak perlu tahu wajahku untuk meresapi maknanya, kan? Apakah aku harus tampan agar tulisanku ditemukan di media sosial?
Kan, nggak.
Sejujurnya, aku nggak tahu apakah aku good-looking, tetapi aku yakin, seyakin-yakinnya, selalu ada orang yang menganggapku jelek — and that’s okay.
Tetapi, penampilan fisikku nggak pernah menjadi hambatan bagiku untuk mengejar mimpi-mimpiku.
Aku bisa jadi penulis seperti ini… tanpa harus menunjukkan bagaimana rupaku.
Aku bisa mendapatkan pekerjaan impianku, berulang kali mengunjungi negara yang kudambakan… tanpa harus jadi good-looking. (P.S. I’m not even rich, to begin with.)
Aku bisa menemukan koneksi yang nggak pernah kusangka… tanpa harus jadi good-looking.
Aku bisa memiliki teman-teman yang baik… tanpa harus jadi good-looking.
Masyaallah. Itu semua terjadi atas kehendak Allah semata.
Namun, jelas, aku bukan satu-satunya pembukti teori ini. Di luar sana, ada yang lebih luar biasa lagi… tanpa harus jadi good-looking.
Dan, kamu…, jika kamu berusaha sungguh-sungguh untuk hal baik yang kamu kejar, penampilan fisik nggak akan jadi hambatan. Insyaallah .
Tetapi, beneran, deh.
Good-looking bukan segalanya.
Kalau good-looking memang segalanya,
lantas mengapa harus ada
penuaan; rambut memutih serta wajah mengeriput?